Bersama Yul OYEE Vlogger Kuansing yang juga sebagai Panpel Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026
Menyingkap Roh Pacu Jalur: Ketika "Skala Nasional" Tak Harus Berarti "Atlet Profesional"
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.M.Pd
(Panitia Pelaksana Ketua Bidang Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026)
KUANTAN SINGINGI — Ayun dayung yang membelah riak Sungai Kuantan bukan sekadar unjuk kekuatan fisik atau perebutan gelar juara semata. Di balik percikan air dan teriakan membakar semangat dari para Anak Pacu, terdapat denyut tradisi yang telah mengakar dalam sanubari masyarakat Riau selama berabad-abad.
Namun, belakangan ini kerap terdengar wacana di ruang publik: “Namanya event nasional, wajar kalau diikuti oleh atlet profesional tingkat nasional.”
Sekilas, anggapan tersebut tampak wajar. Namun, jika ditarik ke dalam riak sejarah dan hakikat kebudayaan, premis tersebut sesungguhnya menyederhanakan makna yang amat mendalam. Ada kekeliruan mendasar saat kita menyamakan arena kebudayaan tradisional dengan ajang kompetisi olahraga prestasi modern.
Menakar Makna "Nasional" dalam Karisma Event Nusantara
Untuk memahami kedudukan Pacu Jalur, kita perlu membaca kembali lembaran resminya. Dalam Kalender Pariwisata Indonesia, ajang ini tercantum jelas dengan tajuk “Festival Pacu Jalur Tradisional” di bawah naungan Kharisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Status "Event Nasional" yang disandang Pacu Jalur bukanlah sertifikasi bahwa pesertanya harus diimpor dari kalangan atlet dayung nasional atau kontingen luar provinsi. Predikat tersebut disematkan atas dasar pencapaian, daya pikat, serta dampak kebudayaan yang luar biasa luas:
Pengakuan Resmi Negara: Masuk secara bergengsi dalam jajaran kalender event nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).
Magnet Wisata Lintas Batas: Mampu menyedot perhatian puluhan ribu wisatawan domestik hingga mancanegara untuk menyaksikan keajaiban budaya ini secara langsung.
Pesona Kebudayaan Berkelas Dunia: Memiliki keunikan tradisi dan nilai spiritual yang memikat mata dunia, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Nusantara.
Syiar Media yang Luas: Mendapatkan sorotan media massa nasional baik TV, cetak, maupun digital—sehingga gema kemeriahannya melampaui batas-batas daerah.
Denyut Penggerak Ekonomi Rakyat: Menghidupkan ekosistem ekonomi yang luas, mulai dari UMKM, kuliner khas, penginapan, hingga moda transportasi daerah.
“Nasional itu adalah skalanya, daya jangkau promosi dan dampaknya bukan otomatis mengubah atau menuntut status pesertanya.”
Menjaga Roh Tradisi di Tengah Arus Zaman
Daya pikat utama Pacu Jalur justru terletak pada kearifan lokal, jiwa kegotongroyongan, dan karakter kedaerahan yang dipelihara murni oleh masyarakat pedesaan di sepanjang tepian Kuantan. Dari ritual penerobosan hutan mencari kayu, proses melayur jalur, hingga dentum meriam karbit yang menandai mulainya perlombaan semuanya adalah nafas kehidupan masyarakat lokal.
Menuntut agar Pacu Jalur diisi oleh atlet-atlet profesional luar daerah sama saja dengan mengikis akar sejarah yang membentuknya. Pacu Jalur diciptakan bukan sekadar untuk mencari pemenang berorientasi medali, melainkan untuk melestarikan warisan nenek moyang, mempererat tali silaturahmi, dan merawat kebersamaan.
Penyamaan antara festival budaya lokal dan kompetisi olahraga profesional adalah sebuah kesimpulan yang terlalu sederhana. Yang perlu dipertahankan dan diperjuangkan hari ini adalah bagaimana Pacu Jalur tetap kokoh sebagai tradisi masyarakat dan budaya lokal, namun memiliki daya tawar pariwisata yang bergema hingga ke panggung internasional.
Biarkan jemari anak-anak negeri Kuantan yang memegang kayu kayuh, sementara dunia datang untuk mengagumi keindahannya.
Lestarikan Tradisi, Majukan Pariwisata, Banggakan Indonesia!
