Menundukkan Jiwa di Bawah Langit Kebesaran-Nya
“Jangan sombong, jangan merasa paling hebat, paling kaya, atau paling benar. Ingat, kita semua cuma tanah yang diberi nyawa sebentar, lalu kembali jadi tanah lagi. Yang akan tinggal hanya amal baik, adab, dan jejak kebaikan yang kita tinggalkan untuk orang lain.”
Sepenggal Tanah yang Diberi Nyawa
Di bawah naungan tirai kehidupan yang fana, kerap kali manusia terjebak dalam sangkar ilusi. Ketika harta melimpah, gelar berderet, dan pujian mengalir bak air bah, hati yang rapuh sering kali berbisik enggan menunduk. Kita mendongak ke langit, seolah lupa bahwa bumi yang kita pijak adalah tempat asal sekaligus muara akhir perjalanan kita.
Sesungguhnya, tidak ada yang pantas kita sombongkan di atas muka bumi ini. Kita hanyalah segenggam tanah yang dihembuskan napas kehidupan oleh Sang Maha Pencipta, berkelana sejenak dalam waktu yang amat singkat, untuk kemudian kembali memeluk debu.
Allah SWT mengingatkan kita akan hakikat penciptaan ini dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
(QS. Al-Mu’minun: 12)
Bahaya Bisikan Kesombongan
Kesombongan (kibr) adalah racun halus yang menggerogoti ketulusan jiwa. Ia datang menyamar dalam pelbagai bentuk: merasa paling hebat dalam karya, paling kaya dalam kepemilikan, hingga merasa paling benar dalam beragama dan berpendapat. Padahal, kebenaran mutlak dan kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah SAW memberikan batasan yang amat tegas mengenai hakikat sombong dalam sabdanya:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim No. 91)
Bahkan, sekecil apa pun benih kesombongan yang tersimpan rapi dalam lipatan hati, ia sanggup menutupi jalan menuju kenikmatan surga. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim No. 91)
Warisan Abadi: Amal, Adab, dan Jejak Kebaikan
Suatu hari nanti, tatkala napas terakhir telah dihembuskan dan jasad kembali berkalang tanah, seluruh atribut duniawi akan tanggal. Pangkat tidak lagi melekat, harta tinggal ingatan, dan puji-pujian bertukar menjadi senyap. Lantas, apa yang tersisa dari perjalanan panjang kita di dunia?
Yang tersisa hanyalah amal baik, indahnya adab, serta jejak kebaikan yang bermanfaat bagi sesama. Sebagaimana pesan indah dalam hadits yang amat masyhur:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)
Menunduk seperti Padi, Mengharumkan Bumi
Mari jadikan setiap helai napas kita sebagai ladang untuk menanam ketundukan dan kerendahan hati (tawadhu). Jangan biarkan gemerlap dunia membuat kita menepuk dada, sebab di atas langit masih ada langit, dan di balik semua karunia, ada Sang Maha Pemberi yang sewaktu-waktu dapat mengambilnya kembali.
Tinggalkanlah jejak yang harum. Jadilah pribadi yang jika hadir menenangkan, jika ada memberi manfaat, dan jika pergi meninggalkan rasa rindu akan kebaikan serta keanggunan adabnya.
Ditulis oleh:
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd, C.PS, C.ME, C.QEM, C.TP, C.TCC, C.CCW, C.HTeach
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
13 tahun yang lalu
