Meretas Batas Penilaian, Menemukan Jiwa Pembelajaran: Catatan dari Webinar Serantau BGTK Riau Episode 10
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Peserta Webinar Serantau BGTK Riau)
Menyibak Tirai Penilaian: Saat Angka Tak Lagi Menjadi Penghakim Utama
Lama sudah ruang-ruang kelas kita terbelenggu oleh sebentuk mitos yang mengakar dingin: bahwa di akhir sebuah perjalan belajar, keberhasilan seorang murid hanyalah selembar kertas ujian, sebaris angka, dan tumpukan soal pilihan ganda.
Asesmen sumatif kerap membayangi langkah anak-anak bangsa sebagai sosok “penghakim” yang menakutkan di ujung semester—menentukan lulus atau gagal, pandai atau tertinggal, tanpa sempat mendengarkan ritme tumbuh kembang jiwa mereka.
Namun, pada Selasa sore yang hangat, 11 Agustus 2026, sebuah denyut pemikiran baru digelorakan dari Bumi Lancang Kuning. Melalui ruang virtual Zoom yang dihadiri ratusan pendidik dari berbagai penjuru, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau menggelar Webinar Serantau Episode 10 bertajuk:
“Rekonstruksi Pemahaman Asesmen Sumatif untuk Pembelajaran Bermakna”
Webinar ini tidak sekadar menjadi ajang penyampaian materi teknis, melainkan sebuah ikhtiar kebudayaan dan pedagogis untuk memerdekakan ruang kelas dari belenggu ujian mekanis menuju pembelajaran yang humanis, reflektif, dan berpihak utuh pada peserta didik.
Sinergi untuk Mutu Pendidikan Bumi Lancang Kuning
Acara diawali dengan ketukan semangat yang hangat dari Reisky Bestary, S.Pd., M.Pd., Kepala BGTK Provinsi Riau, yang bertindak sebagai Keynote Speaker. Beliau menegaskan pentingnya kolaborasi dan keberanian para pendidik untuk mendekonstruksi paradigma lama.
Pendidikan di Riau, menurutnya, harus berlayar menuju muara kualitas sejati, di mana setiap anak dirayakan potensi keunikannya.
Dipandu dengan anggun dan taktis oleh moderator Sri Melia, S.Sos., M.Si. (Penelaah Teknis Kebijakan), webinar mengalir jernih menghadirkan narasumber utama, Sesi Suswanti, M.Pd., Widyaiswara BGTK Provinsi Riau.
Dengan lugas namun penuh kedalaman makna, Sesi Suswanti membedah tuntas Panduan Pembelajaran dan Asesmen terbaru, membimbing para guru menatap kembali esensi sejati dari penilaian.
Gagasan Kunci: Merayakan Bukti Belajar, Bukan Sekadar Mengejar Angka
Dalam paparan materi yang komprehensif dan intuitif, ada beberapa pokok pergeseran paradigma (rekonstruksi) yang disampaikan:
1. Dari "Mencari Nilai" Menjadi "Memperoleh Bukti Capaian"
Asesmen sumatif bukan lagi ritual pengumpulan nilai angka semata. Inti terpenting dari sumatif adalah memperoleh bukti autentik sejauh mana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh murid. Nilai akhir hanyalah salah satu bentuk pengolahan, sedangkan esensinya terletak pada bukti belajar.
2. Dekonstruksi Ujian Akhir Semester: Tidak Wajib dan Lebih Fleksibel
Sebuah kejernihan baru dihadirkan: Sumatif tidak sama dengan Ujian Akhir Semester. Jika sepanjang proses pembelajaran data capaian murid sudah memadai dan komprehensif, pendidik tidak harus melakukan tes khusus di akhir semester. Fokus utama adalah kecukupan bukti, bukan formalitas waktu di kalender akademik.
3. Ragam Bentuk yang Autentik dan Holistik
Ruang kelas diajak meninggalkan belenggu soal pilihan ganda atau isian singkat sebagai satu-satunya tolok ukur. Asesmen sumatif kini mekar dalam pelbagai wujud yang hidup:
Projek Tematik: Murid merancang solusi nyata atas tantangan di kehidupan sekitar.
Portofolio: Kumpulan jejak karya terbaik yang merekam grafik tumbuh kembang anak.
Studi Kasus & Presentasi Interdisipliner: Menguji kedalaman nalar, kemampuan berargumentasi, serta kolaborasi.
4. Kriteria Ketercapaian sebagai Kompas Utama
Asesmen yang bermakna tidak dimulai dari membuat soal, melainkan dari memahami kompetensi yang ingin dituju dan menetapkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
KKTP inilah yang menjadi kompas penunjuk jalan, memastikan bahwa instrumen penilaian dirancang tepat sasaran dan adil bagi peserta didik.
5. Memisahkan Formatif dan Sumatif dengan Bijak
Sering kali terjadi kekeliruan di mana nilai formatif (yang berfungsi memberi umpan balik saat proses) dicampuradukkan begitu saja dengan nilai sumatif. Webinar ini menegaskan bahwa keduanya memiliki takdir dan peran berbeda: formatif untuk membenahi jalan proses belajar, sedangkan sumatif untuk memotret hasil capaian.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Antusiasme peserta yang melimpah dalam kolom chat Zoom hingga akhir sesi menandakan betapa haus dan rindunya para guru di Riau akan pemahaman yang memerdekakan ini. Pertanyaan demi pertanyaan bergulir, dijawab dengan penuh empati dan ketepatan regulasi oleh narasumber.
Melalui Episode 10 ini, Webinar Serantau BGTK Riau telah berhasil menancapkan tonggak penting. Bahwa menilai murid bukan tentang menghitung berapa banyak kesalahan yang mereka perbuat di atas lembar kertas, melainkan tentang menemukan kilau kompetensi dan menyalakan pelita harapan di dalam diri setiap anak.
Semoga reka ulang pemahaman ini tak berhenti di layar kaca Zoom, melainkan meresap hingga ke pelosok sekolah, mengetuk pintu-pintu kelas di seluruh penjuru Riau, membawa pendidikan kita menjadi lebih bermakna, ramah, dan berpihak seutuhnya pada manusia.
#BGTKRiau #SiapMenujuZIWBK #DitjenGTK #KemendikdasmenRAMAH #PendidikanBermutuUntukSemua
