IA TIDAK PUNYA JABATAN DI MUHAMMADIYAH
Namanya Pak Hasan.
Bukan ketua ranting.
Bukan ustaz terkenal.
Bukan orang yang sering naik panggung.
Sehari-hari ia hanya seorang pedagang kecil di kampung.
Setiap pagi, sebelum membuka warung, ia menyisihkan beberapa bungkus nasi.
Bukan untuk dijual.
Untuk diberikan kepada tetangga yang menurutnya sedang membutuhkan.
Suatu hari seorang anak bertanya,
“Pak, kenapa Bapak selalu memberi? Bukankah Bapak juga tidak punya banyak?”
Pak Hasan tersenyum.
“Kalau menunggu kaya untuk berbagi, mungkin kita tidak akan pernah mulai.”
Anak itu diam.
Beberapa hari kemudian, hujan deras mengguyur kampung.
Seorang warga lanjut usia yang tinggal sendirian membutuhkan makanan.
Pak Hasan datang membawa satu bungkus nasi.
Tidak ada kamera.
Tidak ada postingan.
Tidak ada yang memuji.
Setelah memberikan makanan, ia pulang dan kembali membuka warungnya.
Begitulah ia menjalani hari-harinya.
Sederhana.
Diam-diam.
Tetapi selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat.
🌿 Mungkin inilah wajah dakwah yang sering luput dari perhatian kita.
Bukan selalu tentang siapa yang berdiri di atas mimbar.
Kadang dakwah hadir melalui:
🍚 sepiring makanan,
🤝 tangan yang membantu,
👴 perhatian kepada tetangga,
📚 ilmu yang dibagikan,
❤️ dan kepedulian yang dilakukan tanpa ingin dikenal.
Karena amal yang baik tidak selalu membutuhkan panggung.
Ada kebaikan yang cukup diketahui Allah.
Dan mungkin...
di sekitar kita ada banyak “Pak Hasan” lainnya.
Warga Muhammadiyah biasa yang setiap hari melakukan kebaikan tanpa pernah masuk berita.
💬 Apakah di kampung Anda ada sosok seperti Pak Hasan?
Tidak perlu sebut nama jika tidak mendapat izin. Ceritakan saja kebaikan yang pernah Anda lihat.
🔄 Bagikan postingan ini. Barangkali kita bisa membuat lebih banyak kebaikan kecil menjadi inspirasi.
#Muhammadiyah #WargaMuhammadiyah #KisahInspiratif #AmalNyata #DakwahPencerahan #MuhammadiyahPamotan
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1AWwZmJD45/
