MUI Kuansing Menyeru: Jangan Nodai Keagungan Pacu Jalur dengan Minuman Keras!
KUANSING — Batang Kuantan kembali bergemuruh. Kecipak air yang terkuak oleh kayuhan para anak pacu bergema seirama dengan detak jantung masyarakat Riau. Festival Pacu Jalur, sebuah warisan leluhur yang tak sekadar memamerkan ketangkasan dan adu kekuatan fisik, sesungguhnya adalah simfoni kebersamaan, persatuan (basatu nogori maju), serta penjelmaan dari marwah budaya Melayu yang agung.
Namun, di tengah kemeriahan Pesta Rakyat yang berlangsung di Tepian Narosa Teluk Kuantan ini, terselip noktah kecil yang mengusik ketenangan batin masyarakat adat dan para ulama. Aksi tidak terpuji oknum tertentu yang secara terbuka memamerkan dan mengonsumsi minuman keras (khamr) di muka umum telah mencederai kesucian tradisi yang dipelihara sejak ratusan tahun lalu.
Murni Budaya, Berpayung Kitabullah
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kabupaten Kuantan Singingi, Ustadz Dr. H. Bakhtiar Shaleh, SH., MH, bersama pengurus MUI Kuansing, Ustadz Rindra Febrian, S.Fil., MH, memberikan pesan yang menyentuh sanubari seluruh anak negeri.
"Pacu Jalur bukan sekadar ajang pacuan di atas air. Ini adalah manifestasi dari filosofi luhur masyarakat Melayu:
'Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendikan Kitabullah'.
Adat dan budaya kita dibangun di atas fondasi syariat Islam yang suci. Sungguh sangat disayangkan apabila keindahan warisan budaya ini dicemari oleh tindakan-tindakan maksiat seperti meminum minuman keras, apalagi sampai dipamerkan dengan bangga di hadapan khalayak ramai," tegas Ustadz Bakhtiar Shaleh dengan nada penuh keprihatinan.
Budaya yang luhur adalah sarana untuk mempererat tali silaturahmi, memupuk semangat gotong royong, dan memuji kebesaran Ilahi. Menodainya dengan perilaku yang diharamkan agama hanya akan mengikis keharuman negeri.
Pesan Langit: Memelihara Kesucian dari Keburukan Khamr
Dalam ajaran Islam, minuman keras (khamr) merupakan umul khaba'ith (induk dari segala kejahatan) yang merusak akal, akhlak, dan tatanan sosial. Allah SWT dengan tegas berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 90:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung."
Ustadz Rindra Febrian menambahkan bahwa tindakan memamerkan kemaksiatan di depan umum tidak hanya berdampak pada pelaku saja, melainkan dapat mengundang kemudaratan bagi seluruh nagari. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda mengenai bahaya khamr:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
"Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan adalah haram." (HR. Muslim)
Lebih jauh, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar umat Islam tidak terang-terangan dalam melakukan atau memamerkan maksiat (mujaharah):
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
"Setiap umatku akan dimaafkan (diampuni), kecuali orang-orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Merawat Tradisi, Menjaga Negeri
Pacu Jalur adalah kebanggaan bersama. Tempat di mana dayung dikayuh serentak, tempat di mana harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai keagamaan terpancar dengan indahnya. Menyandingkan keindahan tradisi ini dengan kemaksiatan adalah sebuah ironi yang merobek marwah negeri.
MUI Kabupaten Kuantan Singingi mengajak seluruh lapisan masyarakat—mulai dari para tokoh adat, pemerintah daerah, pemuda, hingga para pengunjung—untuk bersama-sama menjadi benteng pelindung nilai-nilai kebaikan.
“Jaga negeri, pegang teguh nilai-nilai agama. Jangan biarkan air Batang Kuantan yang jernih ternoda oleh nila kemaksiatan. Mari kita rawat Pacu Jalur agar tetap menjadi tradisi yang bernilai ibadah, membawa keberkahan, dan dibanggakan hingga anak cucu nanti,” tutur pesan moral yang digaungkan MUI Kuansing.
Semoga keharuman adat Melayu yang bersendikan syariat Islam senantiasa menaungi Negeri Kuantan Singingi, menjadikan Tepian Narosa bukan hanya panggung pesta rakyat, tetapi juga ladang keberkahan dan kebanggaan bagi seluruh anak bangsa. (RR)

Posting Komentar
Komentar ya