Ridha Manusia Semu, Ridha Allah Abadi
Di tengah riuh rendah kehidupan, kita sering kali terjebak dalam panggung sandiwara yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna di mata manusia.
Kita menari di atas simfoni menyenangkan hati orang lain, membakar lilin dalam diri sendiri hingga habis tak bersisa, hanya demi memberi terang pada jalan yang mereka lalui.
Namun, ketika redup menghampiri, akankah mereka melakukan hal yang sama untuk menyalakan kembali redupmu?
Lupa diri adalah tragedi sunyi dalam jiwa. Kita begitu sibuk menjadi pahlawan bagi kisah orang lain hingga lupa bahwa jiwa kita sendiri sedang merintih, dahaga akan kasih dan keadilan.
Melayani dan berbuat baik adalah kemuliaan, namun mengorbankan martabat serta kesejahteraan diri hingga hancur demi secercah pujian manusia adalah kekeliruan yang nyata.
Keseimbangan dalam Cahaya Wahyu
Islam mengajarkan kasih sayang yang membimbing manusia menuju keseimbangan, bukan ketimpangan yang menyiksa.
Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak melampaui batas, bahkan dalam urusan pengorbanan dan kebaikan. Dalam Surah Al-Isra' ayat 29, Allah berfirman:
"Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya karena kamu nanti menjadi tercela dan menyesal."
Ayat ini adalah cermin mulia: kebaikan yang dipaksakan tanpa memperhitungkan batas kemampuan diri hanya akan melahirkan penyesalan di kemudian hari.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa diri kita memiliki hak yang wajib ditunaikan, sebagaimana sabdanya dalam hadis riwayat Bukhari:
"Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap pemilik hak itu haknya."
Menjaga diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan wujud rasa syukur atas amanah kehidupan yang Tuhan titipkan.
Menatap Diri di Hadapan Ilahi
Ketika engkau memberikan segalanya demi manusia, ingatlah bahwa panggung dunia mudah berganti.
Manusia bisa lupa, membelakangi, atau bahkan tak peduli pada pengorbanan yang telah engkau peras dari keringat dan air matamu.
Namun, ketenangan sejati tak akan pernah hadir dari ridha manusia yang semu, melainkan dari ridha Sang Pencipta.
Sayangilah dirimu. Pasangkan batas yang bijak antara ketulusan membantu dan keberanian untuk berkata tidak.
Jangan biarkan jiwamu redup dan kehilangan arah hanya karena sibuk memuaskan ekspektasi orang lain.
Sebab pada akhirnya, yang akan kembali dan dihisab di hadapan Tuhan adalah dirimu sendiri, bukan mereka.
Siapakah sosok dalam hidupmu saat ini yang paling membutuhkan batasan sehat agar jiwamu bisa kembali bernapas lega?
(Ronaldo Rozalino - Coach RR)
