Menjemput Ampunan di Rumah-Nya: Renungan Suci Khutbah Perdana
Ustadz Dr. H. Bakhtiar Shaleh, S.Ag., M.H., (Ketua MUI Kuantan Singingi)
Bismillah. Di balik megahnya fondasi Masjid Baiturrahman Baserah yang berdiri anggun, embun Jumat meresap ke dalam dada umat. Pada saf-saf yang rapat, sebuah seruan agung bergema. Ustadz. Dr. H. Bakhtiar Shaleh, S.Ag., M.H., Ketua MUI Kuantan Singingi, berdiri menaungi mimbar, membawa risalah hati yang memanggil jiwa-jiwa yang haus akan ampunan.
Pintu Taubat yang Terbuka Lebar
Adakah di antara kita manusia yang bersih tanpa noda? Adakah jemari yang tak pernah meraba dosa?
Kita adalah makhluk yang senantiasa bergelimang salah.
Namun, betapa Maha Lembutnya Allah yang tak pernah menutup pintu ampunan-Nya.
Sebelum napas tersengal di tenggorokan, sebelum ajal mengetuk tanpa kompromi, Allah melambaikan kasih-Nya melalui panggilan taubat.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Tahrim ayat 8:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nasuha)...”
Jangan menunda esok untuk bersujud, karena kita tak pernah tahu apakah esok masih milik kita.
Allah menyindir hamba-Nya yang menunda taubat hingga di ambang maut melalui Surah An-Nisa ayat 18, menegaskan bahwa pintu ampunan akan terkunci rapat ketika raga tak lagi berdaya.
Shalat: Tiang Agama dan Benteng Terakhir Jiwa
Di balik riuk-pikuk maksiat dunia, ada satu garis tegas yang memisahkan seorang hamba dengan kekufuran: Shalat. Dosa berzina, mencuri, bahkan membunuh adalah dosa besar yang menggetarkan arasy.
Namun meninggalkan shalat dengan sengaja adalah pengkhianatan terbesar atas status keislaman kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)
Bahkan Imam Hanafi menyuarakan ketegasan betapa malangnya jiwa yang enggan ruku’—hingga tak layak jenazahnya disemayamkan di pemakaman kaum muslimin.
Shalat adalah kewajiban mutlak. Selagi akal masih berada di dada, meski raga terbaring sakit tak berdaya, isyarat sujud harus tetap ditunaikan.
Tengoklah baginda Nabi Muhammad SAW. Sosok yang telah dijamin surga, maksum tanpa dosa, namun telapak kakinya bengkak memar karena menelusuri panjangnya rakaat malam.
Tak kurang dari 40 rakaat beliau persembahkan setiap hari sebagai wujud cinta dan syukur.
Lantas, bagaimana dengan kita? Bagaimanakah dengan buah hati kita?
Sudahkah kita memastikan anak-anak kita menegakkan shalat, ataukah kita sedang membiarkan mereka melangkah menuju ancaman Neraka Saqar?
“Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab: “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Muddaththir: 42-43)
Menembus Lorong Waktu: Dunia yang Singkat, Akhirat yang Abadi
Dunia ini hanyalah persinggahan sekejap mata. Waktu kita di alam barzahir jauh lebih panjang, dan kehidupan akhirat adalah keabadian tanpa batas. Betapa ruginya jiwa yang menukar keabadian akhirat dengan keindahan dunia yang fana.
Sebelum tanah menimbun raga, sebelum kesempatan itu sirna:
Perbaiki Kuantitas Ibadah: Genapkan yang wajib, hidupkan yang sunnah.
Tingkatkan Kualitas Ibadah: Hadirkan hati dalam setiap takbir, khusyuklah dalam setiap sujud.
Jaga Benteng Keluarga: Gandeng tangan anak dan istri menuju jalan rida-Nya.
Semoga dari mimbar Masjid Baiturrahman Baserah ini, cahaya taubat meresap ke dalam sanubari, menjadikan kita hamba yang istiqamah hingga embun kehidupan terakhir mengering.
Sumber: Ustadz Dedi Suryadi, M.Pd
(Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kuantan Singingi)
Disadur kembali oleh Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Sekretaris Komisi Informasi & Komunikasi DP MUI Kab. Kuansing).
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
13 tahun yang lalu

Posting Komentar
Komentar ya