Pacu Jalur: Mengayuh Marwah, Merawat Warisan di Tepian Narosa
"Ronaldo Rozalino"
Bismillah. Di hamparan Sungai Kuantan yang tenang, tersimpan sebuah denyut kehidupan yang telah melintasi lorong waktu.
Ia bukan sekadar aliran air, melainkan saksi bisu dari sebuah tradisi yang mengakar kuat di relung hati masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing).
Inilah Pacu Jalur, sebuah perayaan budaya yang megah, yang tak sekadar memperlombakan kecepatan, tetapi mempertautkan tali persaudaraan, kearifan lokal, dan kehormatan negeri.
Tepian Narosa, Teluk Kuantan, telah menjadi kemeriahan Festival Pacu Jalur, yang dihelat tanggal 19 hingga 23 Agustus 2026 yang lalu.
Di balik riak air dan semangat para pendayung, tersirat sebuah pesan mendalam yang melampaui gemerlapnya pesta. Sebuah pesan tentang komitmen menjaga identitas dan harkat martabat.
"Marwah yang Harus Dijaga"
Semboyan ini bergema kuat, bukan sebagai slogan kosong, melainkan sebagai sumpah setia. Pacu Jalur bukanlah sekadar ajang unjuk kebolehan, tetapi adalah simbol peradaban Kuansing.
Ia adalah wujud dari kekayaan budaya yang diwariskan oleh para leluhur, yang sarat dengan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup.
Dalam gambar yang disertakan, terlihat barisan pendayung yang tangguh, bersatu padu dalam harmoni, mengayuh perahu-perahu panjang dengan penuh semangat.
Tatapan mata mereka penuh tekad, mencerminkan persatuan dan semangat juang yang membara. Di samping mereka, tulisan yang menggetarkan jiwa mengingatkan kita:
"Ketika marwah negeri disentuh, adat akan bersuara. Ketika warisan mulai dicederai, kita semua punya tanggung jawab untuk menjaganya."
Ini adalah panggilan bagi seluruh elemen masyarakat Kuansing untuk berdiri teguh dan membela warisan budaya mereka.
Lembaga adat tak akan berdiam diri jika ada tangan-tangan jahat yang mencoba mencederai atau merendahkan nilai-nilai leluhur.
Sebab, Pacu Jalur bukan hanya tentang perlombaan, melainkan kehormatan negeri, adat, budaya, dan marwah Kuantan Singingi.
Cerminan Iman dan Ketakwaan
Menjaga marwah budaya sesungguhnya selaras dengan ajaran Islam. Al-Qur'an mengingatkan kita untuk menjaga kehormatan dan persatuan. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali 'Imran: 103)
Pacu Jalur adalah manifestasi dari persatuan dan kesatuan masyarakat Kuansing. Mereka bersatu dalam tujuan, berkolaborasi dalam gerak, dan saling mendukung satu sama lain.
Keharmonisan ini adalah wujud dari kekuatan yang terbangun atas landasan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Selain itu, Al-Hadist juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri dan menjaga nama baik kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap muslim adalah haram darah, harta, dan kehormatannya bagi muslim yang lain." (HR. Muslim)
Menjaga marwah Pacu Jalur berarti menjaga kehormatan budaya dan tradisi yang melekat pada identitas masyarakat Kuansing.
Ini adalah bentuk pengabdian kepada nilai-nilai luhur yang diturunkan oleh para leluhur, yang sejatinya bermuara pada keagungan Sang Pencipta.
Pacu Jalur Adalah Kita
"Pacu Jalur adalah marwah kita. Menjaganya berarti menjaga jati diri negeri." Kalimat ini mengukuhkan bahwa Pacu Jalur bukan sekadar tradisi luar, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri masyarakat Kuansing.
Ia adalah cerminan dari semangat pantang menyerah, gotong royong, dan kecintaan pada tanah air.
Di era modern yang penuh dengan tantangan dan perubahan, menjaga marwah Pacu Jalur adalah tugas yang mulia.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melestarikan tradisi ini, agar terus hidup dan mewarnai kehidupan generasi mendatang.
Kita harus menjadi garda terdepan dalam menjaga keasliannya, mencegahnya dari degradasi, dan terus memperkenalkannya kepada dunia sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia.
Kayuuaaah!
Semangat "Kayuuaaah!" bukan sekadar teriakan penyemangat, melainkan simbol dari tekad membara untuk terus maju dan meraih kemenangan. Ia adalah ajakan untuk terus mengayuh, melampaui rintangan, dan menjaga marwah negeri.
Mari kita terus jaga kobaran semangat "Kayuuaaah!" di dalam dada kita. Mari kita lestarikan Pacu Jalur sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Mari kita jaga marwah Kuansing dengan bangga dan penuh dedikasi.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, keberkahan, dan kejayaan bagi masyarakat Kuantan Singingi dan seluruh rakyat Indonesia dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang kita miliki.
Salam Kayuuaaah!
Penulis: H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Biografi singkat penulis:
(Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERUAS, Guru Konten Kretor Riau, Guru Seni Budaya SMAN 1 Sentajo Raya, Guru Seni Budaya SMA Taruna Muhammadiyah Riau, Guru Tamu Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kab. Kuansing, Composser & Arranger, Motivator Literasi & Edukasi, Bisnis Owner Leader, Coach)
#pacujalur #budayakuansing #jagamarwahkuansing #budayawan #tokohliterasikuansing #gurusenibudaya #gurukontenkreatorriau #gurupenulis #gurupembelajar #gurueradigital
