Menjaga Marwah Pacu Jalur: Merawat Jiwa, Kebersamaan, dan Warisan Leluhur di Bumi Kuantan
Oleh: Ronaldo Rozalino
Tak lekang oleh waktu, tak punah ditelan zaman.
Bismillah. Di sepanjang riak dan aliran Sungai Kuantan yang membendung sejarah, tersimpan sebuah denyut nadi peradaban Melayu yang tak pernah padam.
Bagi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, sungai bukan sekadar bentangan air pelintasan alam, melainkan urat nadi kehidupan yang menghubungkan memori, keringat, serta marwah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari riak air itu, lahirlah Pacu Jalur. Sebuah maha tradisi sakral yang berakar dari kearifan alam dan telah berlangsung sejak zaman purba.
Namun, sungguh dangkal jika kita hanya memandang Pacu Jalur sebagai pesta perlombaan di atas kayu dan air semata. Ia adalah cermin marwah, identitas, gotong royong, dan kehormatan negeri.
1. Merajut Kebersamaan dan Ukhuwah (Gotong Royong)
Perjalanan sebuah Jalur tak pernah dimulai saat biduk digayuh di garis start. Ia bermula jauh di dalam lebatnya hutan, ketika jemari warga saling bertaut menumbang pohon kayu besar, menarah, hingga menuntunnya keluar menuju tepian.
Di sanalah spirit kebersamaan, kepedulian, dan kekompakan ditempa. puluhan pendayung (anak pacu) duduk berjejer rapat, mengayuh dengan satu irama, satu deru napas, dan satu tujuan.
Tidak ada ruang bagi ego pribadi; keberhasilan sebuah Jalur adalah bukti manunggalnya hati seluruh warga.
Nilai luhur gotong royong dan kebersamaan ini berpagar erat dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Kekompakan anak pacu di atas perahu juga memantulkan pesan Rasulullah SAW tentang eratnya ukhuwah Islamiyah:
المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pacu Jalur Adalah Marwah dan Jati Diri
Di era modernisasi yang menggempur batas-batas kebudayaan, Pacu Jalur hadir sebagai benteng pertahanan jati diri Melayu Kuansing.
Marwah adalah harga diri yang tak boleh dijual, kebanggaan yang tak boleh ternoda oleh pragmatisme zaman.
Menjaga sakralnya tradisi Pacu Jalur berarti menjaga kehormatan para leluhur yang telah meletakkan kearifan pada setiap urat kayu yang dipahat.
Sebagaimana firman Allah SWT yang mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga nilai-nilai kebaikan yang diwariskan serta tidak mencederai amanah kehormatan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."
(QS. Al-Anfal: 27)
Tradisi ini adalah amanah kebudayaan. Ketika marwah itu dijunjung tinggi, lembaga adat dan masyarakat akan berdiri tegak di garda terdepan.
Apabila ada tangan-tangan yang mencoba merusak, mencederai, atau merendahkan nilai-nilai luhur ini menjadi sekadar komoditas yang kehilangan nilai sakralnya, maka kita bertanggung jawab untuk melindunginya.
3. Mengayuh Menuju Kehormatan Masa Depan
Kemajuan zaman boleh bertambah pesat, teknologi boleh terus berkembang, namun akar tradisi tak boleh tercabut dari tanah pijakannya.
Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya menjadi pribadi yang memberi manfaat dan menjaga kebaikan dalam masyarakat:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad, Thabrani)
Menjaga Pacu Jalur bukan berarti menolak zaman, melainkan merawat nilai kesantunan, kekeluargaan, kegigihan, dan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas alam dan sungai yang memberi kehidupan.
Seruan Menjaga Marwah
Pacu Jalur adalah air mata kegembiraan para tetua, gelak tawa anak-anak di tepi sungai, dan gelora semangat para pemuda Kuansing.
Pacu Jalur adalah warisan kita.
Pacu Jalur adalah marwah kita.
Pacu Jalur adalah jati diri kita.
Mari bersama-sama merawat kesakralan, menjaga keheningan niat dalam berpacu, menguatkan tali silaturahmi, dan memastikan bahtera tradisi ini tetap berlayar gagah mengharungi samudra zaman tanpa kehilangan ruh keislaman dan kearifannya.
JAGA BUDAYA
JAGA TRADISI
JAGA MARWAH PACU JALUR
#Jagamarwahpacujalur #budayakuansing #Pacujalur #riau #budayawan #seniman #gurusenibudaya #gurupenulis #gurukontenkreatorriau #gurupembelajar #gurukreatif #ulama #ustadz
Penulis: H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
Biografi singkat penulis:
(Ketua Lembaga Seni Budaya PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERUAS, Guru Konten Kretor Riau, Guru Seni Budaya SMAN 1 Sentajo Raya, Guru Seni Budaya SMA Taruna Muhammadiyah Riau, Guru Tamu Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kab. Kuansing, Composser & Arranger, Motivator Literasi & Edukasi, Bisnis Owner Leader, Coach)

Posting Komentar
Komentar ya