Menepis Kabut Jiwa: 7 Racun Pikiran yang Diam-Diam Merampas Masa Depanmu
Sering kali, sosok yang paling kejam menjegal langkah kita bukanlah musuh yang tampak, melainkan pikiran kita sendiri.
Banyak orang karam di tengah samudra kehidupan bukan karena kekurangan kecerdasan atau kehabisan modal, melainkan karena membiarkan pola pikir yang keliru berakar dan melapukkan jiwa.
Masa depan yang indah tak pernah dibangun oleh IQ yang menjulang semata, melainkan oleh kerendahan hati untuk terus menata cara berpikir. Sebelum melangkah lebih jauh, mari merenungi tujuh belasur racun pikiran yang kerap membunuh mimpi-mimpi besar secara perlahan:
1. Merasa Sudah Tahu Segalanya: Mengunci Pintu Pembelajaran
Seseorang yang merasa memegang seluruh jawaban sesungguhnya sedang berhenti tumbuh.
Merasa paling tahu adalah bentuk kesombongan halus yang menutup rapat pintu hikmah. Mereka menolak saran, menepis kritik, dan mematikan dahaga akan ilmu. Padahal, seumpama samudra, semakin dalam seseorang menyelam, semakin ia sadar betapa luasnya misteri yang belum ia sentuh.
Manusia yang bijak tidak disibukkan oleh pembuktian bahwa dirinya benar, melainkan fokus menyempurnakan kebaikan dirinya setiap hari.
2. Takut Gagal dan Malu Mencoba: Memenjarakan Langkah dalam Bayang-Bayang
Berapa banyak mimpi yang mati sebelum lahir hanya karena ketakutan akan cemoohan?
Ketakutan terlihat gagal kerap menjadi penjara terkeram bagi potensi manusia. Kita sibuk mencemaskan penilaian dunia hingga lupa bahwa tak ada mahakarya yang lahir tanpa coretan salah.
Kegagalan bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan anak tangga wajib menuju kematangan. Keberhasilan selalu berpihak pada mereka yang berani melangkah, meski dengan lutut yang gemetar.
3. Selalu Menyalahkan Keadaan: Menyerahkan Kemudi pada Angin
Menyalahkan nasib, ekonomi, atau lingkungan adalah bentuk menyerahkan kendali hidup kepada pihak lain. Mentalitas ini seperti seorang pelaut yang merutuki arah angin tanpa pernah berniat mengubah arah layarnya.
Jiwa yang tangguh tidak akan membuang energi untuk meratap. Saat badai menerpa, mereka tidak bertanya "Mengapa ini terjadi padaku?", melainkan "Langkah apa yang bisa kuambil untuk melampaui ini?" Mereka fokus pada jalan keluar, bukan pada alasan.
4. Terlalu Fokus pada Hasil Cepat: Tergesa Menanti Buah Sebelum Waktunya
Di era yang serba instan, banyak orang menginginkan puncak gunung tanpa sudi menapaki terjalnya jalan setapak. Mereka mengagumi kemegahan pohon yang rindang, tetapi enggan menunggu benih bertunas dalam kegelapan tanah.
Padahal, hal-hal besar selalu membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Kemenangan sejati bukanlah milik siapa yang berlari paling cepat di awal, melainkan milik mereka yang mampu bertahan paling lama dalam ketekunan.
5. Ingin Terlihat Hebat Tanpa Menjadi Hebat: Membangun Istana Pasir Citra
Ada perbedaan mendasar antara "menjadi hebat" dan sekadar "terlihat hebat". Sebagian orang menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk memoles topeng agar dipuji dunia, padahal jiwanya kosong tanpa karya nyata.
Pribadi yang berbobot tidak membutuhkan riuh tepuk tangan untuk memvalidasi dirinya. Mereka memilih bekerja dalam hening, menempa kemampuan di balik layar, dan membiarkan karya mereka berbicara dengan keagungan yang jujur.
6. Gagal Membedakan Kritik dan Hinaan: Kaca Diri yang Retak
Bagi jiwa yang rapuh, setiap masukan akan terasa bagai serbuan cermin yang menyakitkan. Mereka memeluk ego dengan erat dan menganggap kritik sebagai serangan pribadi.
Padahal, kritik yang tulus adalah cermin jernih yang memperlihatkan noda di wajah kita agar bisa dibersihkan. Belajarlah memetik kebaikan dari cermin tersebut, lalu biarkan angin berlalu membawa hinaan kosong yang tak berguna.
7. Terbuai oleh Ilusi Bahwa "Waktu Masih Panjang": Menunda yang Menghancurkan
Inilah racun yang paling halus namun sangat mematikan: merasa bahwa besok selalu ada. Menunda hari ini adalah bibit penyesalan yang akan membuahkan air mata di masa tua.
Banyak impian yang tidak pernah terwujud bukan karena pemiliknya tak sanggup, melainkan karena ia terlalu lama menunggu "waktu yang tepat" sebuah waktu ideal yang sesungguhnya tak pernah ada.
Sang penakluk masa depan tahu betul bahwa waktu adalah napas yang tak bisa diulang; mereka melangkah sekarang, meski dalam keterbatasan.
Mengubah Pikiran, Mengubah Takdir
Pada akhirnya, takdirmu tidak ditulis oleh garis tangan orang lain, melainkan oleh benih pikiran yang kau tanam hari ini.
Jika engkau merindukan takdir yang berbedas, basuhlah cara berpikirmu terlebih dahulu. Sebab ketika pola pikirmu berubah, tindakanmu akan menjelma menjadi karya.
Dan ketika tindakanmu berubah, jalan hidupmu pun akan memancarkan cahaya yang baru.
Tulisan ini diadaptasi dari pemikiran Ronaldo Rozalino (Coach RR).
Menjemput Ampunan di Rumah-Nya: Renungan Suci Khutbah Perdana
Ustadz Dr. H. Bakhtiar Shaleh, S.Ag., M.H., (Ketua MUI Kuantan Singingi)
Bismillah. Di balik megahnya fondasi Masjid Baiturrahman Baserah yang berdiri anggun, embun Jumat meresap ke dalam dada umat. Pada saf-saf yang rapat, sebuah seruan agung bergema. Ustadz. Dr. H. Bakhtiar Shaleh, S.Ag., M.H., Ketua MUI Kuantan Singingi, berdiri menaungi mimbar, membawa risalah hati yang memanggil jiwa-jiwa yang haus akan ampunan.
Pintu Taubat yang Terbuka Lebar
Adakah di antara kita manusia yang bersih tanpa noda? Adakah jemari yang tak pernah meraba dosa?
Kita adalah makhluk yang senantiasa bergelimang salah.
Namun, betapa Maha Lembutnya Allah yang tak pernah menutup pintu ampunan-Nya.
Sebelum napas tersengal di tenggorokan, sebelum ajal mengetuk tanpa kompromi, Allah melambaikan kasih-Nya melalui panggilan taubat.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Tahrim ayat 8:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nasuha)...”
Jangan menunda esok untuk bersujud, karena kita tak pernah tahu apakah esok masih milik kita.
Allah menyindir hamba-Nya yang menunda taubat hingga di ambang maut melalui Surah An-Nisa ayat 18, menegaskan bahwa pintu ampunan akan terkunci rapat ketika raga tak lagi berdaya.
Shalat: Tiang Agama dan Benteng Terakhir Jiwa
Di balik riuk-pikuk maksiat dunia, ada satu garis tegas yang memisahkan seorang hamba dengan kekufuran: Shalat. Dosa berzina, mencuri, bahkan membunuh adalah dosa besar yang menggetarkan arasy.
Namun meninggalkan shalat dengan sengaja adalah pengkhianatan terbesar atas status keislaman kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)
Bahkan Imam Hanafi menyuarakan ketegasan betapa malangnya jiwa yang enggan ruku’—hingga tak layak jenazahnya disemayamkan di pemakaman kaum muslimin.
Shalat adalah kewajiban mutlak. Selagi akal masih berada di dada, meski raga terbaring sakit tak berdaya, isyarat sujud harus tetap ditunaikan.
Tengoklah baginda Nabi Muhammad SAW. Sosok yang telah dijamin surga, maksum tanpa dosa, namun telapak kakinya bengkak memar karena menelusuri panjangnya rakaat malam.
Tak kurang dari 40 rakaat beliau persembahkan setiap hari sebagai wujud cinta dan syukur.
Lantas, bagaimana dengan kita? Bagaimanakah dengan buah hati kita?
Sudahkah kita memastikan anak-anak kita menegakkan shalat, ataukah kita sedang membiarkan mereka melangkah menuju ancaman Neraka Saqar?
“Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab: “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Muddaththir: 42-43)
Menembus Lorong Waktu: Dunia yang Singkat, Akhirat yang Abadi
Dunia ini hanyalah persinggahan sekejap mata. Waktu kita di alam barzahir jauh lebih panjang, dan kehidupan akhirat adalah keabadian tanpa batas. Betapa ruginya jiwa yang menukar keabadian akhirat dengan keindahan dunia yang fana.
Sebelum tanah menimbun raga, sebelum kesempatan itu sirna:
Perbaiki Kuantitas Ibadah: Genapkan yang wajib, hidupkan yang sunnah.
Tingkatkan Kualitas Ibadah: Hadirkan hati dalam setiap takbir, khusyuklah dalam setiap sujud.
Jaga Benteng Keluarga: Gandeng tangan anak dan istri menuju jalan rida-Nya.
Semoga dari mimbar Masjid Baiturrahman Baserah ini, cahaya taubat meresap ke dalam sanubari, menjadikan kita hamba yang istiqamah hingga embun kehidupan terakhir mengering.
Sumber: Ustadz Dedi Suryadi, M.Pd
(Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kuantan Singingi)
Disadur kembali oleh Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Sekretaris Komisi Informasi & Komunikasi DP MUI Kab. Kuansing).
Meneladani Abdullah bin Abbas: Belajar Tanpa Batas, Berilmu Tanpa Henti
Bismillah. Di bawah naungan mega-mega sejarah Islam, terukir indah kisah seorang pemuda yang dadanya memancarkan dahaga tak terobati akan samudra ilmu.
Dialah Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, sepupu Rasulullah SAW yang jiwanya terpaut rapat pada kebenaran. Ketika sang fajar kenabian Rasulullah SAW berpulang ke keagungan-Nya, Ibnu Abbas masihlah seorang remaja.
Namun, di dalam dada yang muda itu, bergolak gelora semangat yang tak pernah padam untuk merengkuh warisan tertinggi para nabi: ilmu pengetahuan.
Ibnu Abbas tidak membiarkan kesedihan membelenggu jiwanya. Ia melangkahkan kaki menelusuri lorong-lorong Madinah, mendatangi pintu-pintu para sahabat senior.
Tak ada rasa gengsi, tak ada malu yang merendahkan. Bahkan, acap kali ia merapatkan tubuhnya di depan pintu rumah seorang sahabat, beralaskan debu dan berselimutkan angin gurun, hanya demi menunggu sang pemilik rumah bangun untuk mengajarkannya satu-dua hadis. Kesabaran dan kerendahan hatinya adalah bukti nyatanya dahaga akan kebenaran.
Melalui kesungguhan yang melampaui batas biasa, Allah SWT mengangkat derajatnya hingga ia dijuluki Tahrul Ummah (samudra tinta umat ini) dan Turjumanul Qur'an (penafsir Al-Qur'an). Semangat ini berjalan laras dengan firman Allah SWT:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Laksana mata air yang tak pernah membeku, ilmu yang direngkuh Ibnu Abbas tidak diam menggenang untuk dirinya sendiri. Ia mengalirkan kebenaran itu kepada generasi setelahnya, mentransfer cahaya Al-Qur'an dan Sunnah sehingga lentera Islam tetap menyala terang melewati zaman.
Sikapnya ini menjadi cermin nyata dari sabda Rasulullah SAW:
"Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Kisah hidup Ibnu Abbas menyiarkan pesan mendalam bagi setiap jiwa yang merindukan kebijaksanaan:
Kesabaran adalah Kunci: Merengkuh ilmu adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketabahan, kerendahan hati, dan ketekunan melintasi ujian.
Kerendahan Hati dalam Bertanya: Tak ada tempat bagi rasa malu atau sombong dalam menuntut ilmu; merasa cepat pintar hanya akan menutup pintu kebenaran.
Proses Tanpa Batas Usia: Belajar adalah pengabdian seumur hidup (long-life learning) yang tak mengenal henti.
Ilmu untuk Kebermanfaatan: Keagungan ilmu tidak diukur dari seberapa banyak yang dihafal, melainkan seberapa besar ia mampu membenahi diri dan menerangi sesama.
Jangan pernah berhenti belajar. Sebab di saat kita berhenti mencari ilmu, di situlah jiwa kita mulai redup dari kehangatan cahaya Ilahi.
(Ronaldo Rozalino - Coach RR)
Ridha Manusia Semu, Ridha Allah Abadi
Di tengah riuh rendah kehidupan, kita sering kali terjebak dalam panggung sandiwara yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna di mata manusia.
Kita menari di atas simfoni menyenangkan hati orang lain, membakar lilin dalam diri sendiri hingga habis tak bersisa, hanya demi memberi terang pada jalan yang mereka lalui.
Namun, ketika redup menghampiri, akankah mereka melakukan hal yang sama untuk menyalakan kembali redupmu?
Lupa diri adalah tragedi sunyi dalam jiwa. Kita begitu sibuk menjadi pahlawan bagi kisah orang lain hingga lupa bahwa jiwa kita sendiri sedang merintih, dahaga akan kasih dan keadilan.
Melayani dan berbuat baik adalah kemuliaan, namun mengorbankan martabat serta kesejahteraan diri hingga hancur demi secercah pujian manusia adalah kekeliruan yang nyata.
Keseimbangan dalam Cahaya Wahyu
Islam mengajarkan kasih sayang yang membimbing manusia menuju keseimbangan, bukan ketimpangan yang menyiksa.
Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak melampaui batas, bahkan dalam urusan pengorbanan dan kebaikan. Dalam Surah Al-Isra' ayat 29, Allah berfirman:
"Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya karena kamu nanti menjadi tercela dan menyesal."
Ayat ini adalah cermin mulia: kebaikan yang dipaksakan tanpa memperhitungkan batas kemampuan diri hanya akan melahirkan penyesalan di kemudian hari.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa diri kita memiliki hak yang wajib ditunaikan, sebagaimana sabdanya dalam hadis riwayat Bukhari:
"Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap pemilik hak itu haknya."
Menjaga diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan wujud rasa syukur atas amanah kehidupan yang Tuhan titipkan.
Menatap Diri di Hadapan Ilahi
Ketika engkau memberikan segalanya demi manusia, ingatlah bahwa panggung dunia mudah berganti.
Manusia bisa lupa, membelakangi, atau bahkan tak peduli pada pengorbanan yang telah engkau peras dari keringat dan air matamu.
Namun, ketenangan sejati tak akan pernah hadir dari ridha manusia yang semu, melainkan dari ridha Sang Pencipta.
Sayangilah dirimu. Pasangkan batas yang bijak antara ketulusan membantu dan keberanian untuk berkata tidak.
Jangan biarkan jiwamu redup dan kehilangan arah hanya karena sibuk memuaskan ekspektasi orang lain.
Sebab pada akhirnya, yang akan kembali dan dihisab di hadapan Tuhan adalah dirimu sendiri, bukan mereka.
Siapakah sosok dalam hidupmu saat ini yang paling membutuhkan batasan sehat agar jiwamu bisa kembali bernapas lega?
(Ronaldo Rozalino - Coach RR)
Etika Siber dalam Bingkai Agama dan Adat: Refleksi Hukum Kasus TikTok PST
Bismillah. Lisan adalah cerminan jiwa, sedangkan jemari di layar kaca adalah jelmaan dari watak pendahulu yang diwariskan. Di era tatap layar yang makin riuh, sebuah unggahan sering kali mampu menerobos batas etika, menorehkan luka pada kehormatan, hingga meretakkan marwah adat yang dijaga berabad-abad.
Peristiwa hukum yang menyelimuti Ustadz Darwis Dt menjadi ikhtibar nyata. Melalui tim kuasa hukum yang dipimpin oleh Advokat Ikhsan, S.H., M.H., akun TikTok "Polda StG" resmi dilaporkan ke Mapolres Kuantan Singingi atas dugaan pencemaran nama baik dan penghinaan di media sosial.
Langkah hukum ini diambil murni untuk menegakkan keadilan atas penghinaan digital, sembari memisahkan ranah pidana umum dengan persoalan norma adat yang kini dalam musyawarah Niniak Mamak serta tokoh masyarakat setempat.
Perspektif Agama Islam: Menjaga Kehormatan dan Musyawarah
Islam memandang kehormatan seorang Muslim sebagai benteng suci yang tak boleh dinodai oleh fitnah maupun celaan. Rasulullah SAW bersabda:
"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. Bukhari)
Setiap ketikan di media sosial adalah bentuk "lisan digital" yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Ilahi. Allah SWT secara tegas mengingatkan larangan mengolok-olok sesama dalam Al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka..." (QS. Al-Hujurat: 11)
Langkah menempuh jalur hukum untuk menjaga nama baik, sekaligus mengedepankan musyawarah adat dalam menyelesaikan perkara norma, sangat sejalan dengan perintah Allah untuk memelihara kedamaian dan keadilan tanpa menyebar fitnah (tabayyun).
Perspektif Hukum, Budaya, dan Adat Melayu
Dalam bingkai hukum negara, kebebasan berpendapat diatur agar tidak menabrak hak serta martabat orang lain. UU ITE (Pasal 27A jo Pasal 45) melarang keras setiap orang menyebarkan muatan yang menyerang kehormatan atau nama baik seseorang.
Langkah melaporkan dugaan pelanggaran ini ke kepolisian merupakan wujud masyarakat yang taat hukum (state of law).
Sementara itu, dalam konteks budaya Kuantan Singingi yang kental dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, kehormatan dan marwah adalah mahkota diri.
Adat Melayu mengajarkan bahwa celaan bukan sekadar melukai individu, tetapi merusak keharmonisan nagori.
Penyelesaian ranah hukum pidana yang berjalan berdampingan dengan rapat adat bersama Niniak Mamak menunjukkan kematangan berbudaya: yang hukum diselesaikan secara terukur, yang adat dirawat melalui kearifan lokal.
Menjadi Pengguna Media Sosial yang Bijak
Media sosial seharusnya menjadi panggung syiar, karya, dan peratun silaturahmi bukan gelanggang cerca. Sebagai pengguna media sosial yang bijak:
Saring Sebelum Sharing: Selalu pastikan unggahan tidak mengandung fitnah, ujaran kebencian, atau pencemaran nama baik.
Jaga Santun Bahasa: Bahasa menunjukkan bangsa; santun di dunia nyata harus selaras dengan etika di dunia maya.
Hormati Nilai Adat: Pahami bahwa setiap daerah memiliki marwah, tradisi, dan Niniak Mamak yang patut dijaga kehormatannya.
Mari jadikan ruang digital sebagai ladang pahala dan pemersatu negeri, dengan menjunjung tinggi etika, taat pada hukum, serta teguh menjaga marwah adat Melayu yang adiluhung.
Selanjutnya di era transformasi digital saat ini, terdapat dua pilar utama yang menjaga tatanan sosial masyarakat, khususnya dalam ruang siber dan lingkup kebudayaan: Hukum Positif (UU ITE) dan Sanksi/Hukum Adat. Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam menjaga marwah, martabat, serta keharmonisan sosial.
Peran UU ITE: Benteng Kepastian Hukum Negara
UU ITE (Khususnya Pasal 27A jo Pasal 45 terkait pencemaran nama baik dan penyerangan kehormatan) berfungsi sebagai instrumen formal hukum negara.
Kepastian Hukum: Memberikan batasan tegas mengenai mana tindakan yang dikategorikan sebagai kejahatan siber (cyber crime) atau pelanggaran hak konstitusional seseorang.
Efek Jera secara Legal: Memiliki kekuatan eksekutorial dan sanksi pidana/denda formal yang mengikat seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Objektivitas Transaksi & Interaksi Digital: Mengatur ruang digital yang tidak terbatas oleh wilayah geografis agar tetap tertib dan terukur secara legalistis.
Peran Sanksi Adat: Pemulihan Keseimbangan Moral dan Sosial
Jika UU ITE berfokus pada hukuman bagi pelaku, hukum adat (seperti mekanisme Niniak Mamak dalam budaya Melayu/Kuansing) berfokus pada pemulihan keharmonisan (restorative justice) dan menjaga nilai-nilai luhur tradisi.
Menjaga Marwah Komunal: Kehormatan dalam masyarakat adat bukan hanya milik individu, tetapi menyangkut nama baik suku, kaum, dan negeri.
Sanksi Moral dan Sosial: Sanksi adat (seperti denda adat, cuci kampung, atau permohonan maaf terbuka secara adat) menyadarkan pelaku atas pelanggaran etika dan kesopanan yang merusak tatanan lokal.
Musyawarah untuk Mufakat: Membuka ruang dialog antar-tokoh masyarakat untuk menyelesaikan potensi konflik sosial di tingkat akar rumput.
Keseimbangan Antara Hukum ITE dan Sanksi Adat
Mencapai keseimbangan antara keduanya merupakan bentuk kematangan berbangsa dan berbudaya di era modern:
Pemisahan Ranah yang Jelas: Pelanggaran yang bersifat pidana murni (seperti penghinaan personal atau fitnah di media sosial) diselesaikan secara transparan melalui jalur kepolisian/UU ITE.
Sementara, dampak sosial atau pelanggaran norma lokal yang menyertainya diselesaikan melalui majelis adat.
Mencegah Main Hakim Sendiri: Penegakan hukum ITE memastikan masyarakat tidak merespons pelanggaran digital dengan tindakan menghakimi secara liar di dunia nyata.
Penguatan Etika Digital Berbasis Budaya: UU ITE memberikan koridor hukum baku, sedangkan adat istiadat memberikan nilai moral (local wisdom) agar pengguna media sosial tidak hanya takut pada ancaman penjara, tetapi juga malu jika merusak etika dan kesantunan tradisi.
Penulis:
Ust. H. Ronaldo Rozalino,
S.Sn., M.Pd, C.PS, C.ME, C.TM, C.CCW, C.TLE, C. QEM, , C.TP, C.HTeach etc.
(Ketua Forum Literasi Kuansing, Penggiat Media Sosial, Sekretaris Informasi dan Komunikasi DP MUI Kab. Kuansing, Guru Konten Kreator Riau, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERUAS, Bisnis Owner, Blogger, Coach, Ketua Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJT KEN 2026)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...13 tahun yang lalu
-
