Pesan Jiwa dari Halaman Sekolah: Saat Detik Jam Dinding Meniupkan Takdir -
Gusthia Frischa, S.Pd., Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 1 Sentajo Raya
SENTAJO RAYA — Suasana khidmat menyelimuti halaman SMAN 1 Sentajo Raya pada Senin pagi (20/7/2026). Di bawah naungan langit cerah, barisan siswa-siswi dari kelas X hingga XII bersatu dalam keheningan upacara bendera mingguan, menyatu bersama jajaran pimpinan, guru, dan tenaga kependidikan.
Pelaksanaan upacara yang dikomandani oleh para siswa kelas XII.1 berlangsung dengan penuh disiplin dan keharmonisan. Sang Merah Putih mengangkasa dengan anggun, mengiringi bait-bait lagu kebangsaan yang dilantunkan dengan penuh kesungguhan.
Namun, momen yang paling membekas dalam sanubari para peserta upacara terjadi tatkala Gusthia Frischa, S.Pd., Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 1 Sentajo Raya, melangkah maju sebagai Pembina Upacara. Setelah memberikan apresiasi hangat atas kerja keras siswa kelas XII.1 yang bertugas, beliau menyampaikan sebuah refleksi mendalam bertajuk:
"Jam Dinding yang Diam, Tapi Sedang Menghitung Masa Depan."
Filosofi dalam Keheningan Waktu
Dalam amanatnya yang puitis dan syarat makna, Gusthia mengajak para siswa merenungi keberadaan jam dinding yang tergantung di sudut-sudut ruang kelas. Sebuah benda yang tampak bisu dan statis, namun secara konsisten menenun masa depan para murid detik demi detik.
"Perhatikanlah jam dinding di kelas kalian. Seolah-olah ia diam tak melakukan apa-apa, padahal jarumnya terus melangkah tanpa henti menghitung jejak kehidupan kita," tutur Gusthia di hadapan para siswa.
Beliau menekankan betapa tipisnya batas antara keberhasilan dan kerugian yang disebabkan oleh cara manusia memperlakukan waktu:
Satu Jam yang Hilang: Satu jam yang dihabiskan untuk menunda, bermalas-malasan, atau sekadar bermain tanpa mengingat waktu adalah kerugian berharga yang tak akan pernah bisa diputar kembali.
Momen di Dalam Kelas: Mengabaikan penjelasan guru demi obrolan ringan di meja belakang hanya akan meninggalkan penyesalan. Setiap detik yang terlewat dalam keabaian adalah ilmu yang menguap begitu saja.
Keajaiban Waktu yang Dimanfaatkan: Sebaliknya, satu jam yang didedikasikan untuk membaca buku atau menyerap ilmu akan membuka jendela pengalaman dan wawasan yang melampaui batas ruang kelas.
Menenun Generasi Penerus Bangsa
Pesan mendalam ini bukan sekadar imbauan akademis, melainkan seruan jiwa bagi generasi muda yang kelak akan memegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa.
Gusthia mengingatkan bahwa keberhasilan masa depan tidak dibangun dari keajaiban yang mendadak, melainkan dari akumulasi keputusan-keputusan kecil dalam menghargai waktu setiap harinya.
Mengakhiri amanatnya dengan doa dan harapan, pesan tentang jam dinding tersebut meninggalkan gema yang hangat di halaman sekolah menjadi pengingat bahwasanya waktu adalah kanvas, dan setiap detik adalah goresan kuas yang menentukan indahnya masa depan. (RR)
Ditulis: Ronaldo Rozalino Coach RR

Posting Komentar
Komentar ya