Bukan karena mereka jahat. Tapi karena tidak ada yang mengajarkan mereka cara bertahan!
========================================
"Mereka tidak murtad karena benci Islam." Mereka pergi karena lelah. Lelah dengan agama yang terasa seperti beban, bukan pelukan.
Dan yang paling menyakitkan, Al-Quran sudah memperingatkan ini jauh sebelum kita lahir.
Pertanyaannya: apakah kita mau membacanya dengan jujur?
Dunia terasa lebih nyata dari akhirat.
Allah berfirman:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيُوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَفِلُونَ
"Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai." –📖 QS. Ar-Rum: 7
Kita hidup di era di mana kesenangan bisa dipesan dalam 30 detik. Di mana layar lebih mudah ditatap daripada sajadah. Di mana kepuasan sesaat lebih terasa "nyata" daripada janji surga.
Bukan berarti mereka kafir. Mereka hanya tidak pernah diajari cara merasakan akhirat sedekat ini.
Rasulullah bersabda: "Akan datang suatu zaman di mana Islam tinggal namanya, Al-Quran tinggal tulisannya." - HR. Al-Baihaqi
Bayangkan tumbuh besar dengan agama yang hanya mengajarkan: jangan ini, jangan itu, nanti masuk neraka.
Tapi tidak pernah ada yang duduk dan berkata: "Nak, Allah itu sayang kamu. Sungguh-sungguh sayang."
Generasi yang tidak merasakan cinta Allah, mudah direbut oleh dunia yang menawarkan penerimaan tanpa syarat.
Syubhat masuk lebih cepat dari jawaban.
قَالَ يُبْنَى لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ
الشَّيْطَنَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ .
Dia (ayahnya) berkata, "Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia."
–📖 QS. Yusuf: 5
Di era ini, keraguan disebarkan dalam 280 karakter. Dalam video 60 detik yang terlihat ilmiah. Dalam argumen yang dikemas seolah "rasional" dan "bebas."
Sementara itu, banyak dari kita tidak pernah diajari cara menjawabnya. Tidak dengan emosi. Tapi dengan akal yang berpijak pada wahyu.
Yang tidak punya fondasi, akan tumbang saat badai datang.
Mereka mencari ketenangan, tapi tidak tahu harus ke mana.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُ الْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." –📖 QS. Ar-Ra’d: 28
Manusia zaman ini sedang krisis. Krisis makna. Krisis identitas. Dan mereka mencari jawabannya, di mana saja.
Meditasi. Filosofi Barat. Komunitas alternatif. Bahkan ideologi yang menolak Tuhan.
Bukan karena Islam tidak punya jawaban. Tapi karena tidak ada yang menunjukkan bahwa Al-Quran adalah jawaban itu.
Mereka tidak butuh ceramah. Mereka butuh dijemput. Rasulullah tidak pernah menunggu orang datang. Beliau turun ke jalan, duduk bersama manusia, bertanya, mendengar.
Hari ini, berapa banyak yang meragukan agamanya, tapi tidak tahu harus bertanya kepada siapa?
Yang takut dihakimi kalau bertanya. Yang merasa pertanyaannya terlalu "berbahaya." Al-Quran tidak takut dengan pertanyaan. Kitalah yang terkadang lupa bahwa menjawab adalah tanggung jawab kita.
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?"
QS. Fussilat: 33
#tadaburquran #dailygrowth
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DovF7ggGv/

Posting Komentar
Komentar ya