Benang Merah Waktu: Ketika Sang Guru Menjadi Rekan Sejawat
Prolog: Jejak yang Tak Pernah Pudar
Waktu adalah penenun yang paling sabar. Ia merajut hari demi hari, tahun demi tahun, menjadi sebuah permadani panjang bernama kehidupan.
Di dalam permadani itu, ada benang-benang merah yang tak kasat mata namun begitu kuat, menghubungkan hati-hati yang pernah saling memberi warna.
Salah satu benang merah terindah itu adalah ikatan antara seorang guru dan siswanya. Bapak H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd., atau yang akrab disapa Ayahnda oleh para siswanya di SMAN Pintar Kuantan Singingi, baru-baru ini menyaksikan keajaiban waktu itu terurai di depan matanya.
Sebuah pertemuan yang tak hanya melepas rindu, tapi juga menegaskan makna abadi dari sebuah amanah edukasi.
Episode Pertama: Suatu Sore di SMAN 1 Cerenti
Matahari sore itu, entah berapa tahun ke depan (konon di tahun 2026), menerpa wajah seorang pria. H. Ronaldo Rozalino berdiri di halaman SMAN 1 Cerenti, bukan sebagai guru yang akan mengajar, melainkan sebagai seorang Dewan Juri untuk ajang Vokal Solo POS tingkat SMA se-Kabupaten Kuansing dan INHU sekaligus HUT merayakan HUT SMAN 1 Cerenti ke 33 Tahun.
Di tengah hiruk pikuk acara, pandangannya tertuju pada sesosok wanita. Wajah yang familiar, namun dengan pancaran kedewasaan yang berbeda.
"Luar Biasa!" batinnya berteriak, sebuah seruan yang sering ia lontarkan ketika melihat sesuatu yang istimewa.
Wanita itu adalah Encik Apridayanti, S.Pd. Baginya, ia bukan sekadar rekan sejawat yang kini berdiri di sampingnya. Ingatan H. Ronaldo Rozalino melesat ke belakang, ke masa 14 tahun yang lalu.
Kilas Balik: Paskibraka dan "Salam AKI" (Aktif Kreatif Inovatif)
Di benaknya, ia melihat Encik Apridayanti muda. Seorang gadis hebat yang penuh semangat, pernah mewakili SMAN Pintar Kuansing menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Kuansing.
Bayangan gadis itu berbaris gagah, seragam putih-putih, membawa bendera pusaka dengan bangga, masih begitu jernih.
H. Ronaldo Rozalino tersenyum. Ia teringat kembali jargon khasnya kala itu, "Salam AKI!", sebuah sapaan penuh semangat yang selalu ia berikan kepada anak-anak didiknya.
"Ternyata udah lama berjalan menunaikan amanah edukasi ini," tulisnya penuh perenungan. Benar adanya. Siswa hebat di masanya itu kini telah menjadi Guru Sejarah di SMAN 1 Cerenti. Jejak sejarah yang pernah ia pelajari kini ia ajarkan kembali kepada generasi berikutnya.
"Sukses ya Naak. Barakallah Fiik." Sebuah doa tulus dari seorang guru yang melihat buah hatinya telah tumbuh dewasa dan meneruskan estafet perjuangan.
Episode Kedua: Merangkul Kembali Generasi Perintis
Pertemuan di SMAN 1 Cerenti sore itu tak berhenti di Encik Apridayanti. Semesta tampaknya sedang ingin merayakan kenangan.
Di sudut lain, H. Ronaldo Rozalino bersua dengan wajah-wajah lain yang tak asing lagi.
Mereka adalah para alumni SMAN Pintar Kuantan Singingi, namun bukan sembarang alumni.
Mereka adalah bagian dari Generasi Perintis dan Generasi Kedua sekolah tersebut. Waktu, yang kini telah bergulir sejauh 16 tahun, telah mengubah mereka.
"Pernah menjadi bagian edukasi mereka. Siswa hebat dimasanya. Keren! Masyaa Allah," tulis H. Ronaldo Rozalino, sebuah pengakuan tulus atas dedikasi dan potensi anak-anak didiknya.
Dua sosok yang ia temui kali ini adalah Ananda Yoza Destialara, S.Pd., dan Ananda Riyuni Anggita, S.Pd. Keduanya kini bukan lagi siswa yang duduk di bangku kelas, melainkan guru-guru hebat di SMAN 1 Cerenti.
Yoza, dengan kefasihannya dalam Bahasa Inggris, dan Riyuni, dengan kecerdasannya dalam Matematika dan TIK, kini berdiri sejajar dengan "Ayahnda" mereka.
Epilog: Sebuah Ikatan yang Melampaui Definisi
Pertemuan-pertemuan ini lebih dari sekadar reuni. Ini adalah sebuah cerminan, sebuah pengingat bahwa tugas seorang guru tidak pernah benar-benar selesai.
H. Ronaldo Rozalino, yang kini juga dikenal sebagai seorang guru penulis dan guru konten kreator Riau, terus berkarya. Namun, karya terbesarnya bukanlah tulisan atau video, melainkan jejak-jejak keberhasilan yang ia tinggalkan di hati dan masa depan para siswanya.
Di balik seragam dinas, gelar akademik, dan berbagai peran yang kini mereka emban, ikatan antara "Ayahnda" dan "Ananda" tetap utuh. Sebuah ikatan yang melampaui definisi formal hubungan guru dan siswa.
Benang merah waktu itu, yang dirajut dengan cinta, dedikasi, dan doa, kini telah terjalin kuat. Ia tidak lagi sekadar menghubungkan kenangan, tetapi juga menegaskan bahwa mereka semua adalah bagian dari satu keluarga besar yang terus tumbuh dan saling mendukung.
Salam AKI! Teruslah Berkarya dan Seluruh Ananda Hebat!
Dokumentasi ketika menjadi Dewan Juri Vokal Solo di SMAN 1 Cerenti Pekan Olahraga Raga dan Seni Tingkat SMA/SMK se Kab. Kuansing dan Kab. INHU
Bersama Kakanda Yulizar dan Adinda Rizki Ramadhan, S.Pd Guru Seni Budaya SMAN 1 Cerenti. Terima Kasih Amanah yang diberikan.
Alhamdulillah bersua Bapak Helmaheri, M.Pd Kepala Sekolahku dulu. Bersua di Masjid Cerenti. Beliau yang full suport program guru penggerak. Terima Kasih sudah dukung ya Bapak. Beliau orang hebat namun selalu membumi. Banyak hal yang saya pelajari dari beliau ketika menjadi kepala SMAN 1 Sentajo Raya. Kini beliau Kepala Sekolah SMAN 1 Kuantan Hilir. Sukses dan selalu diberikan kebaikan dan rahmat Allah SWT. Aaamiin. Salam Santun.
Tempat suci untuk bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah SWT. Rumah Allah, Masjid. Sholat Zuhur dan Ashar disini. Alhamdulillah.
Hari ini perjalanan edukasi dan silaturahmi begitu menyenangkan. Alhamdulillah.
Kamis, 3 September 2026.

Posting Komentar
Komentar ya