Bukan Trah, Tapi Trust: Meneladani Kepemimpinan Amanah dalam Persyarikatan
"Ronaldo Rozalino"
Bismillah. Dalam panggung sejarah kemanusiaan, kepemimpinan sering kali dipandang sebagai mahkota yang diwariskan melalui garis keturunan seseorang memangku tampuk kekuasaan bukan karena kelayakannya, melainkan karena darah yang mengalir di tubuhnya. Namun, napas perjuangan dalam wadah Muhammadiyah merajut narasi yang sungguh berbeda.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menuturkan sebuah pesan bernas:
“Di organisasi lain mungkin ada yang pimpinannya dipilih berdasarkan trah, sementara di Muhammadiyah kepemimpinannya dipilih berdasarkan trust.”
Ungkapan ini menggarisbawahi bahwa kepemimpinan dalam Muhammadiyah tidak dibangun di atas fondasi takdir biologis atau garis keturunan (trah), melainkan ditopang oleh fondasi kepercayaan (trust). Kepercayaan tersebut lahir dari integritas, keahlian, dan pengabdian yang nyata.
Amanah sebagai Fondasi Kepercayaan
Di dalam Islam, kekuasaan dan kepemimpinan bukanlah hak istimewa untuk dibanggakan, melainkan beban tanggung jawab yang amat berat.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 58:
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil...”
Kepemimpinan yang berlandaskan trust adalah bentuk nyata dari pengamalan ayat ini. Kepercayaan tidak dapat dipaksakan; ia ditempa melalui rekam jejak, ketakwaan, serta dedikasi. Seseorang yang memegang amanah organisasi dinilai dari kesiapannya melayani umat, bukan dari nama besar keluarga yang menyertainya.
Merujuk pada Teladan Rasulullah SAW
Prinsip merawat integritas dan kapasitas di atas faktor keturunan juga selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menegaskan pentingnya menyerahkan suatu urusan kepada orang yang benar-benar ahli dan tepercaya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bentuk menyia-nyiakannya?” Beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”
Sifat Al-Amin (terpercaya) yang melekat pada diri Rasulullah SAW sebelum beliau diangkat menjadi nabi adalah cermin utama bahwa trust merupakan syarat mutlak seorang pemimpin. Kepemimpinan Muhammadiyah meletakkan modal sosial dan spiritual ini sebagai pilar utama untuk menjaga keberlangsungan gerak dakwah amar ma'ruf nahi munkar.
Amanah untuk Kemajuan Bersama
Menjaga kepercayaan adalah modal utama untuk merawat persyarikatan dan melanjutkan estafet perjuangan. Ketika pimpinan dipilih berdasarkan kualitas ketaqwaan, kapasitas, dan rekam jejak yang tepercaya, maka organisasi akan senantiasa segar, dinamis, dan objektif dalam merespons tantangan zaman.
Melalui kepemimpinan berbasis trust, Muhammadiyah terus membuktikan komitmennya sebagai gerakan Islam yang berkemajuan sebuah rumah bersama tempat setiap insan dinilai dari karya dan keikhlasannya, bukan dari garis keturunannya.
Penulis: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau)

Posting Komentar
Komentar ya