Ketundukan Hati kepada Sang Maha Pemilik_Ronaldo Rozalino
Bismillah. Pernahkah kita merenungkan sebuah ironi sederhana dalam kehidupan sehari-hari? Di dunia profesional maupun organisasi, ada sebuah ungkapan populer:
“Siapa yang memberi dana, dialah yang berhak mengatur.”
Uniknya, manusia sering kali begitu patuh, tunduk, bahkan rela mengorbankan waktu dan tenaganya demi menuruti setiap keinginan sang donatur atau pemberi fasilitas.
Namun, mari sejenak kita menepi dan bertanya kepada hati nurani yang paling dalam:
jika manusia tunduk pada pemberi dana yang sejatinya fana, mengapa kita begitu sering membangkang kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan?
Hakikat Sang Maha Pemberi Rezeki
Bila diukur dari nikmat, Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Sang Pemberi Terbesar yang tak pernah menuntut kembalian.
Setiap hembusan napas, detak jantung, penglihatan, hingga rezeki yang mengalir setiap hari adalah fasilitas gratis dari-Nya.
Allah menegaskan kedudukan-Nya sebagai pemilik dan pengatur tunggal alam semesta dalam Al-Qur'an:
"Ingatlah, menciptakan dan mengatur adalah hak prerogatif Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Al-A'raf: 54)
Allah tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya. Segala bentuk aturan, perintah, dan larangan yang Dia turunkan bukan untuk kepentingan-Nya, melainkan demi kebaikan dan keselamatan manusia itu sendiri.
Menundukkan Jiwa yang Enggan Diatur
Sifat dasar manusia sering kali dipenuhi keangkuhan. Kita merasa bebas menentukan jalan sendiri, padahal seluruh pijakan bumi yang kita tempuh adalah milik-Nya.
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:
"Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka memohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi petunjuk kepadamu..."
(HR. Muslim no. 2577)
Hadis ini mengingatkan betapa lemahnya manusia tanpa bimbingan Ilahi. Mengaku beriman tetapi enggan diatur oleh syariat-Nya adalah sebuah kesombongan yang samar.
Ketika hati merasa berat menjalankan perintah-Nya, di situlah letak ujian keikhlasan kita.
Kepemimpinan Utama: Memimpin Diri Menuju Ketundukan
Menjadi pribadi yang taat bukanlah bentuk kekangan, melainkan bentuk kemerdekaan tertinggi yakni merdeka dari perbudakan hawa nafsu dan atribut duniawi.
Jika kepada manusia yang memberi sedikit materi kita bisa begitu patuh, sudah sepatutnya jiwa ini bersimpul pasrah di hadapan Sang Maha Kuasa.
Mari rapihkan kembali niat dan langkah. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan sejati dimulai saat kita mampu memimpin diri sendiri untuk tunduk penuh pada aturan Sang Creator; Allah SWT.
Jazakumullah Khairan Khatsiran
Barakallah Fiik
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
14 tahun yang lalu

Posting Komentar
Komentar ya