Kekuasaan Hanya Titipan, Akhlak Mulia Pengikat Keabadian
"Ronaldo Rozalino"
Bismillah. Dalam panggung sandiwara dunia, seringkali kita saksikan kilauan mahkota kekuasaan yang begitu memukau, menggoda iman, dan membutakan mata hati.
Kursi-kursi jabatan yang megah berbaris rapi, mengundang ambisi untuk mendudukinya. Namun, layaknya embun pagi yang menguap disengat matahari, kilauan itu hanyalah fana.
Di balik bayang-bayang kekuasaan yang sesaat itu, tersimpan sebuah rahasia keabadian yang sesungguhnya. Rahasia itu tidak terletak pada seberapa tinggi kita duduk, melainkan pada seberapa indah jejak akhlak yang kita tinggalkan.
Pesan ini ditulis bukan dengan tinta emas di atas kertas mahal, melainkan dipahatkan dengan ketulusan hati melalui rangkaian kata-kata yang begitu menggugah jiwa:
"Jabatan Bisa Dicabut, Kekuasaan Bisa Berakhir. Tetapi cara Anda memperlakukan orang lain saat berada di atas, akan terus dikenang. Maka jangan sombong ketika berkuasa, jangan kasar ketika berbicara, dan jangan merendahkan ketika memiliki wewenang. Sebab yang paling lama diingat bukan jabatan Anda, melainkan akhlak Anda."
- Ronaldo Rozalino -
Rangkaian kata ini bukanlah sekadar susunan huruf yang indah, melainkan sebuah refleksi dari nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Islam.
Ia menjadi pengingat yang begitu puitis namun tajam tentang hakikat kekuasaan yang sesungguhnya. Kekuasaan itu bukanlah sebuah warisan abadi, melainkan sebuah amanah yang berat.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surat Ali 'Imran ayat 26:
"Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”"
Ayat ini mempertegas bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Allah. Dia-lah yang memberi dan Dia pula yang berhak mencabutnya kapan saja. Oleh karena itu, sungguh ironis jika seseorang yang diberi amanah kekuasaan justru menjadi sombong dan menganggap kekuasaan itu miliknya selamanya.
Kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim)
Ketika berada di puncak kekuasaan, godaan untuk bersikap sombong dan merendahkan orang lain seringkali begitu kuat.
Saling mengingatkan untuk tetap rendah hati. Kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk berbuat baik, bukan untuk menindas.
Kekuasaan adalah panggung untuk menabur benih-benih kebaikan, bukan untuk menumbuhkan duri-duri permusuhan. Cara kita memperlakukan orang lain saat kita berada di atas adalah cerminan dari kedewasaan spiritual kita.
Lidah adalah pedang yang bisa melukai tanpa meninggalkan luka fisik, namun bekasnya akan tertanam jauh di lubuk hati. Oleh karena itu, kelembutan dalam bertutur kata adalah sebuah keharusan.
Allah SWT berfirman:
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu." (QS. Ali 'Imran: 159)
Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan yang luar biasa dalam kelembutan bertutur kata. Beliau bersabda:
"Orang muslim yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Akhlak yang baik adalah mahkota sesungguhnya bagi seorang hamba. Ia adalah perhiasan yang tidak akan pernah pudar, bahkan setelah jabatan itu pergi.
Jabatan hanyalah sebuah pakaian yang bisa ganti, namun akhlak adalah jati diri yang akan terus melekat.
Ketika kita meninggalkan panggung kekuasaan, yang akan diingat oleh orang-orang bukanlah seberapa besar ruang kantor kita, melainkan seberapa besar ketulusan hati kita dalam melayani mereka.
Akhlak yang baik adalah kunci kesuksesan yang sesungguhnya. Ia bukanlah sekadar seorang profesional yang mengejar materi, melainkan seorang hamba yang berusaha untuk meninggalkan jejak kebaikan melalui setiap karya dan tindakan kita selama hidup.
Sebuah ajakan untuk merenungkan kembali tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Hidup bukanlah tentang seberapa tinggi kita naik, melainkan tentang seberapa banyak orang yang bisa kita angkat bersama kita.
Kekuasaan bukanlah tentang seberapa banyak orang yang bisa kita perintah, melainkan tentang seberapa banyak orang yang bisa kita layani dengan penuh kasih sayang.
Mari kita jadikan pesan ini sebagai lentera yang menerangi jalan kita. Mari kita hiasi setiap langkah kita dengan akhlak yang indah, agar kelak ketika nama kita disebut, yang terlintas di benak orang-orang bukanlah jabatan kita, melainkan kebaikan hati kita.
Sebab, dalam timbangan Allah, yang paling berat adalah akhlak yang mulia. Dan di dalam hati manusia, yang paling lama diingat adalah ketulusan kasih sayang kita.
Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua untuk terus memperbaiki akhlak dan menjadikan setiap jabatan sebagai amanah untuk berbuat baik.
Salam Santun
Barakallah Fiik
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
14 tahun yang lalu
