Medan Perang Sunyi di Balik Senyum Bersahaja_Ronaldo Rozalino
Bismillah. Melihat seulas senyum ramah dari seorang pria di dalam mobil mengenakan peci hitam dan kemeja batik hijau yang membumi kita mungkin hanya menangkap potret kehidupan manusia biasa yang tenang dan penuh kedamaian.
Namun, jika kita menyingkap tabir realitas yang lebih dalam, setiap dari kita sejatinya sedang berdiri di tengah medan pertempuran yang tak kasat mata.
Layaknya transformasi epik dalam poster "Silent Frontline", sosok yang bersahaja itu mewakili jiwa seorang prajurit tangguh di tengah kekacauan, menggenggam keteguhan di antara asap tebal dan bara api ujian kehidupan.
Tiga pilar yang tertulis tegas Courage (Keberanian), Sacrifice (Pengorbanan), dan Hope (Harapan) bukanlah sekadar pemanis visual.
Ketiganya adalah bekal mutlak bagi setiap jiwa yang berjuang. Slogan "A War Leaves No Witnesses" (Perang Tak Meninggalkan Saksi) menjadi satir yang indah; sebab perang paling dahsyat dan paling sunyi sering kali tidak disaksikan oleh siapa pun, melainkan peperangan yang berkecamuk di dalam batin kita sendiri.
Dalam keanggunan ajaran Islam, perjuangan sunyi ini dikenal sebagai jihad tertinggi. Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat sepulang dari pertempuran fisik yang melelahkan, bahwa peperangan sesungguhnya baru saja dimulai. Beliau bersabda:
"Kita baru saja kembali dari jihad (perang) yang kecil menuju jihad yang lebih besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu." (Riwayat Al-Baihaqi)
Bara api, debu yang beterbangan, dan raut wajah kotor penuh determinasi pada visual tersebut adalah metafora dari ujian hidup yang datang silih berganti.
Terkadang kita terluka, kotor, dan lelah, namun senapan (ikhtiar) tetap harus dipegang erat dengan posisi siaga. Dalam kondisi mencekam seperti apa pun, seorang pejuang kehidupan tidak boleh kehilangan harapan.
Allah SWT memberikan kepastian bagi mereka yang bertahan di garis depan kesabaran ini.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, 'Kapankah datang pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)
Karya visual yang digagas oleh Ronaldo Rozalino (Coach RR) ini menjadi sebuah refleksi puitis yang mendalam.
Di balik pakaian keseharian kita entah itu kemeja, seragam, atau sehelai batik bersemayam jiwa seorang komandan tempur.
Kita adalah prajurit sekaligus pelatih bagi ketangguhan diri kita sendiri. Teruslah berdiri tegak di garis depan kehidupan yang sunyi ini.
Walau bumi mungkin tidak mencatat keringat dan air mata pengorbananmu, pastikan langkahmu tetap tegap, karena langit senantiasa menjadi saksi atas setiap perjuangan.
Salam Tangguh
Guru Pejuang Pendidikan Di Era Digital
Ronaldo Rozalino,
S.Sn.,M.Pd, C.PS, C.ME, C.TCC, C.TM, C.QEM, C.TP, C.CCW, C.IB, C.TLE, C.IB, C.HTeach etc

Posting Komentar
Komentar ya