Ziyadul Kamal; Bukan Sekadar seremonial, Mengukir Jiwa Pembelajar, Karakter dan Disiplin di SRT 1 Kuansing
Senin pagi, 14 September 2026. Udara sejuk Koto Kari, Kuantan Tengah, perlahan menyapa dengan kehangatan lembut.
Di bawah bentangan langit yang meretas fajar, tanah merah lapangan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kuantan Singingi bertukar cerita dengan langkah-langkah kaki generasi muda. Dari jenjang SRSD, SRMP, hingga SRMA, barisan berdiri tegap.
Upacara bendera pagi itu bukanlah sekadar ritual seremonial yang berlalu dihantam angin. Di balik kibaran Sang Saka Merah Putih, tersemat sebentuk cinta yang mendalam pada tanah air sebuah denyut nadi kebangsaan yang diikat oleh kesadaran dan cita-cita.
Petuah Bijak dari Sang Pembina
Berdiri di hadapan barisan santun para siswa dan pendidik, Pembina Upacara yang juga Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kab. Kuansing, Ziyadul Kamal, S.Pd.I., M.A., mengalirkan amanah yang menyejukkan sekaligus membakar semangat:
"Upacara ini bukan sekadar seremonial, namun bagian dari rasa cinta kita kepada tanah air..."
Memasuki minggu kedua masa matrikulasi, ruang-ruang kelas dipanggil untuk menjadi saksi perjuangan. Tidak ada tempat bagi rasa malas; yang ada hanyalah gelora untuk merajut kesuksesan.
Di tempat ini, hidup diajarkan secara utuh. Mulai dari terpejamnya mata pada pukul 10 malam untuk menjaga stamina tubuh, hingga ketukan langkah saat terbangun di pagi hari.semuanya adalah simfoni disiplin yang merajut kesuksesan masa depan.
Bagi mereka yang tengah diuji dengan rasa sakit yang ringan, terselip pesan agar pantang menyerah dan tak cengeng, seraya doa terus dipanjatkan agar kesehatan segera kembali menyapa.
Pijak Pertama Angkatan Perintis
Secara khusus, tatapan dan harapan tertuju kepada ananda siswa-siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).
Selama tiga tahun menempuh proses di tanah perintis ini, keberadaan angkatan pertama adalah mercusuar. Langkah dan keteladanan abang dan kakak SRMA menjadi penuntun bagi adik-adik di tingkatan SRSD dan SRMP.
Tiga pilar karakter teguh pun ditegaskan untuk menjaga kesucian lingkungan belajar ini:
Bebas Perundungan (Bullying): Menegakkan pesan Menteri Sosial, tiada tempat bagi perundungan dalam bentuk apa pun.
Tanpa Kekerasan Fizikal: Menjaga persaudaraan tanpa gesekan dan luka fisik.
Merawat Toleransi: Mengikis intimidasi dan perbedaan, karena di mana pun asal-usul kita, kita dipersatukan dalam kebhinekaan yang harmonis.
Sebuah semangat kebersamaan pun turut digelorakan untuk merestui langkah para ksatria sekolah yang akan berlaga pada Kejuraan Kabupaten (Kejurkab) Pencak Silat tingkat Kuantan Singingi.
Doa terbaik membumbung, berharap ukiran prestasi terbaik mengharumkan nama SRT.
Menutup Harapan dengan Harmoni
Jiwa dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuansing terangkum indah dalam senandung niat dan semboyan:
"SRT: Sayangi Orang Tua, Hormati Guru."
"SRT 1: Kayuah... Kayuah...!"
Seusai amanah yang memantik bara semangat itu mengangkasa, langkah kaki para Guru Tamu dan siswa kembali memasuki ruang-ruang kelas.
Pembelajaran matrikulasi dilanjutkan dengan pengayaan materi yang mendalam, menenun ilmu demi masa depan yang gilang-gemilang.
Sebab di balik setiap proses yang berkualitas, ada jiwa-jiwa yang tak lelah bergandengan tangan, mengayuh bahtera pendidikan menuju tingkat kejayaan.
Ditulis Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Guru Tamu SRMA Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kab. Kuansing / Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya, Riau)
