Menjejak Karya, Meredam Tepuk Tangan: Hakikat Karakter Kader Persyarikatan
Ronaldo Rozalino
Bismillah. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali mengukur keberhasilan dari seberapa riuh tepuk tangan dan seberapa megah panggung yang didapat, seorang kader sejati justru berjalan dalam senyap. Ia tidak sibuk menyusun pamor, melainkan tekun merawat kebaikan.
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah) menegaskan karakter mendasar ini:
“Ciri kader Muhammadiyah, ketika dia dipercaya, diberi amanah, ketika dia berada di suatu tempat, pasti di pikirannya apa yang bisa ditinggalkan, sesuatu yang baik di tempat ini.”
Pesan tersebut menjadi pemanggil jiwa bagi setiap kader Persyarikatan. Bergerak bukan untuk memburu sanjungan, melainkan untuk meninggalkan jejak berupa warisan kebaikan yang terus mengalir dan memberi manfaat bagi sesama serta lingkungan sekitar.
Makna Kebermanfaatan dalam Tinjauan Islam
Di dalam ajaran Islam, kebaikan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita genggam, melainkan seberapa besar dampak yang mampu kita alirkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Nilai seorang kader tidak terletak pada panggung tempatnya berdiri, melainkan pada kemanfaatan yang ditebarkan. Ketika niat di tata murni karena Allah, maka kebaikan yang ditinggalkan akan bernilai ganda: sebagai ibadah yang menenangkan jiwa, sekaligus amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan ketika usia telah purna.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 7:
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
Menjaga Kemurnian Niat
Ujian terbesar dari sebuah pengabdian adalah godaan kepopuleran. Namun, kader Persyarikatan diajarkan untuk membentengi diri dengan keikhlasan.
Mengabdi tanpa perlu diakui, menanam tanpa harus menagih hasil, dan memimpin tanpa harus berambisi disanjung.
Bila amanah singgah, ia dipandang sebagai ladang menanam kebajikan, bukan kesempatan menumpuk kebanggaan. Di mana pun berada baik di pelosok daerah maupun di pusat peradaban pikirannya selalu tertuju pada satu muara: kebaikan apa yang bisa dihadirkan di sini?
Jejak Abadi Seorang Kader
Kemegahan panggung akan runtuh ditelan waktu, dan tepuk tangan akan reda seiring berlalunya masa. Namun, warisan kebaikan berupa ilmu yang diajarkan, keteladanan yang ditunjukkan, serta karya nyata yang dirasakan masyarakat akan tetap abadi.
Mari terus melangkah, merawat niat, dan menebar kemanfaatan tanpa henti. Sebab pada akhirnya, sebaik-baiknya diri adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama.
Penulis:
H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretaris Komisi Info & Komunikasi MUI Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERUAS, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
