Belajar Menjadi Kuat: Syukur Saat Lapang, Sabar Saat Sulit
Meneladani Makna Kehidupan dari Sosok B.J. Habibie
Oleh : "Ronaldo Rozalino"
Bismillah. Ada manusia yang kepergiannya meninggalkan kesunyian.
Tetapi ada pula manusia yang meskipun telah pergi, gagasan, perjuangan, keteladanan, dan kata-katanya tetap hidup di dalam ingatan banyak orang.
Salah satunya adalah Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie). Beliau wafat pada 11 September 2019 di Jakarta. Pemerintah Indonesia saat itu mengenang beliau sebagai sosok negarawan dan teladan dalam kehidupan berbangsa.
Namun, lebih dari sekadar mengenang seorang tokoh, ada pelajaran kehidupan yang jauh lebih dalam dari pesan-pesan yang beredar dalam gambar-gambar yang kita baca: tentang kesulitan, pasangan hidup, rasa syukur, keteguhan hati, dan bagaimana menghadapi kehidupan dengan jiwa yang matang.
Dan pada akhirnya, semua itu membawa kita kepada satu pertanyaan:
Sudahkah kita belajar menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan hati?
1. Tidak Semua Perjalanan Harus Mudah
Ada masa ketika hidup terasa begitu ringan.
Pekerjaan berjalan lancar.
Keluarga dalam keadaan baik.
Rezeki datang tanpa banyak hambatan.
Orang-orang di sekitar memberikan dukungan.
Tetapi ada pula masa ketika semuanya terasa berat.
Rencana tidak berjalan sesuai harapan.
Orang yang kita cintai pergi.
Usaha mengalami kegagalan.
Hati harus menerima kenyataan yang tidak pernah kita minta.
Pada saat seperti itulah manusia diuji.
Bukan hanya seberapa kuat ia berdiri, tetapi seberapa dalam ia percaya kepada Allah.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Asy-Syarh: 5–6
Perhatikan kata “bersama”.
Bukan semata-mata setelah kesulitan.
Artinya, ketika kita sedang berada di dalam ujian, boleh jadi Allah sedang menumbuhkan sesuatu yang tidak langsung terlihat:
kesabaran, kedewasaan, kekuatan, keteguhan, atau bahkan jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Kadang-kadang kita mengira sedang kehilangan sesuatu.
Padahal Allah sedang mengajarkan kita cara menemukan diri sendiri.
2. Jangan Menunggu Hidup Sempurna untuk Bersyukur
Salah satu pesan BJ.Habibi adalah tentang belajar mengucapkan syukur dari hal-hal baik dalam kehidupan.
Ini adalah nasihat yang sangat dekat dengan ajaran Islam.
Allah berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
QS. Ibrahim: 7
Syukur bukan hanya ketika kita memiliki banyak.
Syukur adalah ketika kita mampu melihat kebaikan Allah bahkan di tengah keterbatasan.
Masih bisa bernapas bersyukur.
Masih memiliki keluarga bersyukur.
Masih diberi kesempatan memperbaiki diri bersyukur.
Masih dapat bekerja, belajar, mengajar, berkarya, dan berbuat baik bersyukur.
Sebab sering kali manusia baru menyadari mahalnya sebuah nikmat setelah nikmat itu pergi.
Maka jangan tunggu kehilangan untuk menghargai.
Jangan tunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Jangan tunggu kesunyian untuk menghargai seseorang yang selama ini menemani.
Jangan tunggu perpisahan untuk mengucapkan:
“Terima kasih sudah pernah ada dalam hidupku.”
3. Dalam Kehidupan, Kita Tidak Membutuhkan Manusia yang Sempurna
Ada pesan indah dalam materi yang diberikan:
“Tak perlu seseorang yang sempurna. Cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia. Dan membuatmu berarti lebih dari siapapun.”
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa hubungan manusia tidak dibangun oleh kesempurnaan.
Suami tidak sempurna.
Istri tidak sempurna.
Orang tua tidak sempurna.
Guru tidak sempurna.
Pemimpin tidak sempurna.
Sahabat pun tidak sempurna.
Sebab manusia memang diciptakan dengan keterbatasan.
Yang membuat sebuah hubungan menjadi indah bukan karena tidak pernah ada kekurangan, melainkan karena ada kesediaan untuk memahami, memaafkan, menjaga, dan bertumbuh bersama.
Allah berfirman tentang pasangan:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
QS. Ar-Rum: 21
Rumah tangga bukan tempat mencari manusia sempurna.
Rumah tangga adalah tempat dua manusia yang sama-sama tidak sempurna belajar menjadi lebih baik di hadapan Allah.
Karena itu, jangan hanya mencari seseorang yang membuat kita bahagia.
Carilah juga seseorang yang membuat kita lebih dekat kepada kebaikan.
4. Ketika Hidup Terasa Sulit, Jangan Berjalan Sendirian
Ada satu pesan dari BJ.Habibi:
“Jika prosesmu makin sulit, berarti kamu dan pasanganmu sudah berada di jalan yang tepat dan seharusnya. Hanya tetaplah bersama, apa pun rintangan di depan.”
Secara prinsip, kita perlu berhati-hati memahami kalimat seperti ini.
Tidak setiap kesulitan otomatis berarti kita berada di jalan yang benar.
Tetapi kesulitan memang merupakan bagian dari kehidupan.
Yang penting bukan sekadar berapa banyak masalah yang kita hadapi, melainkan bagaimana kita menghadapinya.
Allah mengajarkan:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
QS. Al-'Ankabut: 69
Dalam perjalanan hidup, ada kalanya kita membutuhkan seseorang yang berkata:
“Tenang, kita hadapi bersama.”
Kalimat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang sedang lelah, kalimat itu bisa menjadi rumah.
Sebab terkadang manusia tidak membutuhkan solusi yang panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit.
5. Belajarlah Menjadi Kuat dari Hal-Hal yang Menyakitkan
Salah satu pesan BJ. Habibi:
“Belajarlah mengucap syukur dari hal-hal baik di hidupmu. Belajarlah menjadi kuat dari hal-hal buruk di hidupmu.”
Inilah salah satu seni terbesar dalam menjalani kehidupan.
Yang baik mengajarkan kita bersyukur.
Yang buruk mengajarkan kita bersabar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
HR. Muslim no. 2999.
Betapa indah cara Islam mengajarkan kita membaca kehidupan.
Ketika mendapatkan nikmat, jangan sombong.
Bersyukurlah.
Ketika mendapatkan ujian, jangan berputus asa.
Bersabarlah.
Sebab seorang mukmin tidak hanya dinilai dari bagaimana ia tertawa ketika bahagia, tetapi juga dari bagaimana ia tetap menjaga iman ketika air mata jatuh.
6. Tidak Semua Penghinaan Harus Dibalas
Ada pesan dalam materi yang berbunyi:
“Ketika seseorang menghina kamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka.”
Kalimat tersebut dapat kita renungkan dengan lebih bijaksana.
Tidak semua perkataan orang harus kita masukkan ke dalam hati.
Ada kritik yang perlu kita dengarkan.
Ada nasihat yang perlu kita perbaiki.
Tetapi ada pula ucapan yang cukup kita lepaskan.
Tidak semua anak panah harus dibalas dengan anak panah.
Kadang jawaban terbaik adalah diam, memperbaiki diri, lalu melanjutkan perjalanan.
Allah berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
QS. Al-Furqan: 63
Kedewasaan bukan ketika kita mampu membalas semua perkataan.
Kedewasaan adalah ketika kita tahu mana yang layak dijawab dan mana yang cukup diserahkan kepada Allah.
7. Belajar Menjadi Manusia yang Berarti
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki.
Bukan pula tentang seberapa tinggi jabatan kita.
Bukan hanya tentang berapa banyak orang mengenal nama kita.
Tetapi:
Berapa banyak kebaikan yang tertinggal setelah kita pergi?
B.J. Habibie telah meninggalkan jejak dalam sejarah Indonesia. Namun setiap manusia memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejaknya sendiri.
Seorang guru meninggalkan ilmu.
Seorang ayah meninggalkan keteladanan.
Seorang ibu meninggalkan kasih sayang.
Seorang pemimpin meninggalkan kebijaksanaan.
Seorang sahabat meninggalkan kenangan.
Dan seorang mukmin meninggalkan amal saleh yang terus mengalir pahalanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
HR. Muslim.
Maka jangan terlalu sibuk bertanya:
“Apa yang akan orang katakan tentangku?”
Lebih baik bertanya:
“Apa yang akan Allah nilai dari hidupku?”
Sebab tepuk tangan manusia akan berhenti.
Pujian akan berlalu.
Popularitas akan memudar.
Harta akan ditinggalkan.
Jabatan akan berakhir.
Tetapi amal yang ikhlas akan menjadi bekal ketika kita berdiri seorang diri di hadapan Allah.
Hidup Adalah Perjalanan Pulang
Kita semua sedang berjalan menuju satu tempat yang sama.
Ada yang jalannya panjang.
Ada yang singkat.
Ada yang penuh bunga.
Ada yang dipenuhi duri.
Ada yang berjalan bersama orang-orang yang dicintainya.
Ada pula yang harus belajar kuat dalam kesendirian.
Namun pada akhirnya, kita semua akan pulang.
Maka selama perjalanan masih diberikan kesempatan, jangan lelah menjadi baik.
Jika mendapatkan nikmat, bersyukurlah.
Jika mendapatkan ujian, bersabarlah.
Jika mendapatkan cinta, jagalah.
Jika mendapatkan kesalahan, perbaikilah.
Jika mendapatkan penghinaan, jangan kehilangan adab.
Jika mendapatkan kesuksesan, jangan kehilangan kerendahan hati.
Dan jika suatu hari kita kehilangan seseorang yang sangat kita cintai, jangan hanya menangisi kepergiannya.
Doakanlah.
Sebab cinta yang paling tulus tidak selalu berbentuk pelukan.
Kadang ia berubah menjadi doa yang diam-diam kita kirimkan ke langit.
Dan mungkin, inilah salah satu pelajaran terbesar kehidupan:
Tidak semua kesulitan harus ditakuti.
Tidak semua kehilangan harus disesali.
Tidak semua luka harus dibalas.
Dan tidak semua kebahagiaan harus dipamerkan.
Cukuplah Allah menjadi tempat hati bersandar.
Cukuplah syukur menjadi bahasa ketika bahagia.
Cukuplah sabar menjadi kekuatan ketika terluka.
Karena bersama kesulitan, Allah menjanjikan kemudahan.
Semoga kita menjadi manusia yang ketika hadir membawa ketenangan, ketika berbicara membawa kebaikan, ketika berjuang membawa manfaat, dan ketika pergi meninggalkan kenangan yang baik.
Sebab pada akhirnya, yang paling mahal dari kehidupan bukanlah berapa lama kita hidup, tetapi seberapa bermakna hidup kita bagi sesama dan seberapa dekat langkah kita kepada Allah.
Dinarasikan kembali oleh:
Ronaldo Rozalino – Coach RR
Teacherpreneur • Content Creator • Motivator • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach

Posting Komentar
Komentar ya