Jangan Menunggu Bahagia untuk Bersyukur
Belajar Menghargai Nikmat dan Memaafkan Kesalahan
Oleh: Ronaldo Rozalino
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada kalanya kita terlalu sibuk menunggu kebahagiaan, sampai lupa bahwa sesungguhnya banyak kebahagiaan telah Allah letakkan di dalam hidup kita hari ini.
Kita menunggu memiliki lebih banyak harta untuk bersyukur.
Menunggu pekerjaan yang lebih baik untuk merasa bahagia.
Menunggu segala keinginan terkabul sebelum mengucapkan Alhamdulillah.
Padahal, bisa jadi nikmat terbesar bukanlah sesuatu yang sedang kita tunggu, melainkan sesuatu yang setiap hari kita nikmati tetapi jarang kita sadari.
Masih bisa bernapas.
Masih diberi kesehatan.
Masih memiliki keluarga.
Masih dapat bekerja dan berkarya.
Masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bahkan kesempatan untuk bangun pagi dan memulai kembali adalah nikmat yang tidak semua orang mendapatkannya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah di bibir. Syukur adalah cara hati memandang kehidupan.
Syukur membuat yang sedikit terasa cukup.
Syukur membuat yang sederhana terasa istimewa.
Syukur membuat hati berhenti menghitung kekurangan dan mulai menyadari begitu banyak pemberian.
Karena terkadang bukan nikmat yang kurang, tetapi mata hati kita yang terlalu sibuk melihat apa yang belum dimiliki.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai
Ada orang yang baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah orang itu pergi.
Baru terasa hangatnya sebuah keluarga ketika jarak memisahkan.
Baru terasa nikmatnya kesehatan ketika tubuh mulai sakit.
Baru terasa berharganya waktu ketika kesempatan telah berlalu.
Baru memahami arti kehadiran seseorang setelah yang tersisa hanyalah kenangan.
Maka jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Peluklah orang tua selagi masih ada.
Sayangilah keluarga selagi masih bersama.
Hargailah sahabat yang masih menemani.
Jaga amanah yang sedang berada di tangan kita.
Sebab kehidupan mengajarkan satu hal yang sederhana:
Apa yang hari ini kita anggap biasa, suatu hari mungkin menjadi sesuatu yang sangat kita rindukan.
Jangan Membenci Seseorang Hanya Karena Satu Kesalahan
Manusia bukanlah satu kesalahan.
Seseorang bisa pernah keliru, tetapi bukan berarti seluruh hidupnya adalah kesalahan. Ustadz Adi Hidayat
Kita pun pernah jatuh.
Pernah salah bicara.
Pernah mengecewakan orang lain.
Pernah mengambil keputusan yang kemudian kita sesali.
Jika Allah masih memberikan kepada kita kesempatan untuk berubah, mengapa kita begitu mudah menutup pintu perubahan bagi orang lain? Ustadz Adi Hidayat
Al-Qur'an mengajarkan agar kita berhati-hati terhadap prasangka. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah melarang banyak prasangka, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang kita pikirkan tentang seseorang adalah kebenaran.
Jangan membangun keputusan besar hanya dari informasi yang belum utuh.
Jangan menghukum seseorang hanya berdasarkan satu cerita.
Jangan menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena satu kekeliruan.
Bukan berarti kita membenarkan kesalahan.
Kesalahan tetap perlu diakui, diperbaiki, dan jika menyangkut hak orang lain, diselesaikan dengan baik.
Namun, memberi seseorang kesempatan untuk berubah adalah bentuk kasih sayang yang juga perlu kita pelajari.
Allah Melihat Hati dan Amal
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa Allah tidak menilai manusia hanya dari rupa dan harta, tetapi melihat hati dan amalnya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim 2564c.
Maka tugas kita bukan menjadi hakim atas seluruh kehidupan orang lain.
Tugas kita adalah menjaga hati sendiri.
Apakah hati kita dipenuhi iri atau syukur?
Apakah lisan kita lebih sering memuji atau merendahkan?
Apakah kita senang melihat orang lain jatuh?
Ataukah kita mampu mendoakan kebaikan bahkan kepada orang yang pernah mengecewakan kita?
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari no. 13)
Betapa indahnya ajaran Islam.
Kita tidak hanya diajarkan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga diajarkan untuk memperindah hubungan dengan sesama manusia.
Belajar Menjadi Manusia yang Lapang
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.
Hidup adalah tentang belajar menerima apa yang Allah titipkan, menjaganya dengan sebaik-baiknya, dan tetap berjalan ketika sebagian yang kita cintai harus pergi.
Ada hari untuk tertawa.
Ada hari untuk menangis.
Ada saat untuk mendapatkan.
Ada saat untuk kehilangan.
Ada masa untuk dipuji.
Ada masa untuk disalahpahami.
Semua itu bagian dari perjalanan.
Maka, bersyukurlah ketika lapang dan bersabarlah ketika sempit.
Jangan menunggu bahagia untuk bersyukur.
Bersyukurlah, lalu lihatlah bagaimana hati perlahan menemukan kebahagiaan di dalam hal-hal sederhana.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai.
Hargailah hari ini, sebab hari ini tidak pernah berjanji akan kembali.
Dan jangan buru-buru membenci seseorang karena satu kesalahan.
Sebab kita pun berharap, ketika suatu hari melakukan kesalahan, masih ada hati yang bersedia melihat kebaikan dan memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri.
Barangkali menjadi dewasa bukan berarti kita tidak pernah kecewa.
Barangkali menjadi dewasa adalah ketika kita mampu berkata:
“Aku memilih bersyukur daripada terus mengeluh.
Aku memilih memaafkan daripada memelihara kebencian.
Aku memilih memperbaiki diri daripada sibuk menghakimi.
Dan aku memilih menghargai apa yang masih ada sebelum Allah mengambilnya.”
Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang pandai bersyukur, lembut dalam menilai, lapang dalam memaafkan, dan ringan dalam berbuat kebaikan.
Aamiin yā Rabbal ‘ālamīn.
Dinarasikan kembali oleh:
Ronaldo Rozalino – Coach RR
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach)
