Menembus Kabut, Menjalin Nada: Melodi Literasi Musik Daerah dan Populer dalam Ruang Maya SMAN 1 Sentajo Raya
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
Merangkai Rasa di Balik Layar Maya
Ketika tirai asap menutupi cakrawala Kuantan Singingi dan memaksa aktivitas tatap muka terhenti sejenak, ruang pembelajaran tidak lantas kehilangan jiwanya.
Selasa, 22 September 2026, menjadi saksi bagaimana keterbatasan jarak dan kabut yang membayang justru melahirkan perjumpaan kreatif yang hangat.
Melalui panggung digital Google Meet, para siswa Kelas XII.1 dan XI.3 SMAN 1 Sentajo Raya menyapa ruang belajar Seni Budaya dengan nyala semangat yang tak kunjung padam.
Di balik sekat-sekat layar monitor, terjalin sebuah pendekat belajar modern bernapaskan Deep Learning sebuah perjalanan bertumbuh
yang menggenggam erat tiga pilar utama:
Mindful (Berkesadaran), Meaningful (Bermakna), dan Joyful (Menyenangkan). Pembelajaran bukan sekadar soal pemenuhan tugas formal, melainkan ruang olah rasa dan penanaman nilai karakter yang memanusiakan manusia.
Harmoni Tradisi dan Popularitas: Menorehkan Orisinalitas Lirik
Di kelas XII.1, bait demi bait cerita dimulai dari apresiasi karya. Para siswa diajak menyelami denyut musik daerah melalui karya energik anak muda Kuansing, Candu Kembu Musik Pacu Jalur 2026, serta menyelami kedalaman emosi dari karya musik populer grup Republik.
Dari lanskap audio-visual tersebut, benih-benih imajinasi mereka mulai mekar.
Tanpa rasa takut dan tanpa bayang-bayang plagiarisme, para siswa merajut lirik demi lirik dengan bahasa serta ide orisinal dari benak mereka sendiri.
Satu per satu, dalam bingkai asesmen formatif yang jujur dan suportif, siswa membacakan kembali karya literasi musik buatan mereka. Suara mereka bergetar menyampaikan pesan, disimak secara khidmat oleh teman-temannya.
Di sanalah terpancar pendar potensi seni yang luar biasa siap untuk kelak dipanggungkan pada pentas sekolah maupun arena yang lebih luas.
Semangat senada membakar dinamika di Kelas XI.3. Memadu tradisi dan kekinian, siswa diajak mengeksplorasi lirik bertema lokal Kuansing namun dikemas menggunakan Bahasa Indonesia yang komunikatif.
Gelak tawa dan riang semangat membuncah, membuktikan bahwa meski tatap muka tak dapat dilakukan secara fisik, kehangatan bertukar gagasan tetap dapat dihadirkan secara utuh.
Siklus Belajar yang Tertata dan Penuh Makna
Setiap prosedur pembelajaran PJJ Seni Budaya ini disusun secara terstruktur namun tetap mengalir anggun:
Membuka Ruang Kalbu: Diawali dengan doa bersama dan refleksi awal.
Pengecekan Kehadiran: Menyapa setiap pribadi yang hadir di ruang maya.
Ice Breaking: Mencairkan suasana agar pikiran dan hati siap menyerap ilmu.
Penyampaian Materi & Apresiasi: Menonton dan mendengarkan referensi musik lokal dan populer.
Ekspresi & Asesmen Formatif: Menggubah lirik orisinal dan mempresentasikannya di depan teman-teman.
Refleksi & Testimoni: Mendengar langsung impresi jujur dari siswa.
Pesan Motivasi & Dokumentasi: Mengunci pembelajaran dengan senyum dan pose penuh gaya unik literasi.
Saat tiba di penghujung sesi, refleksi dari para siswa menjadi penyejuk hati. Secara jujur mereka menyampaikan bahwa PJJ hari ini terasa santai, inovatif, menyenangkan, serta memberikan manfaat nyata bagi ketajaman berpikir kritis dan literasi mereka.
Refleksi Diri Seorang Pendidik: Melangkah Bersama Zaman
Meski tidak seluruh siswa dapat bergabung di dalam ruang virtual karena kendala sinyal maupun daya baterai di tengah bencana asap, hal tersebut tidak mengurangi kesucian nilai edukasi yang ditanamkan.
Kehadiran mereka yang belum sempat bergabung akan tetap ditindaklanjuti secara humanis melalui komunikasi personal, bukan sekadar penumpukan tugas yang membebani.
Sebagai seorang pendidik, menyadari bahwa teknologi terus melaju pesat adalah sebuah keharusan.
Peran guru dalam membimbing, mendidik, dan menanamkan keteladanan memang tidak akan pernah tergantikan oleh mesin atau kecerdasan buatan apa pun.
Namun, guru yang enggan melek digital dan enggan belajar kelak akan tergerus oleh era.
“Tidak perlu berambisi menjadi guru yang hebat di mata dunia. Cukup jadikan diri kita hari ini lebih baik daripada diri kita yang kemarin. Karena keteladanan dan aksi nyata akan selalu bernilai lebih abadi daripada ribuan kata tanpa makna.” Ronaldo Rozalino.
Pembelajaran pun diakhiri dengan sesi foto bersama. Layar-layar kecil itu kini dipenuhi senyum ceria dan pose jari penuh simbol literasi.
Teruslah berkarya, anak-anak hebat SMAN 1 Sentajo Raya!
Rayakan setiap prosesnya, sebab orang-orang sukses adalah mereka yang mencintai jalan panjang bernama perjuangan.
Barakallah.
Salam Budaya,
Salam Kreativitas Era Digital!
Kayuah... Kayuah... Kayuah!
Guru Mata Pelajaran:
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
NIP. 198307302011021002
