Mengukir Akhlak di Ambang Fajar: 3 Pesan Emas Rasulullah untuk Jiwa yang Rindu Rahmat-Nya
Ust. Bagas Ihsanul Umam
Bismillah. Ketika gumpalan malam perlahan terurai dan fajar menyingsingkan tirai kedamaian di fajar Rabu, 23 September 2026, lengang dan tenangnya hembusan angin membawa keheningan di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan.
Di dalam rumah Allah yang dipenuhi ketenangan tersebut, para jemaah duduk bersimpuh melingkar dalam kehangatan Majelis Ilmu Subuh bersama Ustadz Bagas.
Suasana khusyuk meneduhi setiap sudut ruangan masjid. Ustadz Bagas memaparkan untaian nasehat yang menembus kalbu, merangkum tiga wejangan emas Rasulullah SAW sebagai penuntun langkah manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.
1. Bertakwalah kepada Allah di Mana Pun dan Kapan Pun
Pesan pertama menekankan pilar teragung dalam jiwa seorang muslim: takwa yang tiada berbatas tempat maupun waktu. Sebagaimana wasiat Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah keburukan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut akan menghapusnya..." (HR. At-Tirmidzi)
Takwa bukan sekadar hiasan lahiriah saat berada di dalam rumah ibadah, melainkan kompas jiwa di setiap helaan napas.
Dalam pengajarannya, dipaparkan lima tanda keindahan kepribadian orang yang bertakwa:
Rela dan mudah berinfak di saat lapang maupun sempit.
Mudah memaafkan kesalahan sesama tanpa menyisa dendam.
Pandai mengontrol emosi dan menahan gejolak amarah.
Ringan tangan dalam berbuat baik kepada siapa saja.
Mudah dan senantiasa bertaubat setiap kali tersandung kekhilafan.
Manusia memang tempatnya salah dan lupa, namun keindahan takwa mengajarkan kita untuk segera mengiringi setiap jelaga dosa dengan perbaikan dan kebaikan agar noda tersebut terkikis habis.
2. Memperbanyak Amal Saleh: Penghapus Dosa dan Penyegar Jiwa
Pesan kedua memanggil setiap hamba untuk memadati lembaran usianya dengan pundi-pundi amal saleh. Allah SWT berfirman dalam Surah Hud:
"Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk..." (QS. Hud: 114)
Langkah ini dapat ditegakkan dengan memaksimalkan salat fardu serta menghidupkan salat-salat sunnah. Selain salat, ladang pahala yang amat mudah dan indah dipetik adalah zikrullah:
"Subhanallahi wa bihamdihi" serta gema "Allahu Akbar".
Begitu pula dengan berakrab-akrab bersama Al-Qur'an. Setiap satu huruf yang terucap dari bibir seorang mukmin bernilai sepuluh kebaikan di sisi Allah SWT (HR. At-Tirmidzi).
Saat merasa diri sarat akan dosa, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah yang Maha Luas. Justru di situlah panggilan untuk semakin melipatgandakan amalan dan menenggelamkan keburukan dalam samudra pahala.
3. Berkata Baik atau Diam: Indahnya Akhlak Mulia
Pesan ketiga menuntut hamba-Nya untuk menata lisan dan menjaga kedamaian hati sesama. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Lisan adalah cerminan kedalaman jiwa. Menjaga perasaan orang lain dengan tidak menuturkan kata-kata yang melukai adalah puncak kesantunan berakhlak.
Apabila tidak mampu menyumbang kebaikan lewat tutur kata, maka diam dan berhusnudzon (berprasangka baik) adalah perhiasan terbaik bagi seorang mukmin.
Pagi itu di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, tiga pesan suci tersebut meresap pelan ke dalam dada.
Menjadi ikhtiar bersama agar sepulang dari majelis ilmu, langkah kaki senantiasa dituntun oleh cahaya takwa, lisan dihiasi dengan kebaikan, dan hati lapang penuh dengan sangka baik.
Ditulis Oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn, M.Pd
(Sekretaris Komisi Info & Komunikasi DP MUI Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERRUAS)

Posting Komentar
Komentar ya