Bismillah. Di bawah naungan kubah Masjid Ar-Raudha, Kuantan Singingi, suasana khusyuk menyelimuti hati jamaah pada shalat Jum'at, 18 September 2026.
Angin sepoi membawa petuah berharga dari mimbar, tatkala Al-Ustadz Darwis DT. menyampaikan uraian mendalam mengenai bekal hakiki seorang hamba.
Di tengah derasnya arus zaman yang seringkali melenakan, beliau mengingatkan kembali tentang tiga sifat utama yang menjadi kunci keselamatan, bukan hanya di alam fana ini, melainkan hingga ke negeri keabadian kelak.
Pesan ini layaknya oase di gurun pasir, menyejukkan jiwa yang dahaga akan petunjuk Ilahi. Mari kita selami samudra hikmah dari wasiat tersebut.
1. Merawat Khasyyah: Takut kepada Allah, Sang Pemilik Semesta
Sifat pertama yang menjadi tameng pelindung adalah rona ketakutan yang suci (khasyyah) kepada Allah SWT.
Ketakutan ini bukanlah ketakutan yang mendatangkan keputusasaan, melainkan ketakutan yang dibarengi rasa hormat dan cinta yang mendalam, yang mencegah diri dari kemaksiatan.
Sifat ini harus mendarah daging, baik tatkala diri berada dalam sunyinya malam maupun di tengah riuhnya keramaian manusia.
Ingatlah, tak ada satu helai daun pun yang gugur tanpa sepengetahuan-Nya. Setiap detak jantung dan bisikan hati kita senantiasa berada dalam pengawasan mata-Nya yang Maha Mengetahui (Muraqabah). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat," (QS. Qaf [50]: 33).
Senada dengan itu, dalam sebuah Hadist Qudsi, Allah SWT berfirman:
"Demi Kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada hamba-Ku, dan Aku juga tidak akan mengumpulkan dua keamanan padanya. Apabila dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan membuatnya takut pada hari kiamat. Dan apabila dia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan membuatnya aman pada hari kiamat." (HR. Ibnu Hibban).
Maka, jadikanlah rasa takut kepada-Nya sebagai penuntun langkah agar selalu lurs di jalan yang diredhai-Nya.
2. Tegak dalam Kebenaran: Tanpa Tendensi, Hanya demi Ridho Ilahi
Pilar kedua adalah keteguhan hati untuk menegakkan kebenaran. Seorang mukmin sejati adalah ia yang berani menyuarakan kebenaran (al-haq), bahkan jika itu pahit.
Keberpihakan pada kebenaran ini murni, bersih dari noda kepentingan politik praktis, ambisi pribadi, atau tekanan duniawi lainnya. Ia berdiri kokoh di atas pondasi iman, sehingga hidupnya senantiasa dilingkupi kebaikan dan keridhaan Allah SWT.
Allah SWT memberikan peringatan keras dalam firman-Nya:
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 42).
Nabi Muhammad SAW pun bersabda tentang keutamaan ini:
"Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit." (HR. Ahmad).
Menegakkan kebenaran adalah bentuk jihad lisan yang nyata. Jangan biarkan lisan kita kelu dan hati kita pengecut demi sejumput kesenangan duniawi yang semu.
3. Merangkul Kesederhanaan: Membasuh Hati dari Debu Kesombongan
Pilar ketiga adalah hidup dalam balutan kesederhanaan. Ini adalah wasiat yang sangat relevan di tengah kepungan gaya hidup konsumtif dan pamer kemewahan.
Kesederhanaan bukanlah berarti kemiskinan, melainkan sikap bersahaja dan tidak berlebih-lebihan.
Bahkan tatkala Allah SWT mengaruniakan kekayaan yang melimpah, seorang mukmin diajarkan untuk tetap hidup sederhana. Mengapa? Karena kesederhanaan adalah ibu dari sifat tawadhu' (rendah hati).
Hidup yang bergelimang kemewahan seringkali menyuburkan benih-benih kesombongan di dalam dada. Dan Allah sangat membenci kesombongan. Firman Allah SWT:
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman [31]: 18).
Rasulullah SAW mempertegas bahaya sombong dalam sabdanya:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim).
Di dalam diri kita ada segumpal daging bernama hati. Jangan biarkan hati itu mengeras karena tumpukan harta dan pujian manusia. Bersederhanalah, agar hati tetap lembut dan mudah menerima cahaya hidayah.
Menjemput Kemuliaan dengan Shalat dan Saling Menasihati
Uraian khutbah tersebut bermuara pada dua pesan pamungkas. Pertama, jadikanlah shalat sebagai wasilah utama untuk mendapatkan petunjuk dan kebahagiaan.
Shalat yang dikerjakan dengan sempurna, khusyuk, dan tumakninah, akan mengantarkan kita pada kemuliaan dan keridhaan Allah SWT. Shalat adalah cahaya yang menerangi jalan gelap kehidupan.
Kedua, kita semua, tanpa terkecuali, berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki iman yang kokoh, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah SWT bersumpah demi masa untuk mengingatkan hal ini:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-'Asr [103]: 1-3).
Semoga tiga pilar keselamatan ini takut kepada Allah, menegakkan kebenaran, dan hidup sederhana dapat tertanam kuat dalam hati kita.
Mari kita hiasi sisa umur kita dengan amal saleh dan jadikan shalat sebagai tiang penyangga hidup, sehingga kita berhak mendapatkan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Ditulis Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Info & Komunikasi MUI Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN Peruas)

Posting Komentar
Komentar ya