Menyelami Samudra Keilmuan: Tiga Tangga Kematangan Penuntut Ilmu
Bismillah. Menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan spiritual yang tiada bertepi. Ia bukan sekadar perjalanan mengisi benak yang kosong dengan fakta, melainkan pengembaraan jiwa menuju hakikat kebenaran.
Dalam nasihat indah KH. Hasan Abdullah Sahal, terekam petuah berharga tentang tiga tahapan spiritual yang kerap dilalui oleh para penuntut ilmu dalam mengarungi jalannya.
1. Fase Pertama: Takabbur (Benih Kesombongan)
Pada gerbang awal menuntaskan rasa penasaran, tatkala setetes pengetahuan baru berhasil direguk, jiwa manusia sering kali terbuai.
Muncul perasaan merasa paling mengerti, paling benar, dan menganggap rendah mereka yang belum tahu. Perasaan ini bak ilusi di padang pasir merasa telah menggenggam telaga, padahal baru mencicipi sepercik embun.
Keadaan ini merupakan ujian berat yang harus diwaspadai, sebab kesombongan dapat menutup pintu hidayah dan kebijaksanaan yang lebih luas. Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas mengenai bahaya takabur:
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."
(HR. Muslim)
2. Fase Kedua: Tawadhu’ (Rendah Hati dan Kesadaran)
Seiring melangkahnya kaki menelusuri lorong-lorong pengetahuan yang lebih dalam, tirai kesadaran mulai tersingkap.
Seseorang mulai menyadari betapa luasnya wawasan di luar sana dan betapa banyaknya insan lain yang jauh lebih menguasai serta mendalami ilmu tersebut.
Pada titik inilah, keangkuhan meluruh berganti dengan tawadhu' kerendahan hati yang menenangkan.
Kemuliaan orang-orang yang rendah hati ini selaras dengan janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang berilmu dan beriman:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu yang sejati tidak melahirkan keangkuhan, melainkan membentuk keanggunan budi dan kelembutan jiwa.
3. Fase Ketiga: Laa 'Ilma Lahu (Puncak Ketiadaan Diri)
Hingga akhirnya, tatkala seseorang menyelam sangat jauh ke dalam samudra keilmuan, ia sampai pada tataran laa 'ilma lahu merasa seolah-olah tidak memiliki ilmu apa-apa.
Ketika memandang keutuhan semesta, ia menyadari bahwa seluruh pengetahuan manusia hanyalah setetes air di tengah samudra kekuasaan Sang Maha Pencipta.
Keadaan ini menggemakan kembali firman Allah SWT yang abadi:
"Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula."
(QS. Al-Kahfi: 109)
Menjadi Padi yang Kian Berisi
Perjalanan menuntut ilmu pada hakikatnya adalah proses mengikis keakuan. Semakin bertambah ilmu seseorang, sepatutnya ia semakin merunduk bak bulir padi yang kian bernas.
Nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal ini menjadi cermin bening bagi kita semua untuk terus bermuhasabah: Di fase manakah jiwa kita saat ini berada?
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar terhindar dari penyakit riya' dan takabur, serta menganugerahkan ilmu yang bermanfaat (ilm nafi') yang membawa kita pada puncak kerendahan hati.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Ronaldo Rozalino - Coach RR
Teacherpreneur • Content Creator • Motivator • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
14 tahun yang lalu
