Menjemput Keberkahan dalam Setiap Helaan Langkah: Renungan Akronim JUMAAT
Bismillah.Hari Jumat bukan sekadar penanda berbaliknya hari menuju akhir pekan, melainkan sayyidul ayyam—pemimpin bagi seluruh hari. Di dalamnya terpancar embun penyejuk bagi jiwa yang lelah dan lentera petunjuk bagi hati yang diselimuti keraguan.
Melalui bait-bait akronim JUMAAT, kita diajak merenungi hakikat kehidupan dan hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta.
J – Jangan Putus Harap pada Rahmat Allah
Di tengah gulita prasangka dan beratnya beban hidup, seorang mukmin tidak boleh kehilangan pendar harapan. Pintu rahmat Allah senantiasa terbuka lebar, tak terbatas oleh kedalaman dosa maupun besarnya kesedihan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)
U – Ujian Hadir Bersama Janji-Nya, ‘Inna Ma’al ‘Usri Yusra’
Setiap duri yang merajut perjalanan hidup tidak pernah hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk menempa. Di balik ketatnya himpitan kesulitan, janji Allah berdiri kokoh bahwa kemudahan senantiasa mengiringinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
M – Meski Hati Lelah, Yakinlah Ada Hikmah yang Menanti
Langkah yang lunglai dan air mata yang menetes dalam keheningan bukanlah tanda kekalahan. Di setiap ketetapan-Nya, tersimpan bentangan hikmah indah yang mungkin belum mampu dijangkau oleh keterbatasan akal manusia.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Sungguh menakjubkan perihal orang beriman, karena semua urusannya adalah baik baginya... Jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya.”
(HR. Muslim)
A – Allah Sentiasa Bersama Orang yang Sabar
Kesabaran bukan berarti menyerah tanpa arah, melainkan keteguhan jiwa dalam memegang janji-Nya. Dalam setiap detak kesabaran, hadir kebersamaan khusus (ma'iyyah) dari Sang Mahacinta.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
A – Alhamdulillah dalam Nikmat dan Ujian
Lisan seorang mukmin senantiasa dibasahi oleh pujian kepada Allah, baik saat disapa lapangnya karunia maupun ketika disapa sempitnya cobaan. Mengucapkan alhamdulillah dalam segala keadaan adalah puncak dari kepasrahan dan rasa syukur yang tulus.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan doa ketika tertimpa kesulitan:
“Alhamdulillah 'ala kulli hal” (Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan).
(HR. Ibnu Majah)
T – Tawakal Kerana Setiap Kesukaran Pasti Ada Kemudahan
Setelah ikhtiar dirajut dan doa dipanjatkan, tempat bersandar terakhir adalah Harapan Agung. Bertawakal melahirkan ketenangan mendalam, sebab kita meyakini bahwa takdir Allah tak pernah salah alamat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. At-Thalaq: 3)
Mari kita jadikan hari yang mulia ini sebagai momen untuk menata kembali niat, memperhalus tutur kata, dan memperkuat langkah kaki menuju ridha-Nya. Semoga setiap bulir hikmah dalam akronim JUMAAT ini menjadi penuntun kalbu menuju kedamaian sejati.
Karya: Ronaldo Rozalino - Coach RR
Silaturahmi di Hari Jum'at yang Berkah: Menenun Kembali Benang Merah Inspirasi Bersama Sang Guru
Bismillahirrohmanirrohim...
Pagi itu, Jum'at, 18 September 2026, mentari Kuantan Singingi bersinar dengan lembut, membawa serta semilir angin yang menyejukkan jiwa.
Langkah kaki saya terhenti di pelataran Masjid Ar-Raudha, tempat di mana damai dan ketenangan senantiasa bersemayam.
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu'ah: 9)
Panggilan suci untuk melaksanakan shalat Jum'at telah bergema, mengingatkan kita akan keutamaan hari yang penuh berkah ini. Di hari yang mulia ini, Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk memperbanyak sedekah, shalawat, dan bersilaturahmi. Dan bersilaturahmi pulalah yang menjadi landasan langkah kaki saya di hari itu.
Sebuah kedai kopi sederhana yang terletak tak jauh dari masjid menjadi saksi bisu pertemuan indah ini. Secangkir kopi hitam yang kental dengan aroma khasnya, menjadi teman setia dalam merenda benang-benang rindu yang sempat terurai oleh waktu.
Di kedai kopi itulah, saya dipertemukan kembali dengan Bapak Aprinedi, S.Pd.,MM, seorang sosok yang tak pernah lelah menebarkan inspirasi dan keteladanan bagi setiap siswanya.
Bapak Aprinedi adalah guru fisika saya di SMKN 1 Teluk Kuantan, sekaligus pembina OSIS yang senantiasa membimbing kami dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
“Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku kedudukannya pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Bapak Aprinedi adalah perwujudan nyata dari hadist tersebut. Beliau adalah sosok yang senantiasa menjaga lisan dan perbuatannya, serta selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitarnya.
Dari beliau, saya belajar tentang komunikasi yang efektif, tanggung jawab yang tinggi, disiplin yang ketat, dan dedikasi yang tak kenal lelah.
Beliau tak hanya mengajarkan kami tentang hukum-hukum fisika, tetapi juga tentang hukum-hukum kehidupan yang lebih fundamental.
Sebagai seorang siswa, tentu saya mendambakan petunjuk dan nasihat dari sang guru. Beliau adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering, yang senantiasa memberikan arah dan tujuan dalam hidup saya.
Hampir dua jam kami larut dalam obrolan yang hangat dan bermakna. Beliau berbagi cerita tentang pengalamannya selama menjadi guru, tentang suka dan duka dalam mengabdi di dunia pendidikan.
Dari cerita-cerita itulah, saya banyak belajar tentang arti kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan.
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)
Bapak Aprinedi adalah seorang penolong bagi setiap siswanya. Beliau senantiasa berusaha membimbing kami ke jalan yang benar, serta memberikan semangat dan motivasi dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.
Tak terasa, waktu pun bergulir dengan cepat. Azan Ashar telah bergema, memanggil umat Muslim untuk segera melaksanakan kewajibannya. Bapak Aprinedi bergegas meninggalkan kedai kopi untuk menuju masjid, tempat di mana beliau kini mengabdikan diri sebagai pengurus masjid.
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Ma'arij: 32)
Bapak Aprinedi adalah seorang yang senantiasa memelihara amanat. Beliau tak hanya amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, tetapi juga amanah dalam menjaga rumah Allah.
Di masa pensiunnya, beliau memilih untuk mengabdikan diri di jalan dakwah, menyebarkan syiar Islam di tengah masyarakat.
Masyaa Allah...
Sungguh indah pengabdian Bapak Aprinedi di hari tuanya. Beliau tak pernah lelah memberikan kebaikan bagi umat, serta terus berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan di Kuantan Singingi.
Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Aprinedi.
Semoga apa yang telah Bapak tanamkan pada kami, para siswanya, menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalirkan pahala bagi Bapak di akhirat kelak.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
Sukses dan berkah selalu untuk Bapak dan keluarga. Doa saya dan para alumni puluhan tahun yang lalu, senantiasa menyertai langkah Bapak dalam menjalankan tugas mulia ini.
Bangga dan Bahagia Menjadi Alumni SMKN 1 Teluk Kuantan.
Terima Kasih Bapak Ibu Guruku semuanya.
Salam Santun dari Ananda,
Ronaldo Rozalino
Alumni SMKN 1 Teluk Kuantan 1999 - 2002
Jurusan Teknik Perkayuan Bangunan
Bismillah. Di bawah naungan kubah Masjid Ar-Raudha, Kuantan Singingi, suasana khusyuk menyelimuti hati jamaah pada shalat Jum'at, 18 September 2026.
Angin sepoi membawa petuah berharga dari mimbar, tatkala Al-Ustadz Darwis DT. menyampaikan uraian mendalam mengenai bekal hakiki seorang hamba.
Di tengah derasnya arus zaman yang seringkali melenakan, beliau mengingatkan kembali tentang tiga sifat utama yang menjadi kunci keselamatan, bukan hanya di alam fana ini, melainkan hingga ke negeri keabadian kelak.
Pesan ini layaknya oase di gurun pasir, menyejukkan jiwa yang dahaga akan petunjuk Ilahi. Mari kita selami samudra hikmah dari wasiat tersebut.
1. Merawat Khasyyah: Takut kepada Allah, Sang Pemilik Semesta
Sifat pertama yang menjadi tameng pelindung adalah rona ketakutan yang suci (khasyyah) kepada Allah SWT.
Ketakutan ini bukanlah ketakutan yang mendatangkan keputusasaan, melainkan ketakutan yang dibarengi rasa hormat dan cinta yang mendalam, yang mencegah diri dari kemaksiatan.
Sifat ini harus mendarah daging, baik tatkala diri berada dalam sunyinya malam maupun di tengah riuhnya keramaian manusia.
Ingatlah, tak ada satu helai daun pun yang gugur tanpa sepengetahuan-Nya. Setiap detak jantung dan bisikan hati kita senantiasa berada dalam pengawasan mata-Nya yang Maha Mengetahui (Muraqabah). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat," (QS. Qaf [50]: 33).
Senada dengan itu, dalam sebuah Hadist Qudsi, Allah SWT berfirman:
"Demi Kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada hamba-Ku, dan Aku juga tidak akan mengumpulkan dua keamanan padanya. Apabila dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan membuatnya takut pada hari kiamat. Dan apabila dia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan membuatnya aman pada hari kiamat." (HR. Ibnu Hibban).
Maka, jadikanlah rasa takut kepada-Nya sebagai penuntun langkah agar selalu lurs di jalan yang diredhai-Nya.
2. Tegak dalam Kebenaran: Tanpa Tendensi, Hanya demi Ridho Ilahi
Pilar kedua adalah keteguhan hati untuk menegakkan kebenaran. Seorang mukmin sejati adalah ia yang berani menyuarakan kebenaran (al-haq), bahkan jika itu pahit.
Keberpihakan pada kebenaran ini murni, bersih dari noda kepentingan politik praktis, ambisi pribadi, atau tekanan duniawi lainnya. Ia berdiri kokoh di atas pondasi iman, sehingga hidupnya senantiasa dilingkupi kebaikan dan keridhaan Allah SWT.
Allah SWT memberikan peringatan keras dalam firman-Nya:
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 42).
Nabi Muhammad SAW pun bersabda tentang keutamaan ini:
"Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit." (HR. Ahmad).
Menegakkan kebenaran adalah bentuk jihad lisan yang nyata. Jangan biarkan lisan kita kelu dan hati kita pengecut demi sejumput kesenangan duniawi yang semu.
3. Merangkul Kesederhanaan: Membasuh Hati dari Debu Kesombongan
Pilar ketiga adalah hidup dalam balutan kesederhanaan. Ini adalah wasiat yang sangat relevan di tengah kepungan gaya hidup konsumtif dan pamer kemewahan.
Kesederhanaan bukanlah berarti kemiskinan, melainkan sikap bersahaja dan tidak berlebih-lebihan.
Bahkan tatkala Allah SWT mengaruniakan kekayaan yang melimpah, seorang mukmin diajarkan untuk tetap hidup sederhana. Mengapa? Karena kesederhanaan adalah ibu dari sifat tawadhu' (rendah hati).
Hidup yang bergelimang kemewahan seringkali menyuburkan benih-benih kesombongan di dalam dada. Dan Allah sangat membenci kesombongan. Firman Allah SWT:
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman [31]: 18).
Rasulullah SAW mempertegas bahaya sombong dalam sabdanya:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim).
Di dalam diri kita ada segumpal daging bernama hati. Jangan biarkan hati itu mengeras karena tumpukan harta dan pujian manusia. Bersederhanalah, agar hati tetap lembut dan mudah menerima cahaya hidayah.
Menjemput Kemuliaan dengan Shalat dan Saling Menasihati
Uraian khutbah tersebut bermuara pada dua pesan pamungkas. Pertama, jadikanlah shalat sebagai wasilah utama untuk mendapatkan petunjuk dan kebahagiaan.
Shalat yang dikerjakan dengan sempurna, khusyuk, dan tumakninah, akan mengantarkan kita pada kemuliaan dan keridhaan Allah SWT. Shalat adalah cahaya yang menerangi jalan gelap kehidupan.
Kedua, kita semua, tanpa terkecuali, berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki iman yang kokoh, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah SWT bersumpah demi masa untuk mengingatkan hal ini:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-'Asr [103]: 1-3).
Semoga tiga pilar keselamatan ini takut kepada Allah, menegakkan kebenaran, dan hidup sederhana dapat tertanam kuat dalam hati kita.
Mari kita hiasi sisa umur kita dengan amal saleh dan jadikan shalat sebagai tiang penyangga hidup, sehingga kita berhak mendapatkan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Ditulis Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Info & Komunikasi MUI Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN Peruas)
Menjejak Karya, Meredam Tepuk Tangan: Hakikat Karakter Kader Persyarikatan
Ronaldo Rozalino
Bismillah. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali mengukur keberhasilan dari seberapa riuh tepuk tangan dan seberapa megah panggung yang didapat, seorang kader sejati justru berjalan dalam senyap. Ia tidak sibuk menyusun pamor, melainkan tekun merawat kebaikan.
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah) menegaskan karakter mendasar ini:
“Ciri kader Muhammadiyah, ketika dia dipercaya, diberi amanah, ketika dia berada di suatu tempat, pasti di pikirannya apa yang bisa ditinggalkan, sesuatu yang baik di tempat ini.”
Pesan tersebut menjadi pemanggil jiwa bagi setiap kader Persyarikatan. Bergerak bukan untuk memburu sanjungan, melainkan untuk meninggalkan jejak berupa warisan kebaikan yang terus mengalir dan memberi manfaat bagi sesama serta lingkungan sekitar.
Makna Kebermanfaatan dalam Tinjauan Islam
Di dalam ajaran Islam, kebaikan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita genggam, melainkan seberapa besar dampak yang mampu kita alirkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Nilai seorang kader tidak terletak pada panggung tempatnya berdiri, melainkan pada kemanfaatan yang ditebarkan. Ketika niat di tata murni karena Allah, maka kebaikan yang ditinggalkan akan bernilai ganda: sebagai ibadah yang menenangkan jiwa, sekaligus amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan ketika usia telah purna.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Zalzalah: 7:
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
Menjaga Kemurnian Niat
Ujian terbesar dari sebuah pengabdian adalah godaan kepopuleran. Namun, kader Persyarikatan diajarkan untuk membentengi diri dengan keikhlasan.
Mengabdi tanpa perlu diakui, menanam tanpa harus menagih hasil, dan memimpin tanpa harus berambisi disanjung.
Bila amanah singgah, ia dipandang sebagai ladang menanam kebajikan, bukan kesempatan menumpuk kebanggaan. Di mana pun berada baik di pelosok daerah maupun di pusat peradaban pikirannya selalu tertuju pada satu muara: kebaikan apa yang bisa dihadirkan di sini?
Jejak Abadi Seorang Kader
Kemegahan panggung akan runtuh ditelan waktu, dan tepuk tangan akan reda seiring berlalunya masa. Namun, warisan kebaikan berupa ilmu yang diajarkan, keteladanan yang ditunjukkan, serta karya nyata yang dirasakan masyarakat akan tetap abadi.
Mari terus melangkah, merawat niat, dan menebar kemanfaatan tanpa henti. Sebab pada akhirnya, sebaik-baiknya diri adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama.
Penulis:
H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretaris Komisi Info & Komunikasi MUI Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERUAS, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
Di Tengah Teriknya Siang, Semangat Belajar Tetap Menyala
Pengabdian Mengajar di SMA Taruna Muhammadiyah Riau
Alhamdulillah, Kamis, 17 September 2026, kembali menjadi satu halaman kecil dalam perjalanan panjang pengabdian di dunia pendidikan.
Hari ini, langkah membawa saya hadir di SMA Taruna Muhammadiyah Riau. Bukan sekadar datang ke ruang kelas, menyampaikan materi, lalu selesai.
Lebih dari itu, setiap perjumpaan dengan peserta didik adalah kesempatan untuk menanamkan ilmu, membangun karakter, dan menyalakan harapan tentang masa depan.
Hari ini saya mendapat amanah mengajar Kelas X, Kelas XI IPA, dan Kelas XI IPS SMA Taruna Muhammadiyah Riau.
Ketika Siang Tidak Memadamkan Semangat
Siang hari biasanya menghadirkan rasa lelah. Mata mulai berat, tubuh membutuhkan istirahat, dan konsentrasi mudah terpecah.
Namun, suasana di ruang kelas hari ini memberikan cerita yang berbeda.
Para siswa Taruna tetap mengikuti pembelajaran dengan semangat dan antusias.
Ada yang tekun menulis, menyimak, berdiskusi, hingga mengikuti proses pembelajaran dengan penuh perhatian.
Dari sana saya kembali belajar satu hal:
Semangat belajar tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna. Semangat justru sering tumbuh dari karakter yang kuat.
Dan karakter itulah yang terlihat dalam keseharian para siswa.
Disiplin.
Tangguh.
Berani bertanggung jawab.
Memiliki jiwa kepemimpinan.
Serta terus diarahkan untuk memiliki akhlak yang mulia.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar tulisan di dinding sekolah. Ia harus tumbuh menjadi kebiasaan, lalu menjadi karakter, dan akhirnya menjadi bagian dari kepribadian seorang anak bangsa.
Ilmu yang Menumbuhkan Karakter
Pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal.
Pendidikan bukan hanya tentang angka di rapor.
Pendidikan adalah proses panjang untuk membentuk manusia yang mampu menggunakan ilmu dengan benar, memiliki keberanian untuk berbuat baik, serta memiliki adab ketika menggunakan pengetahuannya.
Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
(QS. Thaha: 114)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan mencari ilmu tidak pernah mengenal kata selesai.
Hari ini belajar.
Besok belajar lagi.
Hari ini mengetahui satu hal.
Esok memperbaikinya dengan pengetahuan yang lebih luas.
Maka seorang guru pun sejatinya adalah pembelajar sepanjang hayat.
Guru mengajar, tetapi guru juga belajar.
Belajar dari buku.
Belajar dari pengalaman.
Belajar dari perubahan zaman.
Bahkan belajar dari pertanyaan dan karakter setiap peserta didik.
Belajar Adalah Jalan Menuju Kemuliaan
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bagi orang yang berjalan di jalan ilmu.
Dalam Sahih Muslim 2699a, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.
Betapa indahnya ketika ruang kelas tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi sebagai salah satu tempat manusia sedang menempuh perjalanan menuju kebaikan.
Setiap buku yang dibaca.
Setiap catatan yang ditulis.
Setiap pertanyaan yang diajukan.
Setiap kesalahan yang diperbaiki.
Semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kematangan diri.
Karena itu, ananda jangan pernah malu untuk belajar dan jangan pernah lelah untuk memperbaiki diri.
Guru Bukan Sekadar Menyampaikan Materi
Menjadi guru berarti menjadi bagian dari perjalanan kehidupan seorang anak.
Ada kalanya guru menyampaikan materi.
Ada kalanya guru memberi nasihat.
Ada kalanya guru menegur.
Ada kalanya guru hanya mendengarkan.
Sebab pendidikan tidak hanya bekerja melalui kata-kata. Pendidikan juga bekerja melalui keteladanan.
Rasulullah ﷺ dalam sebuah riwayat yang tercantum dalam Sunan Ibn Majah menggambarkan dirinya sebagai seorang yang diutus sebagai guru.
Riwayat tersebut dinilai lemah pada laman rujukan yang digunakan, sehingga untuk prinsip keutamaan mencari ilmu dalam tulisan ini lebih kuat digunakan riwayat Sahih Muslim 2699a.
Pesannya tetap sangat indah untuk direnungkan:
Mengajar adalah amanah.
Ada manusia yang kelak mungkin tidak mengingat semua materi yang pernah kita sampaikan.
Tetapi mereka mungkin akan mengingat satu kalimat yang pernah menguatkan mereka.
Satu nasihat yang membuat mereka bangkit.
Satu teguran yang menyelamatkan mereka dari kesalahan.
Atau satu keteladanan yang membuat mereka ingin menjadi manusia yang lebih baik.
Ananda, Teruslah Tangguh dan Berkemajuan
Untuk seluruh ananda siswa SMA Taruna Muhammadiyah Riau, teruslah menjaga apa yang sudah baik.
Disiplin jangan dilemahkan.
Ketangguhan jangan ditinggalkan.
Kepemimpinan terus diasah.
Ilmu terus ditambah.
Dan akhlak mulia terus dijaga.
Jadilah generasi yang bukan hanya kuat menghadapi tantangan, tetapi juga lembut dalam bersikap.
Bukan hanya cerdas berpikir, tetapi bijaksana dalam mengambil keputusan.
Bukan hanya mampu memimpin orang lain, tetapi terlebih dahulu mampu memimpin diri sendiri.
Sebab kepemimpinan yang besar selalu bermula dari kemampuan menaklukkan ego, menjaga disiplin, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab terhadap amanah.
Salam Tangguh, Ananda Hebat!
Teruslah belajar.
Teruslah berkarya.
Teruslah mengembangkan potensi di bidang masing-masing.
Jangan takut memiliki cita-cita besar. Namun, iringilah cita-cita itu dengan ilmu, kerja keras, doa, disiplin, dan akhlak.
Karena masa depan tidak dibangun dalam satu malam.
Ia dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah setiap hari.
Semoga setiap langkah kaki ananda di sekolah hari ini menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.
Semoga ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat.
Semoga karakter yang ditempa menjadi kekuatan.
Semoga kepemimpinan yang dilatih menjadi kebermanfaatan bagi sesama.
Dan semoga kelak lahir dari ruang-ruang kelas ini generasi yang berilmu, beriman, berkarakter, tangguh, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan peradaban.
Alhamdulillah atas kesempatan untuk terus belajar dan mengabdi.
“Menjadi guru adalah menanam.
Menjadi pendidik adalah merawat.
Dan melihat anak didik tumbuh menjadi manusia yang baik adalah salah satu buah terindah dari sebuah pengabdian.” Ronaldo Rozalino
Salam Berkemajuan.
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
*Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau
*Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau
*Guru SRMA Terintegrasi 1 Kabupaten Kuantan Singingi
#SMA #SMA Taruna Muhammadiyah Riau #GuruSeniBudaya #SiswaTangguh #SiswaHebat #Muhammadiyah #GuruPembelajar #GuruPenulis #GuruEraDigital #GuruSMATarunaMuhammadiyahRiau #SalamBerkemajuan
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...14 tahun yang lalu
-
