Menganyam Benang Keikhlasan: Kunci Masa Depan dan Kemajuan
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Guru Muhammadiyah Taruna Riau, Ketua Forum Literasi Kuansing)
Bismillah. Di balik gemerlapnya dunia yang fana, tersembunyi sebuah rahasia kebahagiaan sejati dan kemajuan yang abadi. Rahasia itu bukanlah tumpukan harta benda atau kekuasaan yang semu.
Melainkan keikhlasan hati dalam memberi dan ketidaksediaan untuk menengadahkan tangan. Itulah yang tersirat dalam ungkapan luhur:
"tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah".
Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata mutiara, melainkan sebuah prinsip hidup yang berakar kuat dalam ajaran suci Islam.
Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur'an:
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 261)
Maha Suci Allah, sungguh luar biasa balasan bagi mereka yang ikhlas memberi di jalan-Nya. Setiap benih kebaikan yang ditanamkan akan tumbuh menjadi pohon yang rimbun dan berbuah manis, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak.
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya memberi dalam sabdanya:
"Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mulailah memberi kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadist ini, kita belajar bahwa keutamaan tangan yang di atas bukanlah karena jumlah pemberiannya, melainkan karena niat yang murni dan kerelaan untuk berbagi dengan sesama.
Pemberian yang tulus, sekecil apa pun, memiliki makna yang mendalam di sisi Allah.
Dalam konteks Muhammadiyah, prinsip "tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" menjadi pilar utama dalam membangun masa depan yang cerah dan memajukan organisasi.
Sebagaimana disampaikan oleh Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah:
"Jika ingin menyongsong masa depan dan menjadikan Muhammadiyah berkemajuan, kita harus menjadikan 'tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah'. Malu meminta, senang memberi."
Ungkapan ini mengandung pesan yang sangat relevan dan inspiratif. Untuk meraih kemajuan, kita harus menanamkan sifat qana'ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat tamak serta bergantung pada orang lain.
Sebaliknya, kita harus mengobarkan semangat kepedulian dan gemar berbagi, baik berupa harta, ilmu, tenaga, maupun pikiran.
Dengan menganyam benang-benang keikhlasan dalam setiap aspek kehidupan, kita tidak hanya membangun masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan organisasi, masyarakat, dan bangsa.
Mari kita jadikan "tangan di atas" sebagai gaya hidup, sehingga kebaikan senantiasa mengalir dan menyinari dunia ini.
