Di Antara Algoritma dan Nurani: Menatap Ufuk Baru Pendidikan Bersama Akademi GaSinG Riau
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Guru SMAN 1 Sentajo Raya, Kab. Kuansing, Riau & Peserta Webinar)
TELUK KUANTAN— Ketika Sabtu malam, 15 Agustus 2026 membungkus bumi Lancang Kuning, layar-layar komputer dan gawai di berbagai pelosok Riau mendadak menyala hangat. Di balik deretan ruang vitual yang melintasi ribuan kilometer, sebuah kesadaran tengah dirajut kembali.
Komunitas Akademi GaSinG Riau menggelar perhelatan bertajuk Coaching 180 sebuah ruang kontemplasi bertema
"Mengukuhkan Peran Guru sebagai Penggerak Pembelajaran Bermakna di Tengah Transformasi Digital."
Di era ketika gelombang algoritma dan kecerdasan buatan menyapu hampir setiap lini kehidupan, muncul pertanyaan mendasar:
Di manakah pijakan seorang guru ketika ruang kelas telah melebur ke dalam dunia maya?
Jawabannya mengalir anggun melalui tutur kata Itje Chodidjah, tokoh pendidikan nasional sekaligus Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO periode 2021–2025. Bertindak sebagai narasumber utama, beliau menegaskan bahwa sejanggih apa pun teknologi berkembang, ia tak pernah memiliki jiwa.
Guru bukanlah sekadar penransfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan suluh yang menghidupkan rasa ingin tahu dan menuntun nurani murid menuju kebahagiaan hakiki.
Merajut Makna di Tengah Arus Algoritma
Suasana ruang Zoom malam itu terasa begitu intim dan sarat kehangatan. Dipandu oleh Wedi Hartoyo (Tim IT GaSinG Riau) sebagai host dan Siti Julaiha (SD Al-Rasyid Pekanbaru) sebagai moderator, serta dikawal oleh Kamalasia Rio Nita, M.Pd. (Penasehat Komunitas Akademi GaSinG Riau) selaku penanggung jawab kegiatan, diskusi mengalir jernih menembus batas-batas teknis persekolahan.
Dalam salah satu petikan pemaparannya yang menyentuh, Itje Chodidjah melempar refleksi mendalam mengenai hakikat kehadiran seorang pendidik di depan kelas. Pembelajaran yang bermakna tidak lahir dari kecanggihan aplikasi semata, melainkan dari ketulusan interaksi dan kejelian guru membaca kebutuhan jiwa anak didiknya.
"Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang memanusiakan. Jika proses belajar tidak membawa rasa bahagia dan tidak memberi arti bagi kehidupan nyata murid, maka ada jiwa yang belum tersentuh di sana," tutur Itje dalam keheningan mendalam para peserta webinar.
Teknologi, baginya, hanyalah bahtera; sedangkan sang gurulah jurumudi yang mengarahkan ke mana bahtera itu berlayar menuju samudera kearifan.
Gema dari Sentajo Raya: Refleksi Pendidik Daerah
Bagi para peserta yang hadir termasuk para pendidik dari pelosok daerah seperti Kabupaten Kuantan Singingi webinar ini bukan sekadar pemenuhan agenda rutin atau lembaran sertifikat bernomor 069/SER/KAGR/VIII/2026.
Lebih dari itu, Coaching 180 menjadi penawar dahaga spiritual kependidikan.
Sebagai guru seni dan pendidik di SMAN 1 Sentajo Raya, hadir dalam forum ini seperti mengetuk kembali kesadaran mendalam: bahwa tugas mengajar adalah seni mengukir masa depan.
Di tengah gempuran layar kaca dan distrasi digital, guru dituntut untuk menjadi penggerak yang adaptif, inovatif, namun tetap membumi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Transformasi digital bukanlah ancaman yang menepi peran guru, melainkan panggung baru tempat guru menunjukkan kepemimpinan pembelajarannya.
Guru Riau hari ini diingatkan kembali untuk berdiri tegak sebagai agen perubahan menciptakan ruang kelas yang tidak hanya riuh oleh data, tetapi juga hidup oleh nilai, rasa empati, dan makna keberadaan.
Menatap Ufuk Baru Pendidikan Riau
Ketika sesi bernomor seri 180 itu berakhir pada pukul 21.30 WIB, layar-layar Zoom perlahan padam. Namun, api semangat yang dinyalakan malam itu dipastikan tidak akan padam di bilik-bilik kelas esok hari.
Melalui langkah nyata Komunitas Akademi GaSinG Riau di bawah kepemimpinan Badrulaini, M.Pd. dan Sekretaris Imelda Sandra JS, M.Si., para pendidik Riau kini melangkah dengan pijakan yang lebih kokoh.
Mereka pulang ke kelas masing-masing tidak hanya membawa pengetahuan baru tentang pemanfaatan teknologi, tetapi juga membawa tekad suci: menjadi pendidik yang senantiasa menanam benih kebaikan dan mengukir pembelajaran bermakna bagi generasi penerus bangsa.
Sebab pada akhirnya, zaman boleh berganti, era digital boleh memuncak, tetapi sentuhan kasih dan kearifan seorang guru akan tetap menjadi cahaya yang tak terpadamkan sepanjang masa.
Dipublikasikan dan tulis oleh Ronaldo Rozalino sebagai catatan reflektif dari Perhelatan Coaching 180 Akademi GaSinG Riau.

Posting Komentar
Komentar ya