Menambat Hati Pada Yang Maha Abadi: Ketika Harapan Tak Lagi Menyisa Kecewa
"Jangan salahkan orang lain ketika dirimu kecewa, tapi salahkan dirimu sendiri karena terlalu berharap kepada manusia."
Betapa sering jemari jiwa kita mengetuk pintu-pintu tempat bersandar yang rapuh. Kita menabuh harapan pada senyum manis sesama manusia, menggantungkan bahagia pada janji-janji insan, dan menyerahkan muara kedamaian kita kepada makhluk yang jangankan menjaga takdir orang lain, menjaga hembusan nafasnya sendiri pun tak berdaya.
Ketika harapan itu patah, yang menyisa hanyalah serpihan perih berupa rasa kecewa, kusamnya prasangka, dan duka yang merajam kalbu.
Namun, di manakah sejatinya letak kekeliruan itu? Akankah kita terus meratap dan menunjuk muka orang lain atas retaknya hati kita? Ataukah sudah saatnya kita bercermin, memandangi relung jiwa yang keliru memilih tempat bergantung?
Bayang-Bayang Semu Tempat Bersandar
Manusia diciptakan dengan segala keterbatasan dan dinamika rasa. Hati manusia berbolak-balik, niatnya bisa bergeser, dan kekuatannya terbatas oleh ruang dan waktu.
Ketika kita menaruh ekspektasi setinggi langit kepada sesama insan, sejatinya kita sedang membangun istana di atas tepian pasir yang ringkih. Sekali ombak ujian menerpa, runtuhlah bangunan harapan tersebut, menyisakan lara yang mendalam.
Pujangga bijak dan para ulama pernah berujar bahwa duka terdalam kerap lahir bukan karena jahatnya orang lain, melainkan karena tingginya takaran harapan yang kita titipkan pada mereka. Kita menuntut kesempurnaan dari sosok yang sejatinya sama-sama sarat akan cela, lupa, dan kelemahan.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah menegaskan pahitnya pengalaman ini:
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."
Petunjuk Ilahi: Kepada Siapa Hati Harus Berpulang
Islam tidak melarang kita berinteraksi, mencintai, atau bekerja sama dengan sesama manusia. Namun, Islam melarang keras menjadikan makhluk sebagai tumpuan utama penentu kebahagiaan dan tempat menggantungkan takdir.
Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang begitu indah, tegas, dan menenangkan dalam sabdanya:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
"Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah."
(HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini adalah obat penawar bagi jiwa yang lelah. Sebuah pesan abadi agar kita mengembalikan seluruh muara hajat dan cita-cita hanya kepada Sang Pemilik Jiwa. Ketika pintu manusia tertutup atau mengecewakan, pintu-pintu langit milik Allah senantiasa terbuka lebar tanpa pernah ada jeda.
Sejalan dengan petunjuk Rasulullah ﷺ, Allah SWT secara langsung menegaskan dalam Kalam-Nya yang mulia agar puncak harapan diletakkan hanya kepada-Nya:
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."
(QS. Al-Inshirah: 8)
Ayat yang singkat namun sarat makna ini adalah sauh bagi kapal jiwa yang terombang-ambing di lautan kehidupan. Allah mengimbau kita untuk menyucikan niat dan sandaran. Hanya bila harapan diserahkan kepada Sang Maha Abadi, hati tidak akan pernah mengenal istilah kepahitan yang merusak kedamaian.
Merajut Kembali Damai di Dada
Manakala rasa kecewa itu hadir menyapa, panggillah kesadaran diri. Jangan terburu-buru menyalahkan kawan, pasangan, atau kerabat yang dianggap meretakkan harapan.
Jadikan kekecewaan itu sebagai teguran lembut dari Allah bahwa Dia sedang cemburu karena hatimu terlalu condong kepada selain-Nya. Allah ingin menuntun hatimu kembali pulang ke haribaan-Nya.
Mari kita ubah arah kemudi jiwa kita:
Berbuat baiklah kepada manusia tanpa mengharapkan balasan atau sanjungan dari mereka.
Mencintailah karena Allah, bekerja dan berkhidmatlah dengan tulus.
Pindahkan muara harapan penuh kita utuh kepada Allah SWT.
Dengan demikian, bila manusia mengapresiasi, kita bersyukur; dan bila manusia berpaling atau mengecewakan, hati kita tetap kokoh berdiri karena tempat kita bersandar adalah Dia Yang Maha Kokoh, Maha Pengasih, dan Tak Pernah Mengecewakan hamba-Nya.
Barakallahu feekum,
Ditulis oleh:
Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, C.PS, C.ME, C.QEM, C.TCC, C.TP, C.CCW, C.HTeach
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
13 tahun yang lalu

Posting Komentar
Komentar ya