Mengurai Hikmah Kisah Bani Israil: Memegang Janji, Menjaga Kesucian Ayat
Ustadz Dr. KH. Hamdani Purba, Lc., M.A. (Pimpinan Pondok Pesantren Syafaaturrasul Kuansing)
Bismillah. Fajar di hari Jumat, 2 Oktober 2026, menyunggingkan kehangatan tersendiri di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan.
Di bawah rindangnya naungan rumah Allah, derap langkah para jemaah membasahi embun pagi untuk merawa ilmu dalam Majlis Ilmu Tafsir Al-Qur’an.
Duduk bersahaja menyampaikan untaian wahyu Ilahi, Ustadz Dr. KH. Hamdani Purba, Lc., M.A. (Pimpinan Pondok Pesantren Syafaaturrasul Kuansing), membimbing hati yang rindu akan petunjuk Tuhan.
Memaknai Janji dan Puncak Kenikmatan
Pelajaran berharga dibuka dengan mentadabburi firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 40:
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut (bergentai)."
Secara silsilah, Bani Israil merupakan keturunan mulia dari Nabi Ya’qub AS. Betapa agung kemuliaan yang pernah dianugerahkan Allah kepada mereka: dari rahim keturunan inilah lahir mayoritas para nabi dan rasul pengemban risalah langit, hingga sebelum diutusnya penutup para nabi, Rasulullah Muhammad SAW.
Namun, sejarah mencatat nestapa keangkuhan manusia. Bukannya bersyukur, banyak di antara mereka yang berpaling, mendustakan, membendung fakta kebenaran, bahkan tega menumpahkan darah para nabi yang suci.
Menjaga Kalam Ilahi dari Kebutuhan Duniawi
Kajian dilanjutkan dengan membedah Surah Al-Baqarah ayat 41:
"Dan berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur'an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga murah, dan hanya kepada-Kulah kamu harus bertakwa."
Al-Qur'an hadir bukan sekadar pelengkap, melainkan penyempurna dan muhaimin (batu ujian) bagi kitab-kitab terdahulu. Keimanannya bersifat mutlak bagi seluruh umat manusia.
Peringatan keras terpancar dari frasa:
“Janganlah kamu menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.”
Ustadz KH. Hamdani Purba menegaskan bahaya sikap memutarbalikkan fakta, merombak kebenaran Ilahi, atau merekayasa fatwa demi menuruti kehendak penguasa serta syahwat duniawi yang fana. Kebenaran yang sejati tidak boleh tergadaikan oleh kepentingan sesaat.
Sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadisnya tentang pentingnya kejujuran dan keteguhan memegang kebenaran:
"Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari keridaan Allah, namun ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud)
Ulama: Pelita di Tengah Kehidupan
Di akhir tatanan risalah ini, terselip rasa syukur yang mendalam atas keberadaan para ulama di sekitar kita. Ulama adalah pewaris para nabi (Al-'Ulamau Waratsatul Anbiya'), pelita yang menerangi kegelapan fitnah zamannya.
Mengikuti bimbingan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah adalah benteng agar kita tidak tergolong sebagai orang-orang yang mengetahui ilmu namun enggan mengamalkannya.
Semoga langkah kaki kita menuju majelis ilmu senantiasa diberkahi, menjadikan hati hanya tunduk dan takut kepada Allah SWT semata, serta mengokohkan tekad untuk tidak menjual kebenaran agama demi sekerat nikmat dunia.
Tentang Penulis:
Oleh: Ust. H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Info & Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing)
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach)
Media Sosial / Kontak:
WhatsApp: 0853-6355-4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino
