Nakhoda Pendidikan Tradisi Kemajuan: Meneladani Kepemimpinan Luas, Luwes, dan Adaptif
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. (Coach RR)
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
Bismillah. Pendidikan adalah samudra luas yang terus bergelombang disapu angin zaman. Di atas gelombang itu, institusi sekolah terkhusus sekolah dan madrasah Muhammadiyah adalah bahtera yang membutuhkan seorang nakhoda sejati, bukan sekadar pemegang takhta kepemimpinan formal.
Dalam gelaran Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 di Masjid Al Hijri Depok, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah) mengingatkan pesan mendalam almarhum Prof. Dr. Malik Fadjar:
“Kepemimpinan sekolah tidak cukup bertumpu pada jabatan, tetapi butuh wawasan luas, sikap luwes, adaptasi cepat, dan kemauan terus belajar.”
Pesan ini sejatinya memancar dari hakikat kepemimpinan Islam. Jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
1. Luas dan Luwes: Jiwa Pembelajar yang Terbuka
Menjadi pemimpin dengan wawasan yang "luas" berarti memiliki cakrawala berpikir yang melampaui sekat-sekat kebiasaan lama.
Sedangkan sikap "luwes" menggambarkan kelenturan jiwa dalam menerima pengalaman baru dan melangkah cepat menghadapi perubahan zaman.
Seorang kepala sekolah tidak boleh seperti telaga tenang yang mati airnya, melainkan harus seperti mata air yang terus mengalirkan kebaikan dan hikmah. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar [39]: 9)
Membangun jejaring, mengambil pelajaran dari kesuksesan maupun kegagalan, serta merajut visi menjadi aksi nyata yang terukur adalah fondasi utama untuk merawat keberlanjutan pendidikan.
2. Tajdid dan Filantropi: Akar Tradisi dalam Pelukan Inovasi
Sekolah dan madrasah Muhammadiyah dilahirkan dari rahim tajdid (pembaruan). Respons terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern adalah keniscayaan yang harus dipeluk erat. Namun, kemajuan sains dan teknologi tidak boleh mencabut sekolah dari akar spiritualnya.
Tradisi kedermawanan, infak, filantropi, serta penguatan pendidikan karakter adalah ruh yang menjaga modernitas agar tidak menjadi dingin dan hampa jiwa. Allah SWT mengingatkan betapa pentingnya keseimbangan antara amal dan kebaikan sosial:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
(QS. Ali 'Imran [3]: 92)
3. Menggerakkan Manusia, Menjaga Jati Diri
Pemimpin sejati bukan sekadar pengelola administrasi sekolah. Ia adalah peniup ruh kehidupan yang menumbuhkan budaya belajar, menggerakkan potensi manusia di sekitarnya, serta memastikan pendidikan terus melaju mengikuti zaman tanpa kehilangan kompas keimanan dan nilai jati diri.
Mari kita jadikan setiap sekolah dan madrasah bukan sekadar gedung tempat mentransfer ilmu, tetapi taman-taman peradaban tempat tumbuh dan mekarnya generasi pencerah umat dan bangsa.
Informasi & Jejaring Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Situs Web: s.id/RonaldoRozalino
