Dari Iqra' Hingga Al-Qalam: Mengapa Bangsa yang Malas Membaca Akan Mudah Ditipu?
*Ronaldo Rozalino_Coach RR*
Menjemput Kejayaan Peradaban Lewat Kedalaman Makna
Bismillah. Di tengah rimba informasi yang begitu riuh, manusia modern melangkah dengan jemari yang tak pernah berhenti menggeser layar.
Ribuan kata menari di pelupuk mata setiap hari, namun ironisnya, hati dan pikiran sering kali tetap gersang dari pemahaman. Pramoedya Ananta Toer pernah melayangkan cermin yang menohok jiwa:
"Generasi yang tidak tahu membaca dan menulis akan mudah ditipu. Sedangkan bangsa yang rendah dalam literasi akan selalu rendah dalam peradaban."
Pram tidak sedang meratapi ketiadaan kemampuan mengeja abjad, melainkan tragedi buta huruf makna.
Ketika seseorang lihai merangkai kalimat di media sosial namun gagap merenungi realitas, ia menelan mentah setiap arus kabar tanpa sempat mengunyah kebenaran.
Akibatnya, ia ringkih dan rentan terjerat oleh tipu daya kabar bohong maupun bayang-bayang kepalsuan.
Pesan luhur ini berkelindan erat dengan firman pertama yang diturunkan Allah SWT dalam Al-Qur'an:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
— (QS. Al-'Alaq: 1)
Perintah Iqra’ bukan sekadar melafalkan teks, melainkan seruan mendalam untuk membaca situasi, merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya, serta menembus kedalaman hikmah.
Tanpa fondasi membaca yang dibimbing cahaya ketuhanan, manusia akan kehilangan pijakan kebenaran.
Tak hanya membaca, merawat pikiran melalui tulisan adalah ikhtiar mengabadikan peradaban.
Dalam wahyu berikutnya, Allah SWT berfirman:
“Nun. Demi kalam (pena) dan apa yang mereka tuliskan.”
— (QS. Al-Qalam: 1)
Bahkan Rasulullah SAW secara eksplisit mendorong umatnya untuk mematri ilmu melalui tulisan agar tidak lekang oleh waktu:
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
— (HR. Ath-Thabrani)
Bangsa yang enggan membaca akan tumpul dalam berpikir, dan jiwa yang tumpul tak akan pernah sanggup melahirkan karya.
Jika kita memimpikan peradaban yang tinggi namun membiarkan ruang baca sepi dan pikiran gersang, mimpi itu hanyalah utopia.
Sebab, sebagaimana pesan abadi Pramoedya,."Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."
Hari ini, tatkala jendela ilmu terbuka begitu lebar, tanyakanlah pada nurani kita masing-masing:
sudahkah kita membaca dan merenungkan makna hari ini?
Ditulis oleh: Ronaldo Rozalino (Coach RR)
Teacherpreneur • Content Creator • Motivator Literation & Education • Writer
Situs: s.id/RonaldoRozalino
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
WhatsApp: 0853-6355-4777