Di Bawah Langit Kelabu Kuantan Singingi: Mengurai Doa dan Asa di Balik Kabut
Oleh: Ronaldo Rozalino (Coach RR)
Bismillah. Di balik bingkai jendela yang kusam, fajar menyapa tanpa kehangatan yang dinanti. Mentari tak mampu menembus pekatnya tirai abu yang mengepung Kuantan Singingi.
Sinar surya yang senantiasa membawa semangat belajar terhalang oleh pekatnya bencana asap.
Bel sekolah yang biasanya menjadi simfoni pembuka hari, kini terdiam bisu. Lonceng tak lagi berbunyi, dan ruang-ruang kelas kehilangan gaung tawa anak-anak bangsa yang merindukan ilmu.
Buku-buku pelajaran tergeletak sunyi di atas meja kayu. Seragam putih-merah yang gantungannya rapi kini menanti dengan rasa rindu—rindu akan langkah-langkah kecil yang berlari menuntut ilmu, rindu akan barisan upacara yang penuh khidmat.
Udara yang seharusnya menjadi nafas kehidupan, kini berbalik menjadi ancaman. Di balik kepulan asap ini, terkandung duka yang mendalam bagi bumi Kuantan Singingi yang tercinta.
Asap Menyumbat Langkah, Doa Melintasi Angkasa
Asap mungkin sanggup membendung pandangan dan menunda langkah, tetapi ia tak pernah mampu memadamkan api cita-cita di dada anak-anak Kuantan Singingi.
Ketika belenggu kabut membatasi ruang gerak manusia, nurani diajak untuk merefleksikan makna ujian dan harapan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
Dua kali janji itu diulang sebagai penegas bahwa langit kelabu ini pasti berlalu. Kepungan kabut tebal hanyalah jeda singkat dari siklus takdir, menguji sejauh mana kesabaran dan keimanan kita bertaut pada Sang Pencipta.
Setiap helaan napas yang terasa berat menjadi pengingat betapa berharganya nikmat udara bersih yang sering kali dilupakan.
Dalam kesempitan ini, doa-doa dibubungkan ke angkasa luas. Doa seorang guru yang rindu mengajar, doa murid yang rindu belajar, dan doa seluruh warga yang merindukan birunya langit yang jernih.
Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
“Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah selain doa.”
(HR. Tirmidzi)
Di antara heningnya alunan kesedihan, doa menjadi jembatan terpautnya harapan bumi dengan rahmat langit.
Menanti Terbitnya Terang
Meski napas sesak dan pandangan terbatas, asa tak boleh terputus. Hilangnya udara segar mengajar kita untuk lebih menjaga alam dan menghargai nikmat sehat.
Seperti harmoni musik orkestra yang bergerak dari alunan biola yang melankolis menuju dentuman harapan yang megah, penderitaan ini akan bermuara pada senyum yang kembali merekah.
Hilanglah asap, terbitlah terang. Doa kita bersatu agar bumi Kuantan Singingi kembali pulih, sekolah-sekolah kembali berdenyut, dan tawa anak-anak kembali membahana di bawah naungan langit biru yang tenang.
Tentang Penulis:
Ronaldo Rozalino (Coach RR)
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator Literation & Education • Writer • Business Leader • Composer & Arranger • Coach(
Media Sosial & Kontak:
WhatsApp: 0853-6355-4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
14 tahun yang lalu