Mengabdi dalam Keheningan: Spirit "Sedikit Bicara, Banyak Bekerja"
"Ronaldo Rozalino"
Menghidupkan Pengabdian: Menyemaikan Etos Berbagi dan Bekerja Sepenuh Hati
Bismillah. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali mengukur nilai seseorang dari apa yang ia dapatkan, ada sebuah teladan sunyi yang terus mengalir bening.
Ada sebuah ungkapan bijak yang senantiasa melekat pada jiwa-jiwa pengabdi:
“Sedikit bicara, banyak bekerja.”
Sebuah frasa sederhana, namun menyimpan keheningan yang bernas dan kedalaman makna yang melintasi zaman.
Sebagaimana dipetik dari pemikiran Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais, karakter dan etos kerja gerakan ini terpancar melalui empat pilar utama: guyub dan rukun, tertib dan teratur, suka memberi, serta bekerja keras.
Namun, di atas semua pilar tersebut, terdapat satu cermin ketulusan yang menjadi fondasi paling kokoh:
“Bergabung dengan Muhammadiyah itu untuk memberi.”
Tangan di Atas: Hakikat Sejati Sebuah Pengabdian
Di sinilah letak rahasia kekuatan sebuah gerakan kebaikan.
Ketika seseorang melangkah bukan lagi dengan pertanyaan transactional,
"Apa yang bisa aku dapatkan?",
melainkan dengan bisikan nurani yang tulus, "Apa yang bisa aku berikan?".
Prinsip ini berakar kuat pada nilai-nilai luhur Al-Qur'an dan Al-Hadis. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 261 tentang indahnya memberi dan berinfak di jalan-Nya:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki...” (QS. Al-Baqarah: 261)
Demikian pula Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan kita untuk meletakkan kemuliaan pada ketulusan memberi:
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1042)
Memberi bukan sekadar tentang materi, melainkan tentang menyerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan kepedulian tanpa pernah meminta imbalan tepuk tangan atau sorotan kamera.
Mereka bekerja dalam keheningan malam dan kesunyian siang, karena yakin bahwa penilaian terbaik hanya datang dari Sang Maha Melihat.
Ketika Lelah Menjadi Saksi Kehidupan
Bagi jiwa yang telah menemukan sejatinya makna pengabdian, keletihan fisik tak lagi dirasakan sebagai beban yang berat.
Sebab, lelah itu adalah bisikan lembut bahwa ada kehidupan yang sedang kita perjuangkan, ada senyum sesama yang sedang kita terbitkan, dan ada amanah yang sedang kita hidupkan.
Sebagaimana ungkapan bersahaja yang penuh makna dari Dahlan Rais:
“Bahkan, tidur siang pun dianggap sebagai kemewahan.”
Ungkapan ini bukanlah larangan untuk beristirahat, melainkan gambaran indahnya rasa kepedulian.
Ada begitu banyak kebaikan yang menanti untuk disemaikan, begitu banyak tangan yang perlu diulurkan, sehingga waktu terasa sangat berharga untuk dilewatkan dalam kesenangan diri semata.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Insyirah ayat 7:
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Al-Insyirah: 7)
Merawat Etos di Akar Rumput
Sedikit bicara. Banyak bekerja. Banyak memberi.
Inilah ikhtiar dan etos jiwa yang patut terus kita jaga dan pupuk bersama dari pucuk pimpinan hingga ke akar rumput, dari cabang-cabang besar hingga geliat langkah kecil di tingkat ranting.
Sebab, sebuah perjuangan dan gerakan dakwah tidak akan pernah hidup hanya dari megahnya slogan. Ia tumbuh, bernapas, dan membentang manfaatnya dari raga-raga yang bersedia terus bergerak dengan ketulusan hati.
Mari terus melangkah, menyalakan pelita kebaikan di mana pun kita berada, menjadikan hidup ini sebagai ladang memberi yang tak pernah kering.
Penulis:
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Motivator Literasi & Edukasi, Coach)
Jejak Media Sosial & Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino