Menjemput Cahaya Hidayah yang Tertutup Bayang Dunia
Ustadz Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd. (Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
Suasana Khidmat di Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan
Bismillah. Di bawah naungan langit Jumat yang teduh pada tanggal 9 Oktober 2026, ribuan langkah kaki jamaah berbondong-bondong menuju Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Gema panggilan suci muazin Ustadz Wardika membumbung tinggi, memanggil jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian untuk bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta.
Pelaksanaan ibadah Shalat Jumat kali ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Ustadz Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd. (Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau) hadir berdiri di atas mimbar sebagai Khotib, sementara Ustadz Rinaldi, S.Pd. memimpin jamaah sebagai Imam.
Dalam mimbar yang anggun dan sarat keheningan tersebut, Ustadz Ahdanan Shaleh menyampaikan pesan-pesan langit yang menggetarkan qalbu dengan tema:
"Penyebab Susah Seorang Hamba Mendapat Hidayah Allah."
Renungan Khutbah: Mengapa Hidayah Terasa Jauh?
Hidayah adalah gumpalan cahaya Illahi yang menerangi kegelapan jiwa. Namun, seringkali nur itu terhalang masuk ke dalam dada.
Mengapa hati terasa beku dan enggan beranjak menuju jalan pertobatan? Khotib merangkum beberapa sebab utama serta penawarnya:
1. Belenggu Cinta Dunia (Hubbud Dunya)
Betapa sering Al-Qur'an sebaik-baik bacaan dan petunjuk tergeletak tanpa tersentuh, diabaikan, dan ditunda-tunda pembacaannya dengan alasan busyuk esok hari.
Hawa nafsu mengarahkan pandangan hanya pada kemewahan dan kesenangan sementara. Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 16-17)
Mari kita bangun, berjuang, dan berbuat kebaikan sebelum kesempatan itu direnggut oleh waktu.
2. Menumpuknya Dosa dan Minimnya Muhasabah
Setiap kali seorang hamba berbuat dosa tanpa rasa bersalah, setitik noda hitam menempel di dalam hatinya. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, maka dititikkan dalam hatinya sebuah bintik hitam...”
(HR. Tirmidzi no. 3334)
Hal yang paling berbahaya adalah ketika keburukan dan kemaksiatan dianggap sebagai hal yang biasa, bahkan dinormalisasi hanya karena viral dan menjadi tren di tengah masyarakat.
Padahal, standar kebenaran bukanlah ketenaran, melainkan ridha Allah.
Ketika kemungkaran terjadi, setidaknya usaplah dada dan bentengi diri bahwa hal tersebut salah.
Selagi napas masih dikandung badan, pintu istighfar dan taubat selalu terbuka lebar.
3. Menjaga Shalat di Awal Waktu
Shalat adalah tiang agama dan pembeda antara keimanan dan kelalaian.
Setan akan senantiasa membisikkan rasa malas agar kita menunda shalat hingga berada di penghujung waktu.
Jagalah shalat di awal waktu, sebab shalat adalah benteng utama terjaganya hidayah dalam jiwa.
4. Mendekatkan Diri dengan Al-Qur'an
Sinar hidayah tidak akan pernah padam jika kita senantiasa membasahi bibir dan menyejukkan hati dengan bait-bait Al-Qur'an, baik di kala fajar menyingsing maupun diheningnya malam.
5. Memilih Lingkungan dan Sahabat yang Sholeh
Agama seseorang sangat dipengaruhi oleh dengan siapa ia berteman.
Rasulullah SAW mengingatkan agar kita berteman dengan orang-orang baik yang saling mengajak pada ketaatan, serta menjauhi pergaulan yang melalaikan shalat dan menjauhkan diri dari Allah.
Muhasabah Diri: Sebelum Pintu Usai
Hari ini adalah momen untuk bersimpuh dan bertanya pada diri sendiri:
Dosa apa yang telah aku perbuat hari ini?
Apakah dosa-dosaku yang lalu telah diampuni oleh-Nya?
Jangan sekali-kali mendustakan agama dan jangan pernah menunggu ajal menjemput baru berkeinginan untuk bertaubat. Allah SWT berfirman:
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?'”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Bila taubat baru diucapkan saat sakaratul maut tiba, maka kita termasuk golongan orang-orang yang paling merugi.
Untaian Doa
Ya Allah, Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Bersihkanlah hati kami dari noda-noda dosa, tunjukilah kami jalan hidayah-Mu, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu bersama orang-orang yang sholeh.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Dinarasikan Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Informasi & Komunikasi MUI Kabupaten Kuantan Singingi)