Fajar Islam Berkemajuan: Membaca Zaman Tanpa Kehilangan Arah
*Ronaldo Rozalino*
Bismillah. Waktu berjalan tanpa kompromi. Ia tidak berbisik, tidak pula menanti. Masa depan tidak pernah menunggu siapapun untuk siap; ia datang menerjang, membawa gelombang perubahan yang melintasi batas-batas tradisi.
Di tengah pusaran zaman modern yang serba cepat, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan pesan penting:
"Gerakan keislaman tidak boleh sekadar lelap merawat warisan sejarah, melainkan harus berani merancang dan menyiapkan masa depan".
Islam tidak pernah diturunkan untuk menjadi penonton sejarah yang pasif. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat/masa depan)...” (QS. Al-Hasyr: 18)
Mata ayat ini menjadi pijakan spiritual bahwa kesadaran akan hari esok memerlukan perencanaan, ilmu, dan keberanian berpikir jauh ke depan.
Menjadi Kanopi Suci di Pusaran Modernitas: Dakwah Profetik Menatap Masa Depan
Lima pilar pemikiran yang diusung Haedar Nashir menjadi cermin reflektif bagi dakwah Islam di era kontemporer:
1. Menjadikan Agama sebagai Kanopi Suci
Di tengah bisingnya modernitas dan sekularisme, agama harus hadir sebagai naungan yang menyejukkan memberikan arah, kedamaian, dan nilai transendental yang tak lekang oleh waktu.
Agama bukan sekadar ritual formalis, melainkan kompas moral kehidupan.
2. Merangkul Dunia Generasi Muda
Dakwah tidak bisa lagi dilakukan dengan bahasa yang asing bagi kaum muda.
Rasulullah SAW bersabda, "Ajaklah manusia berbicara sesuai dengan kadar akal (dan pemahaman) mereka" (HR. Muslim).
Menghadiri dunia muda berarti mau mendengar, memahami pergolakan zaman mereka, serta hadir menawarkan persahabatan yang menuntun.
3. Agama sebagai Power Solutif
Keberagamaan yang membumi adalah keagamaan yang menjawab persoalan nyata dari krisis ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga tantangan era kecerdasan buatan (AI).
Islam Berkemajuan hadir membawa ilmu dan aksi nyata, bukan sekadar kata-kata hikmah tanpa kerja.
4. Mengoperasionalkan Alternatif Mencerahkan
Menghadapi sekularisme dan pergeseran budaya tidak cukup dengan narasi penolakan atau amarah.
Karakter dakwah sejati adalah menghadirkan pilihan alternatif yang jauh lebih indah, rasional, dan mencerahkan keadaban publik.
5. Membaca Masa Depan dengan Kerja Intelektual Profetik
Sebuah gerakan yang hanya sibuk memadamkan kebakaran hari ini akan selalu tertinggal oleh dinamika hari esok.
Dibutuhkan keberanian melangkah, ketajaman analisis, serta fondasi iman yang kokoh untuk menatap 10 hingga 20 tahun mendatang.
Menjaga identitas tidak berarti bersikap kaku dan menutup diri dari dunia. Seperti pohon yang menghunjamkan akarnya ke dalam bumi namun merentangkan dahan-dahannya menjangkau langit luas.
Demikianlah sejatinya wujud Islam Berkemajuan: teguh dalam prinsip, terbuka pada zaman, dan berani menyiapkan masa depan.
Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau, Coach)