Menjaga Marwah di Luar Ksatrian: Merajut Silaturahmi dan Kedisiplinan Taruna SMA Taruna Muhammadiyah Riau lewat Tradisi "Wajib Lapor Pesiar"
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
(QS. An-Nisa': 1)
Di dalam kehidupan ksatrian SMA Taruna Muhammadiyah Riau, kedisiplinan bukanlah sekadar atribut yang melekat saat mengenakan seragam di lingkungan sekolah.
Kedisiplinan adalah watak, jiwa, dan kehormatan yang terus bersemayam dalam dada setiap taruna dan taruni, ke mana pun kaki mereka melangkah termasuk ketika masa pesiar tiba.
Pesiar bukan semata waktu untuk melepas lelah dari rutinitas ketat ksatrian, melainkan panggung nyata untuk menguji sejauh mana nilai-nilai karakter, kesantunan, dan kepemimpinan itu tertanam.
Guna memelihara marwah almamater dan merajut ukhuwah di tengah masyarakat, SMA Taruna Muhammadiyah Riau menerapkan tradisi luhur:
Wajib Lapor Pesiar Mandiri kepada Pemerintah Desa.
Langkah Penuh Khidmat: Dari Salam hingga Bimbingan Tokoh Masyarakat
Sejak awal melangkahkan kaki keluar dari gerbang sekolah untuk memulai masa pesiar, hingga tiba waktunya kembali ke ksatrian, para taruna dan taruni diwajibkan menyambangi Kantor Kepala Desa maupun Kediaman Kepala Desa tempat mereka tinggal.
Suasana hangat penuh kekeluargaan senantiasa mewarnai setiap pertemuan. Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh tatakrama:
Salam dan Penghormatan: Diawali dengan sikap sempurna, penuh rasa hormat dan kesantunan kepada Kepala Desa beserta perangkat desa setempat.
Penyampaian Maksud dan Tujuan: Menjelaskan iktikad baik kedatangan untuk bersilaturahmi sekaligus melaporkan keberadaan diri selama masa libur (pesiar) mandiri.
Penyerahan Surat Izin Pesiar: Mengunjukkan dokumen resmi izin pesiar yang diterbitkan oleh pihak sekolah sebagai wujud transparansi dan kepatuhan prosedur.
Bimbingan dan Arahan: Mengadopsi kearifan lokal melalui nasihat serta pengarahan dari pemangku adat dan pemerintah desa setempat.
Pengisian Formulir Lapor Diri: Mendata administrasi keberadaan siswa secara tertulis demi terjaminnya akuntabilitas keberadaan mereka di lingkungan warga.
Menjalin Silaturahmi, Memetik Keberkahan
Tradisi ini merujuk pada keagungan ajaran Islam dalam menjaga hubungan antarsesama (hablum minannas).
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Melalui langkah bersahaja para taruna yang mengetuk pintu rumah-rumah pemimpin desa, tali silaturahmi antara lembaga pendidikan Muhammadiyah dan pemerintah masyarakat di akar rumput terikat semakin kuat.
Kehadiran taruna di tengah pemukiman bukan lagi sebagai 'orang luar', melainkan bagian integral dari warga desa yang siap menjaga ketertiban dan harmoni.
(Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau)
Pesan Moral dan Harapan Luhur
Di bawah pengarahan Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd selaku Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau kegiatan ini menyemai tiga harapan utama:
Menjaga Kedisiplinan dan Jiwa Ksatria: Agar jiwa tanggung jawab seorang taruna/taruni tidak pudar meskipun berada di luar pengawasan langsung para pamong sekolah.
Terjaminnya Ketertiban dan Harmoni: Menjadi teladan di tengah masyarakat dengan menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, adat istiadat, dan nilai kemasyarakatan.
Menjaga Nama Baik Almamater: Menjadi cermin hidup dari panji SMA Taruna Muhammadiyah Riau yang membawa sejuk dan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Sebagaimana firman Allah SWT mengenai pentingnya menampilkan akhlak mulia dan kedisiplinan dalam setiap perbuatan:
“Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”
(QS. Al-Hajj: 77)
Seragam hijau ksatrian yang mereka kenakan bukan sekadar kain penyalut tubuh, melainkan janji moral untuk senantiasa menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berkarakter, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.
(Ditulis untuk Publikasi SMA Taruna Muhammadiyah Riau — Ronaldo Rozalino)