Lestarikan Warisan Rasa, Kuantan Tengah Bawa Pesona Kuliner Kuansing ke Panggung Budaya
KUANTAN SINGINGI — Malam berbalut kehangatan menyelimuti riuhnya gelaran budaya di Kuantan Singingi.
Di tengah panggung kebudayaan yang megah dan gemerlap cahaya malam, Kecamatan Kuantan Tengah tampil memukau membawa nomor undian 28 dengan mengusung tema bernilai luhur:
“Makanan Khas Kuansing”.
Langkah demi langkah peragaan busana karnaval menjelma menjadi simfoni visual yang memanjakan mata.
Kostum-kostum megah dirancang anggun dengan replika nampan-nampan tradisional yang memamerkan aneka hidangan khas daerah.
Terpancar jelas harmoni antara keindahan seni busana dan warisan kulinari bumi Kuansing.
Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, tampak hadir memimpin parade dengan penuh kebanggaan. Ia menuturkan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga identitas kebudayaan daerah.
“Melestarikan Cita Rasa dan Budaya Kuliner Khas Kuantan Singingi,” ungkap Eka Putra di sela-sela kemeriahan acara.
Bagi masyarakat Kuantan Singingi, hidangan tradisional bukan sekadar pemuas dahaga dan penawar lapar.
Kudapan seperti konji barayak, galamai, kerupuk sagu, paniaram, hingga lomang adalah mahakarya rasa yang menyimpan remah-remah sejarah, kehangatan kebersamaan, dan ikatan silaturahmi yang erat.
Menenun Rasa, Merawat Tradisi: Pesona Kuliner Khas Kuansing Semarakkan Pawai Budaya Kecamatan Kuantan Tengah
Melalui tema ini, Kuantan Tengah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyusuri kembali jejak keunikan kuliner yang diwariskan oleh para leluhur.
Setiap suapan dan cita rasa tidak hanya menyajikan kelezatan, tetapi juga memancarkan kreativitas, identitas, serta kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu.
Di tengah derasnya arus modernisasi, diplomasi budaya melalui kuliner ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda.
Generasi penerus bangsa diimbau untuk semakin mencintai akar budayanya sendiri, menjaga agar warisan rasa Kuansing tetap menggema di panggung luas dan tak pernah padam ditelan zaman.
Kemeriahan pawai malam itu menjadi bukti nyata bahwa tradisi akan terus hidup dan bernapas selama ada jiwa-jiwa yang merawatnya dengan kasih dan rasa bangga.
Reportase: Ronaldo Rozalino - Coach RR
(Ketua Forum Literasi Kuansing)