Jangan Japri Saya! Ngopi Saja Sambil Diskusi Baru Asyik
Oleh: Ronaldo Rozalino
Bismillah. Dunia maya dewasa ini adalah cermin bening dari hamparan jiwa manusia. Di balik layar kaca yang dingin, terpancar riak rasa: kehangatan silaturahmi, pertukaran gagasan, hingga dengki yang terselubung rapi di balik tirai formalitas.
Ketika sebuah pesan personal masuk melalui jalur pribadi (japri), bernada kegelisahan atas geliat pemikiran yang dibagikan di ruang publik organisasi, kita diajak untuk berhenti sejenak dan merenung.
Riak Kegelisahan di Ruang Digital
Sebuah peristiwa menarik terjadi di sebuah grup WhatsApp organisasi masyarakat. Seseorang merasa keresahan menyergap tatkala narasi, gagasan penokohan, serta tulisan bereputasi dibagikan.
Pesan pribadi pun terkirim, memuat larangan agar tak menonjolkan keahlian ("santiang") atau promosi pemikiran.
Mengapa sebuah ruang interaksi yang sejatinya dibuka tanpa batas seketika hendak dipagari?
Apakah tulisan yang mencerahkan dianggap sebagai ancaman kompetisi?
Dalam panggung kehidupan digital, penyampaian karya dan identity gagasan kerap disalahartikan sebagai kesombongan, padahal ia adalah wujud dari Personal Branding yang sehat dan jujur.
"Lagi malas berdebat dengan orang yang selalu salah menilai orang lain karena ada kedengkian di hatinya. Astaghfirullah."
Menakar Dengki dan Etika Ukhuwah
Gelar akademis yang menjulang mentereng tak otomatis meluaskan sudut pandang jiwa. Ketika cara berpikir terjebak dalam rasa tersaingi yang kanak-kanak, kedengkian terselip halus mengikis ketenangan nurani.
Agama Islam memberikan gambaran amat tegas mengenai penyakit hasad (dengki) ini. Rasullullah SAW mengingatkan betapa merusaknya rasa iri hati terhadap amalan kebaikan:
Pesan Rasulullah SAW tentang Bahaya Hasad:
"Jauhilah olehmu sekalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya sifat hasad itu memakan (menghancurkan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Daud no. 4903)
Al-Qur'an pun mengajarkan kita untuk menyikapi prasangka buruk dengan kedamaian nurani dan kerendahan hati.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa..."
Dari Kompetisi Menuju Kolaborasi Berkibar
Alih-alih berdebat dalam ruang sempit pesan pribadi yang defensif dan tertutup, alangkah indahnya jika setiap perbedaan pandangan dan dialektika pemikiran dirayakan di atas meja diskusi yang jujur.
Secangkir kopi hangat dan obrolan yang mencerahkan jauh lebih mulia daripada bisikan kedengkian dari belakang panggung.
Prinsip Mental Sehat & Bahagia
Tak perlu bersaing, mari saling melengkapi
Tak perlu berkompetisi, mari berkolaborasi
Tak perlu merasa diri hebat, mari mencari berkat
Tak perlu gelisah dan resah, mari bahagia karena ada Allah
Melawan rasa tersaingi bukanlah dengan membendung karya orang lain, melainkan dengan memperluas kapasitas diri.
Mari bertumbuh bersama dengan mental yang sehat, pikiran yang terbuka, serta jiwa yang senantiasa lapang menerima keberkahan sesama.
Salam Mental Sehat dan Bahagia,
Ronaldo Rozalino