Memancarkan 'Izzah dan Akhlak: Membangun Wibawa Diri Berlandaskan Al-Qur'an dan Hadist
*Ronaldo Rozalino*
Bismillah. Wibawa sejati bukanlah hasil rekayasa, pencitraan Topeng, atau panggung sandiwara.
Wibawa adalah pancaran dari dalam jiwa sebuah aura positif yang hadir ketika seseorang jujur, bangga pada dirinya sendiri, serta teguh berdiri di atas prinsip kebenaran.
Sebagaimana kita menghormati diri sendiri, sedemikian pula orang lain akan memperlakukan kita dengan penuh hormat.
Dalam Islam, wibawa (haibah) dan kemuliaan (‘izzah) lahir dari ketakwaan, kejujuran, serta kepribadian yang matang.
Rasulullah SAW adalah cerminan pribadi paling berwibawa: hatinya lembut namun prinsipnya sekeras karang.
Tercermin dari landasan nilai yang kuat, terdapat 6 karakter utama yang membentuk wibawa dan membuat seseorang begitu disegani:
1. Sopan Namun Tetap Tegas
Kelembutan tutur kata tidak pernah mengurangi ketegasan sikap. Seseorang yang berwibawa tahu kapan harus merangkul dengan kesantunan dan kapan harus berdiri teguh mempertahankan kebenaran. Allah SWT berfirman mengenai kelembutan yang berpadu ketegasan:
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..." (QS. Ali 'Imran: 159).
2. Bicara Seperlunya, Namun Sarat Makna
Tidak semua hal perlu diucapkan. Kata-katanya selalu didengar dan ditunggu karena lahir dari kedalaman pemikiran, bukan sekadar riak buih di permukaan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim).
3. Tidak Mudah Silau oleh Pencapaian Orang Lain
Jiwanya tenang dan bersyukur. Ia tidak sibuk membandingkan langkah hidupnya dengan panggung milik orang lain.
Ketenangan ini berakar dari rasa cukup (qana'ah) dan rasa percaya diri yang jujur.
"Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kesenangan yang telah Kami berikan kepada beberapa kelompok di antara mereka..." (QS. Al-Hijr: 88).
4. Berani Menolak Tanpa Rasa Bersalah
Mampu berkata "tidak" pada hal-hal yang bertentangan dengan kapasitas, waktu, atau prinsip dirinya secara bijak.
Ini bukanlah bentuk kesombongan, melainkan kejujuran pada batas diri dan penghormatan atas komitmen yang dimiliki.
5. Kehadiran yang Membawa Rasa Aman, Bukan Kepalsuan
Karakter yang autentik memberikan rasa nyaman bagi siapa saja di sekitarnya. Tanpa kepalsuan, integritasnya memancarkan kehangatan dan rasa aman.
Rasulullah SAW menggambarkan seorang muslim sejati:
"Muslim yang sejati adalah orang yang membuat orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya." (HR. Bukhari).
6. Memperlakukan Orang Lain Sebagaimana Ingin Diperlakukan
Empati dan rasa hormat yang tulus adalah cermin dari kebersihan hatinya. Menghormati sesama adalah cara paling bermakna untuk menghormati marwah diri sendiri.
"Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim).
Wibawa tidak dibeli dengan harta, tidak pula dibangun atas dasar kepalsuan. Ia adalah buah dari kejujuran pada nurani dan keteguhan memegang prinsip kebaikan.
Tetaplah berdiri tegak, cintai dirimu dengan ketakwaan, dan biarkan kebaikanmu memancarkan cahayanya sendiri.
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
14 tahun yang lalu
Posting Komentar
Komentar ya