Menjemput Ampunan di Ambang Senja: Bertaubat, Memperbaiki Diri, dan Menebar Kebaikan
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd.
(Sekretaris Komisi Info & Komunikasi DP MUI Kab. Kuansing)
Lembayung Jum'at yang Menenangkan Jiwa
Bismillah. Di bawah naungan kubah megah Masjid Makkah Syech Ali Indragiri, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Kuantan Tengah, hembusan angin Jum’at tanggal 16 Oktober 2026 terasa begitu menyejukkan hati.
Ratusan jamaah bersimpuh anggun dalam ketenangan, menyimak petuah-petuah suci yang mengalun mulia dari atas mimbar.
Setiap kata yang terucap seolah menjadi embun penyejuk bagi jiwa-jiwa yang haus akan ampunan Sang Maha Pencipta.
Khutbah Jum'at kali ini membawa pesan yang amat mendalam bagi perjalanan hidup kita:
Bertaubat kepada Allah SWT, meninggalkan maksiat, memperbagus hubungan dengan Sang Khaliq, serta menyibukkan diri dalam menebar kebaikan kepada sesama manusia.
1. Membuka Pintu Taubat: Kembalinya Hamba ke Pelukan Rahmat
Manusia tempatnya silap dan lupa. Namun, sebaik-baik hamba bukanlah yang tak pernah berbuat dosa, melainkan mereka yang sadar lalu bersegera menyuci jiwanya dengan air mata penyesalan.
Allah SWT memanggil hamba-hamba-Nya dengan nada penuh kasih sayang dalam Surah At-Tahrim ayat 8:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nasuha)..." (QS. At-Tahrim: 8)
Rasulullah SAW juga bersabda tentang indahnya pintu ampunan Allah:
"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)
Bertaubat bukan sekadar retorika di bibir, melainkan sebuah metamorfosis jiwa meninggalkan kegelapan maksiat menuju terangnya ketaatan.
2. Menyibukkan Diri dalam Kebajikan: Benteng Terkuat Penolak Maksiat
Hati manusia bak bejana. Jika tidak diisi dengan kebaikan, maka keburukan dan kemaksiatanlah yang akan memenuhinya.
Cara terbaik untuk meninggalkan maksiat adalah dengan menyibukkan jemari, langkah, dan pikiran kita untuk berbuat baik kepada sesama.
Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang amat menyentuh:
اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, iringilah keburukan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi)
Saat kita sibuk mengulurkan tangan membantu sesama, mendoakan kebaikan untuk sesama, dan membagikan kebermanfaatan, ruang untuk berbuat maksiat akan sirna dengan sendirinya.
3. Memperbaiki Hubungan dengan Allah (Hablum minallah)
Perbaikan hidup bermula dari perbaikan shalat, zikir, dan keikhlasan hati kita kepada Allah SWT.
Ketika hubungan seorang hamba dengan Penciptanya kembali harmonis dan erat, maka Allah akan menata seluruh urusan dunianya menjadi indah dan penuh keberkahan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Untaian Doa dan Harapan
Semoga setiap detik umur yang tersisa menjadi saksi atas taubat yang kita bina.
Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang senantiasa melangkahkan kaki menuju ridha-Nya, menjaga hati dari noda maksiat, serta menjadi lentera kebaikan bagi sesama.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Posting Komentar
Komentar ya