Terjebak Badai Kebencian: Tuntunan Al-Qur'an dan Hadits dalam Menjaga Lisan serta Jiwa
Menjaga Nurani di Tengah Riak Kebencian: Memahami Konsekuensi Perbuatan
Bismillah. Kebencian adalah kabut tebal yang kerap membutakan mata hati nurani. Ketika benih benci telah bersemayam, telinga enggan mendengar kebenaran dan mata menolak melihat kebaikan.
Kesalahan kecil yang tak seberapa kerap diperbesar menjadi aib raksasa, lalu dilontarkanlah serangan demi serangan tanpa menyisakan belas kasihan.
Dalam maraknya perundungan digital maupun nyata, manusia kerap lupa bahwa setiap lisan yang terucap dan jemari yang mengetik celaan memiliki dampak kehancuran nyata bagi jiwa sesamanya.
"Jangan Hancurkan Hidup Orang Lain: Hukum Balasan Itu Nyata" (Ronaldo Rozalino)
Aksi merundung (bullying) tanpa henti dan tanpa rasa bersalah bukan sekadar merusak kondisi mental orang lain, melainkan juga mengikis kemanusiaan sang pelaku itu sendiri.
Namun, ada satu kepastian yang berlaku di alam semesta: tidak ada satu pun tindakan yang luput dari perhitungan. Apa yang kita tanam, itulah yang kelak akan kita tuai.
Kebencian dan kedengkian yang disebar ke dunia kelak akan kembali melingkupi diri sendiri dalam bentuk balasan yang sepadan.
Pandangan Al-Qur'an dan Al-Hadits tentang Hukum Balasan dan Keadilan
Konsep "tabur tuai" atau kepastian balasan atas setiap perbuatan ditegaskan secara mendalam dalam ajaran Islam.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra' ayat 7:
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…”
Prinsip keadilan ini juga digambarkan secara mutlak dalam QS. Az-Zalzalah ayat 7-8:
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga mengingatkan kita untuk menjauhi kezaliman dan kebencian yang membutakan, sebagaimana sabda beliau:
“Takutlah kamu akan kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti sesama, sebagaimana beliau bersabda:
“Muslim yang sejati adalah seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Menata Langkah dengan Kebijaksanaan
Jangan biarkan jemari atau lisan kita menjadi instrumen penghancur hidup orang lain. Mari kita kembali merawat kedamaian dalam dada, berhati-hati dalam bertindak maupun berbicara, serta senantiasa menyebar kebaikan.
Sebab pada akhirnya, hukum balasan Allah tidak pernah salah alamat; setiap benih kebaikan akan berbuah ketenangan, sedang benih kejahatan hanya akan membuahkan penyesalan.
Karya Reflektif:
Berdasarkan pemikiran Ronaldo Rozalino (Coach RR) — Teacherpreneur, Content Creator, Motivator Literation & Education, Business Leader, Writer, Composer & Arranger, Coach.
Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino