Sentajo Raya, Rabu, 21 Oktober 2026 – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa Tahun 2026 sekaligus sebagai ajang meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan menyalurkan bakat komunikasi para siswa.
Kegiatan "English Speech Competition 2026" tingkat SMA tingkat Kabupaten Kuantan Singingi resmi diselenggarakan hari ini.
Acara yang berlangsung di kompleks SMAN 1 Sentajo Raya, Provinsi Riau ini diikuti oleh perwakilan siswa dari 22 SMA se-Kabupaten Kuantan Singingi.
Kegiatan dimulai tepat pukul 09.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Bapak H. Maswandi, S.Pd., M.M. selaku Koordinator Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris Kabupaten Kuantan Singingi.
Salah satu peserta yang berpartisipasi mewakili sekolah tuan rumah adalah Anindya Dewani, siswi kelas X2 dari SMAN 1 Sentajo Raya, dengan pendampingan langsung dari Mrs. Tri Nurhasanah, S.S.,M.Pd Guru Pembimbing Bahasa Inggris SMAN 1 Sentajo Raya, Provinsi Riau.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan di dalam ruangan indoor/aula yang dihadiri oleh pengurus MGMP, para juri, guru pembimbing, serta peserta.
Melalui kompetisi ini, diharapkan dapat lahir generasi muda Kuantan Singingi yang berani, tampil percaya diri, serta mahir berkomunikasi menggunakan bahasa internasional. (Coach RR)
Menjemput Takdir Kebaikan: Saat Kualitas Diri Membuka Pintu Rezeki
Seni Mensejahterakan Diri: Ketika Keberkahan Menjemput Kualitas Diri
Bismillah. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk berlari mengejar bayang-bayang rezeki. Mereka terpukau oleh kilau kekayaan, kemewahan, serta kenyamanan hidup tanpa disadari bahwa harta sejati tidak pernah berada pada apa yang kita genggam, melainkan pada siapa diri kita sebenarnya saat ini.
Ketika fokus utama hidup hanyalah menumpuk angka dan materi, kita rentan terjebak dalam rasa lelah yang tak berujung. Padahal, jalan menuju kesejahteraan hakiki dimulai dari sebuah fondasi yang kokoh: menata dan mengasah potensi diri.
Ketika seseorang berfokus untuk terus belajar, menempal kualifikasi diri, menguasai keterampilan, dan hadir membawa manfaat bagi sesama, rezeki tidak lagi perlu dikejar secara membabi buta ia akan datang dan menghampiri sebagai buah dari nilai yang telah kita tanam.
1. Belajar Tanpa Henti: Menuntut Ilmu sebagai Nawala Kehidupan
Menjadikan belajar sebagai bagian dari helatan napas sehari-hari adalah langkah awal menuju keutamaan.
Dunia yang senantiasa berubah menuntut jiwa-jiwa yang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dikuasainya.
Prinsip pentingnya menuntut ilmu ini berkelindan erat dengan ajaran Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan dalam kegelapan. Dengan rajin membaca, memahami dinamika zaman, serta mengasah pemikiran, kita sedang membukakan pintu-pintu kemudahan yang tak terduga dalam kehidupan.
2. Meningkatkan Kualitas Diri dan Berhijrah dari Diri yang Kemarin
Ukurannya bukanlah seberapa jauh kita mengungguli orang lain, melainkan seberapa jauh kita tumbuh dibanding diri kita sendiri di masa lalu.
Perbaikan sekecil apa pun yang dipupuk secara konsisten (istiqamah) akan melahirkan keteguhan jiwa dan pencapaian luar biasa dalam jangka panjang.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Langkah untuk mendisiplinkan diri, menambah wawasan, serta memberanikan diri menghadapi tantangan baru adalah wujud nyata dari upaya mengubah takdir menuju arah yang lebih mulia.
3. Membangun Keterampilan dan Menciptakan Kebermanfaatan
Teori tanpa kecakapan praktis hanyalah bayangan tanpa wujud. Di era modern, memiliki keterampilan bernilai baik di bidang teknologi, komunikasi, seni, maupun analisis adalah benteng kekuatan kita.
Keterampilan tersebut hendaknya diniatkan untuk memberi nilai tambah dan membantu meringankan beban sesama.
Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat. Rasulullah SAW menegaskan:
"Khairunnas anfa’uhum linnas — Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad dan Thabrani)
Ketika karya dan keterampilan kita mampu menghemat waktu orang lain, memberikan jalan keluar atas masalah mereka, atau mengukir senyum kebahagiaan, saat itulah keberadaan kita menjadi sungguh berharga di mata dunia dan Sang Pencipta.
4. Menyelesaikan Masalah: Menjadi Solusi, Bukan Sekadar Pemburu Hasil
Alih-alih terus menanyakan bagaimana cara mengumpulkan harta secara instan, tanyakanlah masalah apa yang sanggup kita bantu selesaikan hari ini.
Rezeki pada hakikatnya adalah balasan atas nilai, manfaat, dan solusi yang kita hadirkan bagi lingkungan sekitar.
Islam mengajarkan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat ikhlas untuk membantu sesama tidak akan pernah sia-sia. Allah SWT berfirman:
"Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri..." (QS. Al-Isra': 7)
Ketahuilah bahwa keberhasilan bukanlah garis akhir yang dicapai dalam sehari. Jangan biarkan rasa iri mengaburkan pandangan saat melihat keberhasilan orang lain, sebab kita tidak pernah tahu seberapa dalam derita dan ujian yang telah mereka lewati.
Uang hanyalah alat dan sarana pendukung dalam mengarungi kehidupan. Ia hadir bukan sebagai tuan yang harus disembah, melainkan sebagai kawan yang menyertai kelayakan diri kita.
Mari alihkan fokus dan energi kita:
Jangan hanya sibuk mengejar uang, tetapi bangunlah kapasitas diri yang memancarkan nilai, kebijaksanaan, dan kebermanfaatan.
Kaya ilmu, kuat keterampilan, serta tinggi nilai kebaikan akan membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ronaldo Rozalino – Coach RR
(Teacherpreneur • Content Creator • Motivator Literation & Education • Business Leader • Writer • Composer & Arranger • Coach)
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Website: s.id/RonaldoRozalino
Seni Menjadi Diri Sendiri di Tengah Riuh Kepalsuan
Matematika Sosial dan Lingkar Pertemanan: Antara Kuantitas dan Kedalaman Makna
Bismillah. Di tengah rimba kehidupan sosial, kita sering kali terjebak dalam angka-angka yang menipu.
Kita mengukur keberhasilan pertemanan dari seberapa ramai lingkar pergaulan (circle) yang kita miliki.
Namun, ada sebuah hukum tak tertulis yang melandasi dinamika ini:
"Semakin palsu dirimu, maka semakin luas circle pertemananmu. Semakin realistis dirimu, maka semakin kecil circle pertemananmu."
Ini bukanlah sekadar kepahitan hidup, melainkan sebuah matematika sosial yang nyata.
Mengapa orang yang berpura-pura cenderung disukai banyak orang?
Sebab, topeng kepalsuan adalah hal yang paling aman bagi ego manusia. Ketika seseorang selalu mengiyakan, menghindari gesekan, dan memantulkan apa saja yang ingin dilihat orang lain, ia menjadi bagaikan air yang tenang namun tanpa kedalaman.
Ia menjadi bunglon sosial yang diterima di mana-mana karena tidak pernah menawarkan kejujuran yang menentang.
Sebaliknya, menjadi pribadi yang jujur, realistis, dan berprinsip akan melahirkan batas.
Keteguhan untuk berkata "tidak", keberanian untuk memegang nilai kejujuran, serta kemauan untuk menjadi diri sendiri adalah filter alami yang akan menyaring siapa saja yang benar-benar layak berada di dekat kita.
Keramaian di sekeliling kita pun perlahan menyusut.
Perspektif Al-Qur'an dan Hadis
Dalam pandangan Islam, phenomenon ini bukanlah hal yang mengejutkan. Al-Qur’an dan Hadis telah memberikan petunjuk mendalam mengenai hakikat hubungan antarmanusia:
Bahaya Muka Dua dan Kepalsuan
Sikap senantiasa berpura-pura agar diterima oleh semua kalangan sangat dekat dengan sifat bermuka dua. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:
"Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua (dzul wajhain), yang datang kepada kelompok ini dengan satu wajah dan datang kepada kelompok lain dengan wajah yang lain." (HR. Bukhari no. 3494 & Muslim no. 2526)
Kuantitas Bukanlah Ukuran Keberkahan Banyaknya teman tidak menjamin kedalaman dan keberkahan. Allah SWT mengingatkan bahwa persahabatan yang tidak dilandasi oleh ketakwaan dan kejujuran kelak di akhirat hanya akan berubah menjadi permusuhan:
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 67)
Kualitas Sahabat Mencerminkan Agama Seseorang
Kehadiran lingkaran kecil yang jujur jauh lebih berharga daripada riuhnya teman yang datang hanya saat senang. Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Dawud no. 4833 & Tirmidzi no. 2378)
Seleksi Alam yang Menentramkan
Ketika usia bertambah dan prinsip hidup makin kokoh, menyusutnya lingkaran pertemanan bukanlah sebuah kerugian. Itu adalah bentuk penyaringan alami yang membersihkan hidup kita dari riuh yang hampa.
Luas tidak sama dengan dalam; banyak tidak sama dengan berarti.
Lingkaran pertemanan yang sempit namun diikat oleh kejujuran, prinsip yang sama, dan ketakwaan akan menjadi penopang paling kokoh saat kita terjatuh.
Maka, jangan pernah bersedih ketika circle-mu mengecil, sebab di sanalah kejujuran sedang bekerja merajut pertemanan yang sejati.
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...14 tahun yang lalu
-