Merawat Ridho, Menjaga Syurga: Menjelajahi Dosa-Dosa Kecil yang Melukai Hati Orang Tua
Bismillah. Di bawah naungan langit kehidupan yang penuh dengan fatamorgana, kerap kali kita melangkah terlalu jauh hingga lupa pada telapak kaki yang pertama kali mengajari kita berjalan.
Orang tua dua jiwa agung yang menjadi perantara kehadiran kita di muka bumi sering kali menjadi muara tempat kita meluapkan kelelahan dengan cara yang salah.
Tanpa kita sadari, retakan-retakan kecil dalam tutur kata dan sikap sehari-hari perlahan mengikis keberkahan hidup kita sendiri.
Allah SWT berfirman dengan sangat lembut namun penuh penekanan dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra' ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra': 23)
Namun, dalam riak keseharian, betapa sering kita menganggap sepele hal-hal kecil yang justru mengores dinding hati mereka:
Nada Tinggi dan Seruan Kurang Santun Menganggap ibu atau ayah terlalu cerewet lalu membalasnya dengan bentakan atau nada keras. Padahal, lisan yang lembut kepada orang tua adalah jalan lapang menuju syurga.
Memotong Pembicaraan dan Merasa Lebih Pintar
Merasa ilmu dan zaman kita lebih modern, lalu menyanggah nasihat mereka dengan kesombongan.
Tatapan Sinis dan Bahasa Tubuh yang Dingin Memutar bola mata atau menatap tajam saat dinasihati. Tatapan dingin seorang anak bisa melukai lebih dalam daripada ribuan kata.
Menunda Panggilan Orang Tua
Ketika dipanggil, kita santai merespons "Tunggu dulu!" hanya karena urusan duniawi yang tidak seberapa.
Terpaku pada Layar Gawai (HP)
Lebih menikmati kehangatan maya di media sosial daripada menyapa dan berbincang hangat dengan orang tua yang ada di depan mata.
Mengungkit Pemberian
Menghitung-hitung kebaikan dan bantuan materi yang pernah kita berikan kepada mereka, seolah kita lupa berapa samudera pengorbanan yang telah mereka curahkan tanpa meminta balasan.
Berharap Kepulangan Mereka Demi Warisan
Na'udzubillah, menyelimuti hati dengan keserakahan harta hingga mendoakan orang tua cepat wafat.
Meneteskan Air Mata Orang Tua Lewat Ucapan Kasar
Membuat hati mereka menangis dan dada mereka sesak akibat lisanku yang tak terjaga.
Malu Mengakui Orang Tua
Merasa minder atau malu mengenalkan orang tua di depan teman atau relasi hanya karena kondisi fisik, ekonomi, atau latar belakang mereka yang sederhana.
Mendoakan Keburukan Saat Amarah Memuncak
Ini adalah puncaknya, ketika amarah menutup mata hati hingga terucap doa buruk untuk orang tua. Padahal, doa buruk yang terlempar bisa berbalik menjadi kutukan bagi kehidupan anak itu sendiri.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang amat masyhur:
“Ridhollahi fi ridhal walidain, wa sukhtullahi fi sukhtil walidain.”
"Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua." (HR. Tirmidzi)
Ketika ridho orang tua terangkat, tak heran jika rezeki terasa memampat, rumah tangga kehilangan ketenangan, dan langkah kaki terasa berat melangkah. Sebab, pintu langit dibuka atau ditutup melalui senyuman dan kerelaan hati ayah dan ibu.
Mari kita sejenak menundukkan kepala, memohon ampunan kepada Allah atas setiap khilaf yang sengaja maupun tak sengaja telah melukai hati orang tua kita. Basahilah lisan kita untuk selalu mendoakan mereka:
“Rabbighfir lii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”
(Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka merawatku di waktu kecil).
Semoga kita dan keturunan kita senantiasa dijauhkan dari sifat durhaka, serta dikaruniai hati yang santun untuk berbakti kepada kedua orang tua.
By.Ronaldo Rozalino - Coach RR