Antara Amanah, Panggilan Jiwa, dan Jejak Keberkahan: Refleksi Seorang Teacherpreneur
Bismillah. Setiap langkah dalam panggung kehidupan sering kali tidak berjalan lurus sesuai dengan lembaran cita-cita masa kecil.
Ada yang bermimpi mengenakan seragam ketat untuk mengabdi pada negara, ada yang merindukan denting nada di atas panggung seni, dan ada pula yang sejak dini sudah akrab dengan hiruk-pikuk dunia usaha.
Namun, takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu punya cara yang indah dalam menuntun hamba-Nya menuju tempat terbaik untuk menanam benih kebaikan.
Sering kali, pandangan orang-orang di sekitar menilai kita telah layak memangku suatu jabatan tinggi.
Ucapan seperti "Bapak sudah cocok jadi Kepala Sekolah!" menyeruak sebagai wujud apresiasi atas pengalaman dan kompetensi.
Namun, di balik riuk tepuk tangan dan dorongan tersebut, ada ruang sunyi dalam dada tempat nurani berbisik tajam tentang kesiapan, niat, dan bobot sebuah kepemimpinan.
Kepemimpinan: Sebuah Amanah dan Penyesalan Jika Terabaikan
Menjadi seorang pemimpin atau kepala sekolah bukanlah sekadar muara dari kepemilikan sertifikat atau gelar pelatihan.
Ia adalah puncak gunung amanah yang anginnya berembus sangat kencang. Di sana ada beban kerja yang besar, tanggung jawab moral yang meluas, hingga dinamika kepentingan yang tak jarang menguji integritas.
Dalam Islam, jabatan bukanlah piala untuk diperebutkan, melainkan beban berat yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dalam sebuah hadis sahih:
"Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya." (HR. Muslim)
Keberanian untuk menolak atau menunda melangkah ke kursi kepemimpinan ketika diri merasa belum siap dan belum layak bukanlah tanda kelemahan.
Sebaliknya, itu adalah wujud kesadaran spiritual yang dalam. Sebab, ketika amanah tidak dijalankan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya rasa kecewa dari rekan sejawat yang akan dituai, tetapi juga dosa besar di akhirat kelak.
Teacherpreneur: Menjalankan Kewajiban, Mensejahterakan Sesama
Memilih untuk tetap berada di ruang kelas sebagai guru yang terus berinovasi dan berkolaborasi, sembari menekuni dunia bisnis, adalah pilihan hidup yang mulia.
Konsep Teacherpreneur membuktikan bahwa profesi mendidik tidak membatasi ruang gerak seseorang untuk mandiri secara finansial dan membentangkan jalan rezeki bagi orang lain.
Mengajar adalah tumpuan pengabdian, sedangkan berbisnis adalah sarana melatih kemandirian serta ikhtiar menyiapkan masa depan sebelum masa purna tugas tiba.
Islam sendiri sangat memuliakan seorang hamba yang bekerja keras mencari nafkah yang halal dengan tangannya sendiri dan memberikan manfaat bagi sesama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
"Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah: 10)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda mengenai sebaik-baiknya manusia di mata sesama:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad dan Thabrani)
Ketika bisnis online yang dijalankan mampu membuka lapangan kerja baru bagi orang lain, di situlah nilai-nilai kebaikan bertransformasi menjadi aliran pahala jariyah yang tidak terputus.
Bahagia dalam Ketulusan Mengabdi
Pada akhirnya, pangkat dan jabatan di dunia hanyalah perhiasan sementara yang akan ditinggalkan.
Sekalipun hingga akhir masa tugas tidak pernah menduduki kursi kepemimpinan formal, tidak ada yang sia-sia selama seorang guru tetap teguh menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi masa depan anak-anak didiknya.
Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan seorang guru kepada murid-muridnya akan terus mengalir menjadi cahaya penerang di alam barzakh, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh." (HR. Muslim)
Tetaplah berkarya, baik bagi mereka yang kini mengemban amanah sebagai kepala sekolah maupun mereka yang memilih berjuang di garis depan sebagai Teacherpreneur.
Mengajar sambil berbisnis, berbisnis tanpa mengabaikan tugas mengajar sebuah tatanan hidup yang harmonis. Berkahnya didapat, rezekinya pun berlipat.
Semuanya akan indah pada waktu yang telah ditetapkan-Nya.
Salam Growth Mindset,
Ronaldo Rozalino
(Guru sekaligus Pengusaha / Teacherpreneur)
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI )
[image: Cream Annisa Ok]
Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim)
DAPATKAN kulit muka yang...
14 tahun yang lalu
Posting Komentar
Komentar ya