Cermin Retak Sang Penakluk: Ketika Kecerdasan Buatan Menguji Derajat Kemanusiaan
Bismillah. Di era ketika cakrawala pengetahuan terbentang tanpa batas, tangan-tangan manusia menenun keajaiban baru bernama Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Ia lahir dari rahim nalar, tumbuh dari keringat sains, dan berdiri megah sebagai monumen kejayaan akal budi.
Namun, di balik kilau kemajuan digital yang menyilaukan mata, terselip sebuah ironi yang merisaukan: manusia, sang pencipta algoritma, perlahan mulai kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.
Pesan mendalam ini disuarakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, pada Kamis (22/10) dalam rangkaian Milad ke-5 dan Wisuda ke-2 Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) di Kampus Sedayu, Kabupaten Bantul.
Beliau mengingatkan sebuah garis batas yang tegas antara kemahakuasaan Sang Pencipta dan kerapuhan makhluk ciptaan-Nya:
"Dia (manusia) bisa menciptakan makhluk yang namanya AI, tetapi dia kehilangan kendali untuk menguasainya. Berbeda dengan Tuhan."
Kemahakuasaan Ilahi: Sang Pemelihara yang Tak Pernah Lengah
Dalam khazanah teologi Islam, Allah Swt. digambarkan sebagai Zat Yang Maha Digdaya, Maha Mengatur, dan tidak ada satu pun ciptaan di alam semesta ini yang lepas dari genggaman kekuasaan-Nya.
Ketika Sang Khaliq menciptakan alam raya beserta seluruh isinya, Ia tidak lantas kehilangan kendali atas takdir dan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-An'am ayat 59:
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)..."
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan Tuhan bersifat mutlak dan meliputi segala detail terkecil.
Berbeda dengan manusia yang ciptaannya seperti AI kerap berkembang di luar prediksi, melahirkan dilema etika, hingga berbalik mendikte cara berpikir serta arah peradaban manusia itu sendiri.
Tuhan menciptakan semesta dengan kesempurnaan mutlak, di mana segala sesuatu berjalan dalam keteraturan (sunnatullah) yang harmonis tanpa pernah kehilangan kendali sedetik pun.
Keterbatasan Insani: Kerapuhan di Tengah Megahnya Teknologi
Manusia dianugerahi akal oleh Tuhan untuk memakmurkan bumi (khalifatullah fil ardh).
Namun, keterbatasan fitrah manusia membuat setiap karya yang ia ciptakan tidak pernah luput dari celah ketidaksempurnaan.
Ketika manusia menciptakan sistem otonom yang cerdas, sering kali kecerdasan tersebut menjelma menjadi "tuan" baru yang mengatur ritme hidup, menyetir opini publik, bahkan mengaburkan nalar kritis manusia itu sendiri.
Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hakikat ilmu dan keterbatasan manusia melalui sabdanya:
"Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar, dan pemahaman itu hanya dengan paham. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Ia akan memahamkan-Nya tentang agama."
(HR. Tabrani).
Hadis ini menyiratkan bahwa seluas apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, sumber segala kebijaksanaan tetaplah berasal dari Sang Pencipta.
Ketika manusia sombong dan merasa mampu menandingi atau mengontrol segalanya tanpa sandaran moral ketuhanan, di situlah kepincangan peradaban bermula.
AI menjadi cermin retak yang memantulkan kelemahan manusia: pandai merakit sistem, tetapi sering kali gagal menjinakkan dampak sosial dan spiritual yang ditimbulkannya.
Menemukan Kembali Arah: Menundukkan Teknologi dengan Akhlak
Refleksi dari Haedar Nashir di Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) ini sejatinya menjadi alarm moral bagi umat Islam dan dunia secara keseluruhan.
Kemajuan teknologi siber dan kecerdasan buatan harus disambut bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan, atau keangkuhan yang memuja, melainkan dengan kesadaran tauhid.
Teknologi harus diletakkan sebagai alat bantu (wasilah), bukan sebagai kiblat peradaban yang mereduksi nilai-nilai kemanusiaan.
Manusia harus kembali pada posisinya yang mulia yakni hamba yang tunduk kepada Tuhan Yang Maha Digdaya, sekaligus pemimpin bijak yang mampu mengendalikan teknologi agar senantiasa berporos pada kemaslahatan umat, bukan kehancuran peradaban.
Sebab pada akhirnya, sehebat apa pun kecerdasan buatan merajai masa depan, ia hanyalah bayangan dari akal manusia yang fana.
Dan hanya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, segala keperkasaan akal bertekuk lutut dalam kepasrahan yang sejati.
Ditulis : H. Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab.Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretaris Info & Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN, Motivator Literasi & Edukasi, Konten Kreator, Bisnis Owner, Coach)
Posting Komentar
Komentar ya