Dari Masjid ke Masjid: Menjemput Berkah Langit dalam Safar Ruhani
Bismillah...
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali terasa berjalan tanpa kompas, manakala hari libur tiba, langkah kaki seorang musafir terpanggil untuk menepi.
Menepi bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk kembali pulang menemukan ketenangan jiwa di rumah-rumah Sang Pencipta.
Sebab, di atas pundak setiap lelaki yang telah baligh, terpikul sebuah kewajiban mulia untuk memakmurkan masjid, meramaikan barisan sujud, dan mengikatkan hati pada keagungan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18)
Jejak Safar: Menyapa Baitullah di Bumi Kuantan
Hari libur ini menjadi saksi sebuah perjalanan spiritual (safar). Perjalanan yang dirajut bukan demi mengejar megahnya dunia, melainkan demi menjemput titisan berkah dari langit.
Zuhur yang Menyejukkan: Langkah awal dimulai di Masjid Makkah Simpang Tiga Kelurahan, Kuantan Tengah. Di bawah naungan kubah dan pilar-pilar yang kokoh, hati bersimpuh meredakan kepenatan.
Ashar yang Menenangkan: Perjalanan berlanjut ke Masjid Raya Pasar Taluk Kuantan, Jalan Imam Bonjol. Menjelang sore, di antara barisan jamaah yang khusyuk, jiwa kembali diingatkan akan arti kebersamaan dalam ketaatan.
Menyongsong Magrib dan Isya: Insya Allah, langkah kaki ini akan terus mengalir, menyapa masjid-masjid di sekitar Kota Teluk Kuantan hingga malam menyapa.
Impian ini bukanlah hal baru. Sejak puluhan tahun silam, sekembalinya dari Tanah Suci usai menunaikan ibadah Haji dan Umrah, tersimpan sebuah mimpi suci di dalam dada:
mengunjungi 1,000 masjid, baik di bumi
Nusantara maupun penjuru dunia.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memudahkan, melancarkan, dan meridhai langkah kecil ini. Aamiin Allahumma Aamiin.
Masjid: Pusat Peradaban dan Ketenangan Jiwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan teladan agung. Masjid bukan sekadar tempat menegakkan shalat, melainkan pusat peradaban tempat bersemainya komunikasi yang tulus, eratnya silaturahmi, denyut nadi ekonomi umat, hingga pusat penyelesaian urusan kehidupan.
Ketika dunia penuh dengan persoalan pelik yang akal manusia seakan buntu menyelesaikannya, masjid adalah dermaga pelabuhan.
Tempat di mana dahi diletakkan lebih rendah dari hati, berserah diri seutuhnya kepada Zat yang Maha Mengatur semesta.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tentang keutamaan orang yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid:
"Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-arsko-Nya (pada hari kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... (salah satunya) seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mari Makmurkan Rumah Allah
Masjid adalah oase suci, tempat di mana debu-debu dosa dibasuh oleh air wudhu dan linangan air mata taubat.
Ketika lisan, mata, hati, dan raga pernah salah melangkah dan khilaf pada sesama, di sanalah tempat terbaik untuk kembali merendahkan diri di hadapan Sang Maha Pengampun.
"Ayo makmurkan masjid! Ayo menjaga agama Allah!"
Semoga setiap langkah kita menuju masjid bernilai pahala yang agung, menghapuskan dosa, dan mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
Allah Maha Besar.
Barakallahu fiik.
Salam ukhuwah penuh cinta dari hamba yang dhaif,
Pemakmur Masjid (Rumah Allah)
H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
Posting Komentar
Komentar ya