Menyalakan Pelita Pertiwi: Sumpah Pemuda, Cinta Bangga Paham Rupiah, dan Ikhtiar Membangun Peradaban Bangsa
Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(SMAN 1 Sentajo Raya Kab. Kuansing, Riau / Fasda CBP Rupiah BGTK Provinsi Riau dan BI Riau)
Pendahuluan: Gema Sumpah yang Tak Pernah Padam
Ketika sang saka Merah Putih berkibar di angkasa, beriring fajar menyingsing di ufuk timur, ingatan kita kembali tertambat pada sebuah peristiwa monumental: 28 Oktober 1928. Ikrar suci para pemuda dari berbagai penjuru nusantara ;
Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Bukanlah sekadar deretan kata yang terukir di atas kertas sejarah. Ia adalah mantera kebangkitan, denyut nadi yang menghidupkan tekad kolektif untuk meruntuhkan tembok-tembok perbedaan demi sebuah cita-cita luhur bernama Indonesia.
Hari ini, di era modern yang penuh gelombang disrupsi, esensi Sumpah Pemuda bertransformasi menjadi panggilan jiwa yang berbeda namun selaras.
Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari; mereka yang memikul estafet peradaban, merawat asa, dan menjaga kedaulatan Ibu Pertiwi tidak hanya dengan bambu runcing, tetapi dengan kesadaran intelektual, kecintaan kultural, dan integritas finansial yang kokoh.
Salah satu manifestasi nyata dari cinta tanah air di era kontemporer ini dapat kita temukan melalui gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.
Menyelami Makna Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah dalam Perspektif Islam
Sebagai bangsa yang religius, setiap langkah kecintaan kita kepada tanah air tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai ilahiah.
Islam mengajarkan bahwa menjaga kemaslahatan umat, mengelola harta dengan amanah, serta mencintai negeri tempat kita bernaung adalah bagian dari manifestasi iman.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hasyr ayat 7:
"...Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu..." (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini memberikan isyarat mendalam tentang pentingnya perputaran ekonomi yang berkeadilan, stabilitas moneter, dan kedaulatan finansial di dalam sebuah negara.
Rupiah bukan sebatas alat tukar sah yang berpindah dari tangan ke tangan; lebih dari itu, Rupiah adalah lambang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang di dalamnya disandingkan gambar pahlawan, kekayaan budaya, dan simbol-simbol kebangsaan.
Rasulullah SAW juga senantiasa mengajarkan kejujuran, kecermatan, dan tanggung jawab dalam bermuamalah (ekonomi). Hadis Nabi SAW mengingatkan kita:
"Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik..."
(HR. Muslim)
Menjaga fisik Rupiah agar tidak terlipat, tidak dicoret, tidak distaples, dan tidak diremas adalah wujud nyata dari akhlak mulia dalam memperlakukan simbol negara sekaligus bentuk pengamalan nilai Cinta Rupiah.
Sumpah Pemuda dan Kedaulatan Ekonomi: Merajut Asa Melalui Gerakan CBP Rupiah
Keterkaitan antara semangat Sumpah Pemuda dan kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah sangatlah erat.
Jika para pemuda tahun 1928 menyatukan tekad lewat bahasa dan tanah air, maka pemuda masa kini menyatukan kedaulatan bangsa melalui kemandirian ekonomi.
Cinta Rupiah: Diwujudkan dengan mengenali, merawat, dan memperlakukan rupiah dengan penuh khidmat.
Merawat rupiah sama artinya dengan merawat kehormatan bangsa. Pantang bagi generasi muda merendahkan simbol kedaulatan negaranya sendiri.
Bangga Rupiah: Merupakan wujud kesadaran bahwa Rupiah bukan sekadar lembaran kertas atau logam, tetapi simbol kedaulatan yang sah di bumi pertiwi.
Menggunakan Rupiah di setiap transaksi di wilayah NKRI adalah bentuk kebanggaan identitas nasional di tengah gempuran mata uang asing.
Paham Rupiah: Mengajak pemuda untuk cerdas mengelola keuangan, membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want), serta bijak berbelanja dan berinvestasi demi masa depan bangsa yang berkelanjutan.
Sebagaimana pesan yang terpancar dalam semangat kepemudaan, bangkit, berkarya, dan membawa Indonesia mendunia hanya dapat terwujud jika fondasi ekonomi domestik kita berdiri di atas kaki sendiri, dikelola oleh tangan-tangan terampil generasi muda yang cerdas finansial.
Penutup: Menyalakan Obor Perubahan dari Kuansing untuk Indonesia
Dari bumi Riau tercinta, gelora semangat Sumpah Pemuda harus terus dinyalakan.
Perjalanan bangsa ini ke depan sangat ditentukan oleh seberapa besar kepedulian generasi muda kita dalam merawat nasionalisme.
Tidak hanya dalam bentuk retorika, tetapi juga dalam tindakan nyata sehari-hari termasuk dalam mengelola dan mencintai Rupiah kita.
Mari kita jadikan momentum Hari Sumpah Pemuda ini sebagai titik balik untuk memperkuat barisan, merajut persatuan dalam keberagaman budaya.
Serta meneguhkan kedaulatan bangsa melalui gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Semoga ikhtiar kecil kita bernilai ibadah di sisi Allah SWT dan mampu mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, mandiri, dan mendunia.
Barakallahu fiikum.
Dirgahayu Sumpah Pemuda!