Welcome My Blog

Coach RR

Mahkota yang Rapuh: Menenun Kebaikan di Balik Fana Sebuah Jabatan

"Kekuatan jabatan itu rapuh. Hari ini dipuji, besok diganti. Yang kokoh hanyalah caramu memperlakukan orang. Dan itu satu-satunya hal yang tidak bisa dicopot."
— Coach RR (Ronaldo Rozalino)

Bismillah. Dunia kerap kali berputar dalam panggung megah ilusi. Manusia berlomba-lomba menaiki tangga kekuasaan, mengejar kedudukan, dan memburu sanjungan.

Padahal, jika direnungkan dengan mata hati yang jernih, jabatan bukanlah sebuah puncak keabadian, ia hanyalah titipan angin.

Hari ini kita berdiri di atas kursi kehormatan dengan limpahan wewenang, namun esok lusa, waktu bisa saja melipatnya menjadi kenangan.

Pesan bijak yang dapat direfleksikan : 

“Jabatan itu hanya sementara. Hari ini kita dipercaya, besok bisa saja digantikan. Hari ini dipuji, besok mungkin sudah dilupakan.”


Rapuhnya Singgasana Dunia di Hadapan Sang Pencipta
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan dan jabatan bukanlah sebuah kebanggaan untuk menyombongkan diri, melainkan sebuah amanah berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Kekuasaan duniawi sangatlah fana, ibarat bayang-bayang senja yang perlahan memudar.

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana beliau bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat yang bergetar di lubuk jiwa, bahwa sekecil apapun kursi kekuasaan atau posisi yang kita miliki di dunia ini, ia memiliki batas akhir.

Kursi itu akan tanggal, atribut kebesaran akan dilepas, dan segala bentuk pujian manusia akan sirna ditelan masa.

Jejak Kebaikan: Warisan Abadi yang Tak Bisa Dicopot
Ketika raga tak lagi menduduki singgasana jabatan, apa yang sebenarnya tertinggal?
Apakah megahnya ruangan kerja?
Apakah deretan gelar yang disematkan di belakang nama?
Tentu bukan.

Kekuatan jabatan sangatlah rapuh, dan yang kokoh hanyalah cara kita memperlakukan sesama manusia.

Perilaku mulia, tutur kata yang menyejukkan, serta tangan yang senantiasa terulur untuk meringankan beban orang lain adalah mutiara sejati yang tidak akan pernah bisa dicopot oleh kekuasaan manapun.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Insan ayat 8-9 mengenai sifat orang-orang beriman yang ikhlas berbuat baik kepada sesama:

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih'." (QS. Al-Insan: 8-9)

Ayat ini mengajarkan kita esensi kepemimpinan yang sejati: menggunakan posisi dan kelebihan bukan untuk menindas atau menekan, melainkan untuk mengayomi, melindungi, dan menebar manfaat seluas-luasnya.

Menjadi Pemimpin yang Dirindukan Kehadirannya
Jangan pernah menjadikan jabatan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain.

Sebab di hadapan-Nya, kemuliaan seseorang bukan dinilai dari seberapa tinggi jabatannya, melainkan dari ketakwaannya.

Gunakanlah wewenang yang ada di tangan hari ini untuk menanam benih-benih kebaikan.

Karena ketika masa jabatan itu usai, orang-orang tidak akan mengenang seberapa ditakutinya kita, melainkan seberapa besar kasih sayang dan ketulusan yang pernah kita berikan kepada mereka.

Jadilah pemimpin dan insan yang ketika jabatannya telah selesai, namanya tetap harum mewangi di hati sesama, dikenang karena keluhuran budinya, serta meninggalkan jejak cahaya yang menerangi jalan bagi orang-orang di sekitar kita.
(Ronaldo Rozalino - Coach RR) 

0 Responses

Posting Komentar

Komentar ya

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777