Ketika Topeng Itu Lepas: Realitas Pensiun dan Hakikat Hubungan dalam Timbangan Islam
Panggung Kekuasaan yang Berakhir
Bismillah. Dunia ibarat sebuah panggung teater besar, di mana manusia memainkan berbagai peran. Ada yang ditakdirkan duduk di kursi kepemimpinan, memegang kendali kewenangan, dan dikelilingi oleh fasilitas serta sanjungan.
Namun, sebesar apapun megahnya panggung itu, setiap babak pasti akan menemui kata akhir.
Ketika masa jabatan usai dan kursi kekuasaan beralih tangan, sebuah kenyataan yang sering kali mengejutkan pun tersingkap: keramaian mendadak menjadi sunyi, dering telepon berangsur mati, dan orang-orang yang dulu setia mendampingi perlahan-lahan pergi.
Fenomena ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang ketulusan yang sesungguhnya.
Lantas, bagaimana Islam memandang dinamika sosial ketika seseorang kehilangan kedudukan, dan apa petunjuk dari Al-Qur'an serta Hadis dalam menyikapi hubungan antarmanusia yang kerap diuji oleh kepentingan duniawi?
1. Realitas Semu: Ketika Manusia Mencintai Jabatan, Bukan Pribadi
Sebagaimana digambarkan dalam narasi dan ilustrasi yang ada, masa-masa kejayaan sering kali menipu.
Saat seseorang memiliki kuasa, mudah sekali baginya menarik perhatian publik. Sanjungan datang bertubi-tubi, dan keramahan palsu bertebaran di mana-mana.
Namun, Islam jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa ikatan persahabatan yang tidak didasari oleh ketulusan karena Allah SWT kelak akan berbalik menjadi permusuhan atau kekecewaan di kemudian hari.
Al-Qur'an merekam bagaimana hubungan yang hanya berporos pada keuntungan duniawi akan rapuh ketika kepentingan itu hilang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 28-29:
"Wailata laaitan lam attakhiz fulanan khalila. Laqad adallani 'aniz-zikri ba'da iz jaani, wa kaana syaitanu lil-insani khuzula."
Artinya: "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan syaitan itu adalah pembiar manusia (tidak mau menolong)."
(QS. Al-Furqan: 28-29)
Ayat ini menggambarkan penyesalan seseorang yang semasa hidupnya salah memilih teman yakni mereka yang mendekat hanya karena status, kekuasaan, atau keuntungan dunia, dan meninggalkan saudaranya saat kesusahan atau ketika kekuasaan itu lenyap.
2. Ujian Keikhlasan dan Hakikat Persahabatan Sejati
Pensiun atau berakhirnya masa jabatan sejatinya adalah sebuah "saringan alami" (natural filter).
Di sinilah topeng-topeng kepalsuan terlepas. Orang yang tulus akan tetap hadir membawa senyum dan kepedulian, sementara mereka yang bermotif pamrih akan mencari panggung baru di tempat lain.
Rasulullah SAW memberikan teladan agung mengenai bagaimana membina hubungan yang bersih dari kepentingan material.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan tentang golongan orang yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya adalah:
"Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa persahabatan yang kokoh adalah persahabatan yang dibangun atas dasar keimanan dan kecintaan kepada Allah, bukan karena jabatan, harta, ataupun popularitas yang melekat pada diri seseorang.
3. Ketenangan Hati di Masa Pensiun: Kekayaan yang Sesungguhnya
Kehilangan jabatan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari fase kehidupan yang lebih tenang untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Ketika manusia berhenti mengejar pengakuan makhluk, di situlah ia menemukan kemerdekaan jiwa yang seutuhnya.
Rasulullah SAW bersabda mengenai hakikat kekayaan hati:
"Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati yang qana'ah)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika jabatan berakhir dan rumah mulai sepi dari tamu-tamu yang hanya mencari kepentingan, manfaatkan kesunyian tersebut untuk memperbanyak ibadah, merajut kembali hubungan yang harmonis dengan keluarga inti, serta mensyukuri sisa usia dengan ketulusan hati.
Evaluasi Diri dan Hikmah Kehidupan
Pada akhirnya, apa yang disampaikan oleh penulis dalam pesan inspiratifnya sejalan dengan nilai-nilai Islam: bahwa kekuasaan bersifat sementara, tetapi amal dan ketulusan hati akan abadi.
Jangan bersedih jika hari ini keramaian itu surut. Anggaplah itu sebagai cara Allah menyaring orang-orang terbaik di sekitar kita, sekaligus membebaskan kita dari beban ilusi kepalsuan dunia.
Tetaplah menjadi pribadi yang bermanfaat, rendah hati, dan gantungkan segala Harapan hanya kepada Allah SWT, Zat yang tidak pernah "pensiun" dari mendengarkan hamba-hamba-Nya.
“Karena ketika kekuasaan dan jabatanmu habis, topeng sebagian orang akan ikut terlepas, namun kemuliaan di hadapan Allah justru diukur dari sebersih apa hatinya.”
Penulis:
Ronaldo Rozalino - Coach RR
Teacherpreneur • Writer • Motivator Literation & Education • Content Creator • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach
Media Sosial Digital:
WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site : s.id/RonaldoRozalino
Posting Komentar
Komentar ya